CERITA ASLI
The Murders in the Rue Morgue
Edgar Allan Poe Graham’s Magazine 1841
PENERJEMAH:
KaharDp
PENYUNTING
Ika Inayati
DESAIN ISI:
Naratungga Indit P
Diterbitkan Oleh
Sanggar Sastra Smaramuruhita
Semarang, 2023
14.2 x 20.3
iv+37
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ………………………………………………………………………………………….. i
PENGANTAR …………………………………………..……………………………………………..iii
BAGIAN I ……………………………………………………………………………………………… 1
BAGIAN II …………………………………………………………………………………………….. 7
BAGIAN III ………………………………………………………………………………………….. 13
BAGIAN IV …………………………………………………………………………………………. 19
BAGIAN V …………………………………………………………………………………………… 25
BAGIAN VI …………………………………………………………………………………………. 27
Pembunuhan di Jalan Rue Morgue
The Murders in the Rue Morgue
Edgar Allan Poe Graham’s Magazine 1841
P E M B U N U H A N D I JALAN R U E M O R G U E
ii
E D G A R A L L A N P O E
iii
P E N G A N T A R P E N E R J E M A H
Karya-karya Edgar Allan Poe, penyair, cerpenis, editor, kritikus dan
salah satu pemimpin gerakan romantisme Amerika, yang terkenal
karena muatan giris dan ngeri (macabre) acapkali mengundang
kerinduan dan kecanduan, meski terkadang memabukkan. Kilah
sedemikianlah yang mendorong penerjemah berupaya menampilkan
salah satu karya Poe, The Murders in the Rue Morgue kepada pembaca.
Semoga karya terjemahan ini dapat menyuguhkan cita rasa berbeda
dari terjemahan-terjemahan yang telah ada.
Selamat membaca!
Semarang, 2023
Penerjemah
P E M B U N U H A N D I JALAN R U E M O R G U E
iv
Dilahirkan dengan nama Edgar Poe di Boston, Massachusets, Poe adalah anak kedua dari aktor David dan Eliza Poe.[2] Ayahnya meninggalkan keluarga tersebut pada tahun 1810, dan ibunya pun meninggal setahun kemudian. Poe kemudian diambil oleh John dan Frances Allan yang berasal dari Richmond, Virginia. Mereka tidak pernah mengadopsi Poe secara resmi, tapi tetap merawatnya dengan baik hingga dewasa. Ketegangan muncul antara John Allan dan Edgar Poe terkait hutang yang muncul karena judi dan biaya sekolah. Poe adalah penulis Amerika Serikat pertama yang mendapat pemasukan hanya dari menulis. Karenanya, kondisi finansial dan kariernya pun menghadapi banyak kendala. Poe meninggal pada usia 40 tahun karena sebab-sebab yang kurang jelas, terutama diduga karena alkohol, obat bius, kolera, rabies dan hal-hal lain. Ia mendapat pengakuan atas kontribusinya pada genre cerita fiksi ilmiah.[1] (19 Januari 1809 – 7 Oktober 1849).
BAGIAN
I
PARIS, musim panas tahun 1840. Di kota itulah pertama kali aku bertemu dengan seorang anak muda yang garib sekaligus menarik, August Dupin namanya. Dupin adalah satu-satunya anggota keluarga yang tersisa dari sebuah keluarga yang terpandang, sebuah keluarga yang dahulu kaya raya. Namun, ia sendiri jauh dari gambaran seseorang yang berada. Ia tak terlampau peduli kepada uang. Ia hanya membeli barang-barang yang paling penting saja, dan beberapa buah buku. Barang-barang lain tak terlalu ia hiraukan. Hanya buku, dan bersamanya ia merasa bahagia. Kali pertama perjumpaanku dengannya adalah di saat kami mencari buku yang sama. Sebuah buku yang tak banyak orang tahu. Karenanya kami mengunjungi sebuah toko buku tua.
P E M B U N U H A N D I JALAN R U E M O R G U E
2
Lantas pada kesempatan berbeda kami berjumpa kembali di toko yang sama. Kemudian kami berjumpa lagi di toko yang berbeda. Tak lama waktu berselang kami memulai tegur sapa.
Aku amat terkesan dengan apa yang ia ceritakan, yakni perihal riwayat keluarganya. Aku juga terkesiap mengetahui begitu banyak buku yang telah ia baca. Dan yang lebih mencengangkan lagi, daya pikirnya yang ripuh ibarat cahaya terang di jiwaku. Aku rasa pertemanan dengan pemuda seperti dirinya sangat berarti bagiku. Karena itu pula aku mengutarakan kesan-kesanku terhadap dirinya. Selepas itu ia sepakat untuk tinggal di rumahku. Aku pikir ia akan senang berkesempatan membaca pusparagam buku-buku bagus milikku. Dan aku juga akan berlapang dada memiliki kawan yang berkenan tinggal denganku.
Kami melewati hari-hari dengan membaca, menulis, dan bercengkerama. Dupin adalah seorang pecinta malam, acapkali di malam hari kami berdua menyusuri jalan-jalan di kota Paris dengan hanya mengandalkan kerlip bintang sebagai penunjuk jalan. Terkadang ia melempar sepatah dua patah kata, kadang diam seribu bahasa, tetapi ia tak berhenti berpikir.
Dalam waktu singkat aku menyadari bahwa ia memiliki daya penalaran yang istimewa, kecakapan bernalar yang luar biasa. Berpikir menyuguhkan kesenangan tersendiri bagi dirinya. Diiringi tawa ringan ia pernah berkata padaku, kebanyakan lelaki memiliki jendela di atas hati mereka, melalui jendela itu mereka bisa mengamati jiwa mereka yang terdalam. Kemudian ia membuatku terperangah saat ia menceritakan isi hatiku yang dapat ia baca; dan aku percaya ia tahu banyak hal mengenai diriku. Apa yang selama ini kuyakini hanya diriku seorang yang dapat mengetahuinya. Akhir-akhir ini ia bersikap acuh dan suka menyendiri. Seringkali tatapan matanya kosong. Di saat seperti itu aku rasa diriku tidak hanya melihat seorang Dupin, tetapi dua sosok Dupin yang berbeda. Satu sosok acuh yang menyatukan mereka dan satu sosok lain, yang juga acuh, menceraikan keduanya.
Suatu malam kami menyusuri salah satu jalan kumuh di kota Paris. Kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Sekira lima belas menit tak satu pun dari kami mengujar kata. Sepertinya kami sudah saling melupakan meski saling
E D G A R A L L A N P O E
3
berdekatan. Namun dalam waktu singkat aku segera sadar bahwa Dupin tidak melupakan diriku. Tiba-tiba ia berkata, memecah keheningan:
“Kau benar. Ia sangat menarik dan ia akan lebih berhasil jika bermain peran dalam drama ringan.”
“Ya, tak diragukan lagi!” timpalku.
Awalnya aku tak menangkap keanehan dalam perbincangan pendek itu. Dupin bersetuju denganku, dengan pemikiranku. Semula hal itu kuanggap biasa saja. Sembari terus berjalan dan merenung tiba-tiba aku sadar bahwa Dupin telah menyetujui sesuatu hal yang hanya ada di dalam benakku. Aku tak dapat berkata-kata. Aku menghentikan langkah dan membalikkan badan, menghadap ke arahnya. “Dupin,” ujarku, “Dupin, ini di luar pemahamanku. Bagaimana mungkin kau tahu jika aku sedang memikirkan….” Sampai di situ mulutku berhenti berkata-kata, mencoba untuk mengujinya, mencari tahu apakah ia benar-benar memahami isi hatiku yang tak terlisankan.
“Bagaimana aku tahu jika kau tengah memikirkan Chantilly? Mengapa pertanyaanmu tak kau selesaikan? Kau pikir Chantilly terlalu mungil untuk bermain peran dalam beberapa drama yang telah ia mainkan.”
“Ya, memang itu yang aku pikirkan. Demi Tuhan, katakan padaku, bagaimana caramu bisa mengetahui isi hatiku.”
“Penjaja buah itu.”
“Penjaja buah? Apa maksudmu?”
“Maksudku pria yang tadi menabrakmu—mungkin sepuluh atau lima belas menit yang lalu, atau bahkan lebih awal dari itu.”
“Ya, benar. Sekarang aku ingat. Seorang penjual buah yang menyunggi sekeranjang apel di atas kepalanya hampir membuatku terjerembab. Tapi aku tak mengerti bagaimana seorang penjual buah dapat membuatku memikirkan Chantilly. Jika itu benar, bagaimana kau bisa tahu?”
“Baiklah, akan aku jelaskan. Dengarkan baik-baik:
“Mari kita ikuti alur pikiranmu yang berawal dari penjual buah lalu seorang aktor drama, Chantilly. Pikiranmu pasti memiliki alur seperti ini: dari penjual buah beranjak ke batu
P E M B U N U H A N D I JALAN R U E M O R G U E
4
kobel, dari batu kobel beralih ke stereotomi1, dan dari stereotomi menuju Epikuros2, Orion3, dan kemudian bertambat pada Chantilly.
“Di awal penelusuran kita di atas jalan ini, ada seorang penjual buah berjalan tergesa dan mencoba mendahului kita. Ia menabrakmu dari belakang dan memaksamu menyampuk batu kobel yang belum tertata rapi dan aku lihat kakimu terluka. Kau melontarkan sumpah serapah kepada diri sendiri, tetapi kau terus berlalu. Selepas itu kau terus saja melihat ke bawah, pandangan matamu tak lepas dari bebatuan yang terhampar di jalan. Dari situlah aku tahu kau masih memikirkan batu.
“Kemudian kita sampai di jalan sempit tempat para pekerja jalan melonggokkan batu yang telah mereka potong dengan cara khusus, cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Di tempat itu wajahmu berbinar dan aku lihat bibirmu bergerak-gerak. Aku yakin saat itu kau ingin mengucapkan kata stereotomi, sebuah cara baru dalam dunia pemotongan batu. Kata yang aneh, bukan? Kau mengingat sebuah kata baru yang telah kita baca di surat kabar. Baru kemarin kita membacanya. Aku pikir kata stereotomi membuatmu berpikir pula tentang seorang filsuf Yunani Kuno yang bernama Epikuros. Ia adalah seseorang yang menemukan sesuatu yang ia sebut sebagai atom, dan ia percaya bahwa dunia dan segala sesuatu di alam semesta tersusun dari atom.
“Belum lama ini kita memperbincangkan Epikuros dan gagasan-gagasannya, termasuk gagasan mengenai atom yang ia tulis lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Kita juga bercengkerama perihal gagasan-gagasan lama yang menyerupai gagasan kekinian. Gagasan mengenai bumi, bintang, dan langit. Aku yakin kau akan mendongak ke arah langit. Tadi aku yakin bahwa aku telah mengikuti jalan pikiranmu sebagaimana jalan pikiranmu sendiri memasuki sanubarimu. Aku juga menengadah dan memandangi gugus bintang yang kita sebut sebagai rasi Orion. Malam ini gugus bintang itu terlihat sangat terang. Aku tahu kau
1 seni dan ilmu memotong benda padat tiga dimensi menjadi bentuk tertentu
2 filsuf Yunani Kuno penemu atom
3 gugus bintang Waluku
E D G A R A L L A N P O E
5
akan memperhatikan gugus bintang itu, dan merenungkan sebuah nama, Orion.
“Kini ikuti jalan pikiranku dengan saksama. Baru kemarin di surat kabar yang kita baca tersaji artikel yang mengulas seorang actor yang bernama Chantilly. Artikel itu sungguh tak ramah kepadanya, tidaklah santun. Kita tahu si penulis artikel menggunakan beberapa kata yang ia kutip dari sebuah buku yang sama-sama telah kita baca. Kata-kata itu bersangkut paut dengan gugus bintang Orion. Jadi aku tahu kau akan menyatukan dua gagasan, yakni Orion dan Chantilly. Tadi aku lihat kau tersenyum, mengingat kembali artikel itu dan kata-kata pedas di dalamnya”.
“Lalu aku melihat dirimu mencoba menegakkan badan. Aku yakin kau membayangkan perawakan Chantily, yang bertubuh kecil dan pendek. Jadi dapat aku katakan bahwa ia akan lebih berhasil jika bermain peran dalam lakon yang lebih ringan”.
Melampaui terkejut, aku terperanjat dan terheran. Dupin benar, sebagaimana biasanya, semua itu memang hanya ada di dalam pikiranku, di dalam akal budiku yang tak terkatakan.
Suatu pagi pemuda yang menakjubkan itu menunjukkan kepadaku daya penalaran yang luar biasa. Kami membaca berita tentang pembunuhan seorang wanita tua oleh orang tak dikenal. Si pembunuh, atau mungkin para pembunuh, telah memenggal lehernya—dan mengirap di kegelapan malam. Siapakah pelakunya, pembunuh wanita tua yang malang itu? Polisi tak mampu mengungkap peristiwa itu. Mereka tak tahu harus kemana lagi mencari petunjuk hingga akhirnya mereka memilih untuk berdiam diri.
Tapi tidak dengan Dupin. Dia tahu apa yang harus ia lakukan.
P E M B U N U H A N D I JALAN R U E M O R G U E
6
E D G A R A L L A N P O E
7
BAGIAN
II
Di kota Paris, musim panas tahun 1840, aku bertemu August Dupin. Ia adalah sosok pemuda sangat menarik dengan daya penalaran yang luar biasa. Daya bernalar yang sepertinya mampu menembus tubuh seseorang menuju benaknya, mengungkap isi hati yang terdalam. Terkadang ia terlihat seperti dua sosok dalam satu tubuh, sosok acuh yang menyatukan dan sosok acuh mengasingkan.
Satu pagi di musim panas, Dupin kembali menunjukkan kepadaku daya penalaran yang istimewa. Kami membaca berita di surat kabar tentang
P E M B U N U H A N D I JALAN R U E M O R G U E
8
pembunuhan yang mengerikan, pembunuhan seorang wanita tua dan putrinya yang tinggal di sebuah rumah tua di jalan Rue Morgue. Mereka berdua terbunuh pada tengah malam:
Paris, 7 Juli 1840. Pagi buta warga di bagian barat kota terjaga oleh jeritan yang mengerikan, diyakini berasal dari sebuah rumah tua di Jalan Rue Morgue. Dua orang yang tinggal di rumah itu adalah seorang wanita tua yang bernama Nyonya L’Espanaye beserta putrinya. Beberapa warga dan seorang polisi berlari menuju rumah itu, tetapi pada saat mereka sampai di sana, suara itu tak terdengar lagi. Setelah tak ada seorang pun yang menjawab panggilan warga, mereka membuka pintu secara paksa.
Saat mereka menerobos masuk, mereka mendengar suara, dua macam suara yang berasal dari lantai atas. Mereka bergegas mencari sumber suara dari satu ruang ke ruang lainnya. Namun, mereka tak menemukan apa-apa hingga mereka sampai di lantai empat. Di sana mereka menemukan pintu yang tertutup rapat dan terkunci dari dalam. Dengan cepat mereka mendobrak pintu dan mereka melihat darah berceceran di tempat kejadian — sungguh mengerikan!
Ruangan itu dalam keadaan berantakan – kursi dan meja tergelimpang di penjuru ruangan. Hanya ada satu tempat tidur di ruangan itu. Semua barang yang semestinya berada di atas tempat tidur telah bertebaran di lantai. Darah berceceran di mana-mana; di lantai, tempat tidur, dan dinding. Sebilah pisau berlumuran darah tergeletak di lantai. Di depan perapian terdapat beberapa helai uban panjang dan serpihan kulit berlumur darah, mungkin dicabut paksa dari kepala manusia. Tergolek di lantai empat keping emas, sebuah anting, beberapa benda yang terbuat dari perak, dan dua tas berisi koin emas. Beberapa potong pakaian berserakan. Sebuah kotak
E D G A R A L L A N P O E
9
dalam keadaan terbuka teronggok di lantai, di dalamnya terdapat beberapa surat dan kertas-kertas tua.
Mereka tak menemukan seorang pun di sana. Namun di atas perapian mereka menemukan mayat sang anak; mayat itu dijejalkan pada saluran terbuka tempat keluar asap. Mayat itu masih hangat, di wajahnya terdapat bercak darah, kulit lehernya membiru, mungkin diakibatkan oleh cengkeraman jemari yang sangat kuat. Tikas-tikas itu bisa jadi memberi petunjuk bagaimana sang anak dibunuh.
Selepas menggeledah setiap bagian rumah tanpa menemukan petunjuk tambahan, mereka keluar. Di samping rumah mereka menemukan mayat sang wanita tua. Lehernya hampir terputus, dan ketika mereka mencoba mengangkat tubuhnya, kepalanya terlepas jatuh ke tanah.
Keesokan harinya surat kabar menyajikan fakta-fakta baru kepada para pembaca:
Pembunuhan di Jalan Rue Morgue —Paris, 8 Juli 1840. Polisi telah menggali keterangan dari beberapa warga mengenai peristiwa pembunuhan yang mengerikan di rumah tua di Jalan Rue Morgue tetapi belum menemukan petunjuk siapa pelakunya.
Pauline Dubourg, seorang tukang cuci, mengatakan bahwa ia mengenal kedua korban selama lebih dari tiga tahun, dan ia sering mencuci pakaian mereka selama kurun waktu itu. Wanita tua dan putrinya tersebut selalu memberi imbalan jasa yang memadai kepadanya. Ia tak tahu dari mana mereka menghasilkan uang, ujarnya. Ia tak pernah bertemu siapa pun di rumah itu, hanya dua orang wanita yang
P E M B U N U H A N D I JALAN R U E M O R G U E
10
tinggal di lantai empat.
Pierre Moreau, seorang penjaga toko, mengatakan bahwa selama hampir empat tahun Ny. L’Espanaye selalu membeli makanan di tokonya. Ny. L’Espanaye membeli rumah itu dan mendiaminya selama lebih dari enam tahun. Orang bilang mereka orang berada. Ia tak pernah melihat siapa pun memasuki rumah itu kecuali Ny. L’Espanaye dan putrinya, dan mungkin delapan atau sepuluh kali seorang dokter mengunjungi rumah itu.
Para warga, tetangga Ny. L’Espanaye, mengatakan hal serupa. Hampir tak ada orang yang masuk ke rumah itu dan Mrs. L’Espanaye serta putrinya juga jarang terlihat keluar rumah.
Jules Mignaud, seorang pegawai bank, mengatakan bahwa Ny. L’Espanaye menyimpan uang di bank tempat ia bekerja sejak delapan tahun yang lalu. Tiga hari sebelum kematiannya, Ny. L’Espanaye menarik uang dari bank dalam jumlah besar, kesemuanya dalam bentuk koin emas. Seorang pegawai bank membantu membawakan tabungannya ke rumah.
Isidore Muset, seorang polisi, mengatakan bahwa ia orang yang terdepan saat memasuki rumah. Saat ia menaiki tangga ia mendengar dua macam suara, satu suara bernada rendah dan lirih, dan suara lain lantang, melengking dan sangat aneh. Suara yang kedua dapat dipastikan bukan suara orang Perancis, lebih menyerupai suara orang asing, mungkin orang Spanyol. Suara itu juga bukan suara wanita. Ia tak memahami apa arti perkataan yang dihasilkan oleh suara itu. Tapi suara yang bernada rendah, terdengar jelas menggunakan bahasa bahasa Perancis, “Oh Tuhan!”
Alfonso Garcia, orang Spanyol dan tinggal di Jalan Rue
E D G A R A L L A N P O E
11
Morgue, mengatakan bahwa ia ikut memasuki rumah tetapi tak melewati tangga. Saat itu ia gugup dan ia takut. Ia mendengar suara-suara itu. Ia yakin suara lantang dan melengking bukan suara orang Perancis. Ia menduga suara itu menuturkan perkataan dalam bahasa Inggris, sayangnya ia tak mengerti bahasa Inggris sehingga ia tak begitu yakin akan hal itu.
William Bird, seorang warga asing yang lain, mengatakan bahwa ia adalah salah satu warga yang pernah masuk ke dalam rumah itu. Ia berasal dari Inggris dan telah tinggal di Paris selama dua tahun. Ia turut mendengar suara-suara itu. Suara bernada rendah ia Yakini sebgai suara orang Perancis. Ia sangat yakin karena perkataan yang ia dengar dalam bahasa Perancis, “Ya Tuhan!” Sedangkan suara yang terdengar sangat lantang dan bukan suara orang Inggris atau pun orang Perancis, ia begitu yakin akan hal itu. Ia mengatakan suara itu mungkin suara orang Italia, mungkin juga suara seorang wanita. Namun demikian, ia tak memahami bahasa Italia.
Tuan Alberto Montani, seorang Italia, sedang lewat di depan rumah tua itu saat terdengar teriakan. Ia mengatakan bahwa teriakan itu berlangsung sekitar dua menit, suara melengking dan lantang, sekaligus menakutkan. Montani yang kesehariannya berbicara dengan bahasa Spanyol, bukan bahasa Perancis, mengatakan bahwa ia juga mendengar dua macam suara. Ia mengira kedua suara itu adalah perkataan dalam bahasa Perancis. Namun ia tak dapat mengerti sedikitpun dari kata-kata yang ia dengar.
Semua warga yang pertama kali memasuki rumah itu mengatakan hal yang sama, yakni pintu pada kamar di mana mayat sang anak ditemukan terkunci dari
P E M B U N U H A N D I JALAN R U E M O R G U E
12
dalam. Ketika mereka berhasil mendobrak pintu mereka tak melihat siapa pun di dalam. Dua jendela tertutup rapat dan terkunci dari dalam. Tak ada jalan lain untuk turun kecuali tangga yang digunakan untuk naik ke lantai empat. Mereka mengatakan bahwa saluran terbuka di atas perapian terlalu sempit jika digunakan untuk melarikan diri. Dibutuhkan empat hingga lima orang untuk mengeluarkan tubuh sang anak dari saluran terbuka di atas perapian itu. Penelusuran fakta kejadian dilakukan di seluruh sudut rumah. Empat hingga lima menit sejak orang-orang mendengar suara-suara itu hingga saat mereka mendobrak pintu kamar.
Paul Dumas, seorang dokter, mengatakan bahwa ia dipanggil untuk memeriksa mayat segera setelah kedua mayat itu diketemukan. Keduanya dalam keadaan yang mengenaskan, berlumur darah, dan bercalar-calar. Perbuatan keji seperti itu tidak mungkin dilakukan oleh seorang wanita, hanya pelaku yang sangat kuat saja yang dapat melakukannya. Sang anak terbunuh dengan leher lebam yang hanya bisa dilakukan oleh tangan yang perkasa.
Polisi tak mendapatkan petunjuk lanjutan. Pembunuhan misterius semacam ini belum pernah terjadi di kota Paris. Polisi bahkan tak tahu bagaimana cara mengungkapnya.
Setelah kami selesai membaca berita pembunuhan di surat kabar itu, aku dan Dupin tak dapat berkata-kata untuk sekian lama. Namun aku dapat melihat tatapan dingin dan kosong dari kedua matanya yang menandakan bahwa pikirannya tengah sibuk bekerja. Saat ia bertanya bagaimana pendapatku mengenai peristiwa itu, aku hanya bisa menyetujui pendapat sebagian besar warga. Aku katakan peristiwa itu merupakan masalah pelik, sebuah misteri yang sulit untuk diungkap. Tidak, tidak, Dupin mencoba untuk menyangkal.
“Tidak, aku rasa kau salah. Betul, peristiwa ini memang
E D G A R A L L A N P O E
13
sebuah misteri tetapi harus ada jawaban atas misteri ini. Mari kita pergi ke rumah itu dan memeriksa semuanya. Pasti ada jawaban atas semua ini. Pasti ada!”
P E M B U N U H A N D I JALAN R U E M O R G U E
14
E D G A R A L L A N P O E
15
BAGIAN
III
DI KOTA PARIS, DI SANALAH AKU BERJUMPA Dupin August, seorang pemuda dengan daya penalaran yang luar biasa. Daya nalar yang ia miliki seolah dapat menembus tubuh seseorang hingga menyusup ke lubuk hati yang terdalam.
Pada satu pagi di musim panas kami membaca berita di surat kabar tentang pembunuhan yang mengerikan. Korban pembunuhan itu adalah seorang wanita tua dan putrinya yang belum menikah. Mereka tinggal berdua di lantai empat sebuah rumah tua di Jalan Rue Morgue. Seseorang telah mencekik leher sang anak dengan jemari yang sangat kuat hingga hilang nyawa. Mayat sang ibu ditemukan
P E M B U N U H A N D I JALAN R U E M O R G U E
16
di samping rumah dengan leher nyaris terputus. Namun, pisau yang digunakan untuk membunuhnya ditemukan di dalam kamar, tergolek di lantai.
Beberapa warga berdatangan ke rumah itu ketika mereka mendengar jeritan. Saat mereka naik ke lantai empat, mereka mendengar dua macam suara. Namun setelah mereka mendobrak pintu, mereka tak menemukan seseorang yang masih bernyawa. Baik pintu maupun jendela tertutup rapat dan terkunci dari dalam. Tak ada jalan lain yang dapat digunakan si pembunuh untuk melarikan diri.
Polisi Paris tak tahu harus memulai dari mana untuk mengungkap misteri itu. Kepada Dupin aku katakan bahwa tak mungkin menemukan jawaban atas misteri pembunuhan itu.
“Tidak, aku rasa dirimu salah. Betul, peristiwa ini memang sebuah misteri tetapi harus ada jawaban atas misteri ini. Tak sepatutnya kita tergeesa menghakimi sesuatu hal, mungkin dan tidak mungkin, hanya dari apa yang kita baca dari surat kabar. Polisi Paris terbiasa bekerja keras dan seringkali mereka memperoleh petunjuk yang bermakna. Namun, tak ada metode baku dalam pekerjaan mereka. Mereka seringkali gagal ketika menghadapi sesuatu yang sederhana meski telah mengeluarkan seluruh kemampuan terbaik mereka. Terkadang mereka berdiri terlampau dekat dengan sebuah persoalan. Seringkali, jika seseorang mengamati sesuatu dari jarak yang sangat dekat maka ia bisa saja melewatkan keseluruhan bangun atau kerangka.”
“Pasti ada jawaban untuk teka-teki ini! Pasti ada! Mari kita pergi ke rumah itu dan kita amati semua. Aku kenal kepala polisi, dan ia pasti akan mengizinkan kita mengamati rumah itu, dan itu akan sangat mengasyikkan.”
Aku merasa aneh ketika Dupin mengatakan bahwa memeriksa rumah itu akan mengasyikkan. Namun aku hanya diam saja.
Hari menjelang sore ketika kami sampai di rumah itu, di Jalan Rue Morgue. Rumah itu mudah dikenali karena masih banyak orang berdiri berkerumun dan melihat-lihat rumah itu dari kejauhan. Sebelum masuk kami mengitari rumah itu dan Dupin mengamati dengan saksama rumah-rumah yang berdekatan dengan tempat kejadian perkara. Aku tak tahu pasti
E D G A R A L L A N P O E
17
mengapa harus mengamati rumah-rumah itu.
Akhirnya kami menginjakkan kaki di halaman depan dan segera masuk ke dalam rumah tua itu. Kami menaiki tangga menuju ruangan dimana mayat sang anak ditemukan. Kedua mayat ternyata masih ada di sana. Polisi membiarkan ruangan itu apa adanya, masih seperti semula. Aku tak menemukan kesesuaian antara apa yang kulihat dan apa yang dikabarkan oleh surat kabar. Dupin mengamati segala hal dengan amat teliti, tak terkecuali mayat, dinding, perapian, dan juga jendela. Selepas pengamatn itu kami pulang. Dupin tak mengatakan apa-apa. Dapat kulihat tatapan dingin di matanya yang memberi isyarat kepadaku bahwa pikirannya tengah bekerja keras. Aku tak berani mengajukan pertanyaan kepadanya.
Dupin tak mengatakan sepatah kata pun hingga keesokan hari. Saat ia masuk kamarku dan tiba-tiba bertanya apakah aku tak memperhatikan sesuatu yang aneh di rumah tua itu, aku menjawab: “Tak lebih dari apa yang kita baca di surat kabar.”
“Katakan padaku. Bagaimana kita menjelaskan kekuatan yang luar biasa dalam pembunuhan ini? Dan suara siapa yang didengar oleh warga? Tidak ada orang lain yang ditemukan kecuali dua wanita yang telah meninggal; dan tak ada jalan bagi siapa pun untuk melarikan diri. Tubuh yang ditemukan di atas perapian, jasad wanita tua dengan kepala nyaris terpenggal sangat berlawanan dengan langkah kepolisian yang memilih untuk berdiam diri.
“Semua ini memang luar biasa tetapi ini bukan misteri. Kita tak seharusnya bertanya, ’Apa yang telah terjadi?’ tetapi kita selayaknya bertanya ’Apa yang terjadi sebelum peristiwa itu terjadi?’ Sebenarnya, pendapat kepolisian yang menyatakan peristiwa itu tak mungkin bisa dijelaskan itulah yang membawaku kepada sebuah jawaban.”
Aku hanya terdiam dan Dupin melihat ke arah pintu.
“Aku sedang menunggu seseorang yang akan menjelaskan pembunuhan bengis ini. Semula aku pikir si pelaku tak sendirian tetapi kini aku yakin siapa pelakunya. Semoga dugaanku tepat. Jika benar maka aku berharap dapat mengungkap misteri itu hari ini juga. Aku menunggu pria itu di sini — di ruangan ini. Bisa jadi
P E M B U N U H A N D I JALAN R U E M O R G U E
18
ia tak datang tetapi masih ada kemungkinan ia akan datang.
“Tapi siapa orang itu? Bagaimana caramu mengetahuinya?”
“Begini, aku tak tahu siapa orang itu karena aku belum pernah bertemu dengannya. Senyampang kita menunggu dia datang, aku akan memberi tahumu bagaimana pikiranku bekerja.” Dupin terus berbicara. Tetapi sepertinya ia tak sedang berusaha menjelaskan kepadaku apa yang ia pikirkan. Sepertinya ia berbicara kepada dirinya sendiri. Ia berbicara tanpa memandangku tetapi sembari menatap dinding.
“Telah jelas bahwa suara-suara yang didengar oleh para warga bukan suara para korban atau penghuni rumah. Maka dapat dipastikan bahwa wanita tua itu tidak membunuh putrinya lantas bunuh diri. Ia tak cukup kuat untuk menyembunyikan tubuh putrinya di atas perapian. Ya, seseorang bisa jadi bunuh diri dengan menggunakan pisau, tetapi ia pasti tak mampu memotong lehernya sendiri hingga nyaris putus lalu melompat keluar melalui jendela. Pembunuhan ini pasti dilakukan oleh orang ketiga — atau sekelompok orang. Mari kita renungkan baik-baik perihal suara-suara itu. Apakah kau menangkap keanehan?”
“Ya. Para warga sependapat bahwa suara yang bernada rendah adalah suara orang Perancis, tetapi mereka berbeda pendapat mengenai suara lantang yang melengking itu.”
“Ya, benar. Begitulah pendapat mereka. Ada sesuatu yang patut kita dalami. Seperti yang kau bilang, para warga memiliki pendapat yang sama mengenai suara lemah tetapi mereka berbeda pendapat mengenai suara lantang dan melengking itu. Satu hal yang aneh dalam kasus ini adalah ketika seorang Italia, Inggris, Spanyol, dan seorang Perancis memberikan kesaksian atas suara itu, masing-masing meyakininya sebagai suara orang asing. Sungguh aneh! Ada empat pria dari empat negara besar, dan tak satu pun dari mereka yang dapat memahami apa arti tuturan yang dihasilkan oleh suara itu, masing-masing menyatakan pendapat yang berbeda.
“Memang aku tahu ada negara lain di belahan lain dunia ini. Kau mungkin akan mengatakan bahwa suara itu dituturkan oleh seseorang yang berasal dari negara lain – Rusia, misalnya. Tapi ingat, tak seorang pun dari warga mendengar bunyi desis
E D G A R A L L A N P O E
19
yang kental dalam tuturan yang mereka dengar”.
Dupin kemudian membalikkan badan dan menatapku.
“Petunjuk itu yang kita dapatkan dari surat kabar. Aku tak tahu apa pendapatku ini telah menggiring jalan pikiranmu. Tapi aku percaya bahwa banyak hal dalam peristiwa ini layak dijadikan fakta yang selanjutnya dapat membawa kita menuju sebuah jawaban. Jawaban dari semua ini adalah, ehm tapi aku tak akan mengatakannya sekarang. Nanti saja. Namun aku ingin kau ingat bahwa semua ini telah cukup memberiku petunjuk untuk mengamati sesuatu di rumah itu. Dan aku telah menemukannya!”
P E M B U N U H A N D I JALAN R U E M O R G U E
20
E D G A R A L L A N P O E
21
BAGIAN
IV
Pelaku pembunuhan mendatangi rumah tua di sebuah jalan yang dikenal sebagai Rue Morgue! Mereka meninggalkan dua sosok mayat, seorang wanita tua dan putrinya. Tubuh sang putri berada di kamar tidur di lantai empat. Tubuh wanita tua di samping rumah dengan kepala nyaris terpenggal. Namun, pisau yang digunakan oleh pembunuh berada di dalam kamar tidur, tergeletak di lantai. Pintu dan jendela ruangan tertutup rapat dan terkunci dari dalam. Tak ada jalan lain bagi siapa pun untuk melarikan diri. Dua ragam suara terdengar oleh para warga. Satu suara terdengar seperti tuturan dalam bahasa Perancis; suara yang lain tak dapat dikenali oleh para warga yang mendengar. Anehnya tak ada seorang pun berada di ruangan itu ketika polisi dan warga memasuki tempat kejadian perkara.
Berbagai petunjuk telah kami pelajari dari berita surat kabar. Tertarik petunjuk-petunjuk tersebut kami memutuskan untuk mengunjungi rumah tua itu. Kini Dupin tengah
P E M B U N U H A N D I JALAN R U E M O R G U E
22
menjelaskan kepadaku apa saja yang telah ia pelajari di tempat kejadian perkara.
“Beragam petunjuk dapat kita pelajari dari surat kabar. Tapi ingat, semua itu hanyalah petunjuk untuk mengamati berbagai hal saat kita berada di rumah itu. Dan aku telah menemukan petunjuk baru!”
“Mari kita mengingat kembali, dimana pembunuhan terjadi. Apa yang pertama kali harus kita cari? Jalan keluar si pembunuh melarikan diri. Ya, dalam hal ini kita sepakat untuk mengesampingkan hal-hal di luar alam nyata. Si pelaku bukanlah makhluk halus; mereka makhluk kasat mata. Mereka tak bisa menembus dinding. Lantas bagaimana mereka melarikan diri? Hanya ada satu cara yang masuk akal, dan itu bisa menjadi jawaban atas misteri ini. Mari kita cermati satu per satu, beberapa cara yang mungkin dilakukan pelaku untuk melarikan diri. Sudah pasti si pelaku sempat berada di ruangan dimana sang anak ditemukan. Keberadaan terakhir si pelaku sebelum melarikan diri adalah di ruangan itu. Bagaimana menurutmu?
“Awalnya aku tak menemukan jalan keluar. Para warga harus mendobrak pintu agar dapat memasuki ruangan. Tak ada pintu lain. Saluran terbuka di atas perapian tak cukup lebar, bahkan untuk dilalui binatang kecil sekalipun. Oleh karena itu, pelaku pembunuhan semestinya melarikan diri melalui salah satu jendela. Tapi itu juga tak mungkin. Nah, kita harus membuktikan hal yang tak mungkin menjadi mungkin.
“Ada dua jendela di kamar tidur itu. Mungkin kau ingat, keduanya terdiri atas dua bagian. Untuk membukanya seseorang harus harus mengangkat separuh daun jendela bagian bawah. Satu jendela begitu mudah dijangkau; bagian bawah jendela yang lain sulit dijangkau karena berada tepat di sisi jauh tempat tidur yang berukuran besar. Aku telah mencermati jendela yang mudah dijangkau itu. Jendela itu tertutup rapat dan terkunci dari dalam. Agar jendela selalu tertutup, seseorang telah memaku daun jendela dengan kusen sedemikian rupa sehingga daun jendela bagian bawah tak dapat dinaikkan. Setidaknya sebuah paku telah menahan daun jendela tetap tertutup. Kita dapat dengan mudah mengetahui keberadaan paku itu. Dan benar, paku itu memang ada. Warga yang ikut masuk ke kamar itu berusaha sekuat tenaga menaikkan daun jendela itu tetapi mereka tidak
E D G A R A L L A N P O E
23
berhasil. Aku pun mencoba hal yang sama dan sia-sia pula.
“Lantas aku mendekati jendela kedua dan mengamati bagian bawah daun jendela yang berada tepat di belakang tempat tidur. Aku juga menemukan paku di sana, paku yang semestinya menahan daun jendela tetap tertutup. Tanpa menggeser tempat tidur, aku mencoba membuka jendela itu, dan untuk kedua kalinya aku hanya buang-buang waktu saja.
“Aku tak menyerah. Aku harus mencari jawaban teka-teki itu karena aku yakin bahwa apa yang terlihat tidak mungkin harus dibuktikan agar menjadi mungkin. Para pelaku— atau mungkin harus kukatakan, si pelaku, karena aku yakin jika hanya ada satu pelaku — melarikan diri melalui salah satu jendela itu. Aku sangat yakin mengenai hal ini. Setelah si pelaku keluar dari kamar tidur, ia bisa saja menutup jendela dari luar. Namun ia tak menguncinya dari dalam, semua orang dapat melihat paku yang menahan daun jendela tetap tertutup rapat. Fakta inilah yang sulit dipecahkan oleh pihak kepolisian. Bagaimana si pelaku bisa mengembalikan paku ke tempat semula?”
“Mungkin – mungkin, jika kau mencabut paku itu….”
“Ya! Itu yang aku pikirkan. Dua hal terlihat terang benderang: pertama, pasti ada yang salah dengan pendapat yang menyatakan bahwa paku itu menahan daun jendela tetap tertutup. Aku tak tahu apa ada yang salah dengan pendapat itu. Kedua, jika bukan paku yang menahan daun jendela tetap tertutup pasti ada sesuatu yang lain yang menahannya. Sesuatu yang sulit diamati, sesuatu yang tersembunyi.
“Aku kembali mengamati jendela yang pertama. Dengan susah payah aku mencabut paku itu. Kemudian aku mencoba menaikkan daun jendela kembali. Tetap tidak berhasil dan hal itu tak mengherankan. Aku pikir pasti ada kunci tersembunyi, di bagian tertentu jendela itu. Dengan hati-hati aku meraba bagian demi bagian jendela dengan jemariku. Dan benar saja, aku menemukan sebuah tombol yang apabila ditekan, kunci akan terbuka dan tanpa susah payah daun jendela bagian bawah naik.
“Sekarang aku tahu bahwa si pembunuh dapat menutup jendela dari luar dan jendela itu akan terkunci dengan sendirinya. Tapi masih ada paku, itu masalahnya. Dengan hati-hati aku
P E M B U N U H A N D I JALAN R U E M O R G U E
24
masukkan kembali paku ke dalam lubang semula. Kemudian aku menekan tombol dan mencoba menaikkan daun jendela bagian bawah itu. Aku tak bisa. Paku itu kembali menahan daun jendela agar tetap tertutup!”
“Kalau begitu… tak mungkin si pelaku keluar melalui jendela.”
“Ya, ia tak mungkin keluar melalui jendela yang pertama. Ia harus melarikan diri melalui jendela lain sedangkan jendela lain juga memiliki paku. Tapi saat itu aku yakin bahwa aku semakin mendekati sebuah jawaban. Meskipun tak seorang pun memerhatikan dengan saksama sebuah jendela yang berada di belakang tempat tidur, aku mendekati jendela itu dan mengamatinya. Aku mencari tahu apakah jendela kedua itu sama atuakah berbeda dengan jendela pertama. Paku di jendela kedua terlihat sama dengan yang paku yang ada pada jendela pertama. Aku menggeser tempat tidur sehingga aku bisa melihatnya lebih dekat. Ya. Jendela itu ternyata memiliki tombol juga. Aku sangat yakin bahwa dengan menekan tombol tanpa menyentuh paku, daun jendela bagian bawah itu naik!
“Saat daun jendela naik, paku berikut kepala paku yang terlihat menjengul ikut naik. Saat aku menutupnya, kepala paku itu terlihat seperti semula. Lantas aku memegang kepala paku itu dan dengan mudah paku itu tercabut. Kuamati paku itu ternyata telah patah. Tetapi saat aku memasang kembali kepala paku itu di tempat semula, terlihat seperti paku yang masih utuh.
“Apa yang terlihat tak mungkin, telah kita buktikan menjadi mungkin. Si pelaku memang melarikan diri melalui jendela kedua itu. Dengan pikiranku aku bisa mengetahui apa yang telah terjadi.
“Peristiwa pembunuhan itu terjadi di malam musim panas. Ketika pelaku datang ia mendapati jendela itu terbuka, mungkin agar udara malam yang segar masuk melalui jendela. Si pelaku masuk dan keluar melalui jendela. Sesaat setelah ia keluar, ia menutup jendela. Mungkin dengan maksud tertentu atau mungkin hanya kebetulan, kunci rahasia di bagian dalam jendela bekerja dengan baik sehingga jendela terkunci dari dalam. Seolah-olah paku yang ada menahan jendela tetap tertutup.”
Sepertinya Dupin tak sedang berbicara kepadaku tetapi kepada dirinya sendiri. Tatapannya yang dingin sepertinya hanya
E D G A R A L L A N P O E
25
melihat apa yang ada di dalam pikirannya sendiri. Kini ia menatap lurus ke arahku dan kedua matanya berseri-seri. Aku semakin yakin bahwa dengan menggunakan kekuatan penalarannya yang luar biasa untuk menemukan jawaban atas teka-teki pembunuhan berdarah itu telah membuatnya sangat bahagia!
Awalnya aku tak dapat menanggapi pemikiran Dupin. Lalu aku mencoba memberikan sanggahan: “Dupin –jendela itu berada di lantai empat, letaknya sangat tinggi dari permukaan tanah. Bahkan semisal jendela terbuka pun ….”
“Ya. Itu pemikiran yang menarik: bagaimana si pembunuh keluar melalui jendela dan turun dan menginjakkan kaki ke tanah? Sebelumnya aku sudah yakin jika si pelaku sebenarnya melarikan diri melalui jendela itu dan kelanjutan dari aksinya itu sebenarnya tak begitu sulit untuk diungkap. Sebenarnya keraguanmu itu memberi petunjuk lebih lanjut siapa pelakunya!
“Saat pertama kali kita mendatangi rumah di Jalan Rue Morgue itu, kita sempat mengamati keadaan sekitar rumah. Kala itu aku memerhatikan tiang logam yang menghubungkan bagian atas bangunan dan permukaan tanah. Sepertinya itu adalah penangkal petir yang dipasang di sana untuk mengalirkan muatan listrik ke dalam tanah. Aku pikir tiang itu bisa menjadi sarana bagi seseorang untuk memanjat dan masuk melalui jendela. Si pelaku pastilah sangat kuat. Meskipun binatang tertentu mahir memanjat, tidak semua orang dapat melakukan hal itu. Hanya seorang pria perkasa dan telah menjalani pelatihan khusus yang dapat melakukan hal itu. Hal ini memantik pertanyaan lebih banyak di dalam otakku. Seperti apa sosok si pembunuh itu?”
P E M B U N U H A N D I JALAN R U E M O R G U E
26
E D G A R A L L A N P O E
27
BAGIAN
V
Pemuda Perancis yang luar biasa, August Dupin, masih menjelaskan bagaimana ia mengungkap teka-teki pembunuhan dua wanita di rumah tua di Jalan Rue Morgue.
Kini kami meyakini bahwa si pelaku masuk dan keluar melalui salah satu jendela dan menutupnya kembali. Aku sependapat dengan Dupin tatkala ia berkata bahwa hanya orang yang sangat kuat dan telah mendapatkan pelatihan tertentu dapat memanjat tiang penangkal petir setinggi itu di samping rumah dan masuk melalui jendela. Tapi siapakah pelaku pembunuhan itu, kami belum tahu.
“Mari kita cermati sekali lagi,” ujar Dupin, “ruangan di lantai empat yang telah kita amati kemarin. Ingat kembali keadaan ruang itu. Pakaian berserak di segala penjuru dan
P E M B U N U H A N D I JALAN R U E M O R G U E
28
sepertinya tak ada pakaian yang dibawa kabur oleh si pelaku. Dan jika ia mengambil beberapa potong pakaian, mengapa ia tidak tertarik untuk membawa serta koin emas yang ada? Hampir seluruh koin emas yang diambil dari bank ditemukan, di dalam tas dan di atas lantai.
“Karenanya aku memintamu mengabaikan dugaan yang dilontarkan pihak kepolisian, dugaan yang menyatakan bahwa si pelaku ingin mendapatkan uang. Hal itulah yang mereka sebut sebagai motif, yakni apa yang mendorong pelaku melakukan pembunuhan. Pendapat itu mereka lontarkan setelah mengetahui bahwa sejumlah uang telah diserahkan kepada pemilik rumah tiga hari sebelum pembunuhan terjadi. Tetapi itu hanya merupakan apa yang kita sebut sebagai kebetulan, dua peristiwa terjadi pada saat yang hampir bersamaan. Namun hal itu tak lebih dari sekadar kebetulan karena tidak ada alasan tertentu yang dapat mempertemukan keduanya. Kebetulan sering menghampiri semua orang tetapi jika koin emas adalah motif pembunuhan maka si pelaku pastilah orang yang sangat bodoh karena tidak membawanya kabur.
“Bukan. Aku rasa uang bukanlah motif pembunuhan itu. Aku pikir satu-satunya alasan pemicu pembunuhan itu… mungkin, rasa takut.
“Kini mari kita telusuri peristiwa itu lebih mendalam. Sang anak dibunuh dengan cekikan tangan yang sangat kuat, lalu tubuhnya disembunyikan di atas perapian, mukanya menghadap ke bawah. Tak ada kasus pembunuhan seperti sebelumnya. Ada sesuatu yang tak sejalan dengan jalan pikiran manusia, bahkan saat kita membayangkan sosok manusia yang bengis sekalipun. Kita juga harus memperhitungkan kekuatan besar yang diperlukan untuk menempatkan tubuh sang anak di tempat yang tak semestinya. Kekuatan beberapa lelaki dewasa dibutuhkan untuk itu!
“Ada tanda-tanda lain yang menunjukkan kekuatan yang mengerikan itu. Di depan perapian terdapat beberapa helai rambut manusia berwarna abu-abu dan beberapa serpihan kulit berlumur darah. Besar kemungkinan rambut dan kulit kepala itu milik sang wanita tua. Kau juga dapat melihat dengan mata kepala sendiri bahwa rambut dan kulit berlumur darah berserakan di
E D G A R A L L A N P O E
29
lantai. Kita berdua sama-sama bisa membayangkan kekuatan hebat dibutuhkan untuk mencerabut dua puluh hingga tiga puluh-an helai rambut dalam satu jurus. Pun leher sang wanita tua itu nyaris terpenggal. Hal ini janggal, mengapa? Untuk membunuh seorang wanita tua tentu tak perlu memenggal lehernya!
“Dengan menggabungkan fakta-fakta yang ada dengan keadaan ruangan di tempat kejadian, kita dapat mengerucutkan dugaan, si pelaku lebih kuat dari manusia, lebih ganas dari manusia, dan suara yang tak dapat dipahami para warga. Lantas, apa simpulan dari semua ini?”
Seketika kengerian merayap naik ke otakku saat Dupin melontarkan tanya itu.
Aku mencoba untuk berkhayal sekaligus menduga. “Seorang lelaki… seorang lelaki yang telah hilang akal,” seruku. “Orang gila!! Sinting!! Hanya orang gila yang bisa melakukan perbuatan semacam itu!”
“Kurasa bukan. Dari sudut pandang tertentu pendapatmu bagus tetapi adakah orang gila berkewarganegaraan asing di sini? Jerit tangis kedua korban mungkin terdengar mengerikan, tetapi suara mereka pastilah terangkai dari untaian kata-kata, dan kesaksian para warga menyatakan suara itu benar-benar tak dapat dipahami.
“Sekarang perhatikan! Perhatikan rambut ini. Aku telah mengambilnya dari jemari wanita tua itu. Rambut orang gila tak seperti ini. Katakan, apa yang kau pikirkan!
“Dupin! Rambut ini…rambut ini bukan rambut manusia!”
“Aku tak serta merta membenarkan pendapatmu. Tapi, sebelum kita membuat simpulan, mari perhatikan gambar yang aku buat di atas kertas ini. Gambar ini menunjukkan beberapa tanda lebam di leher sang anak. Para dokter menerangkan bahwa tanda tersebut diakibatkan oleh jari-jari seseorang. Sekarang aku akan meletakkan gambar ini di atas meja. Coba kau tempelkan jemarimu pada gambar. Kau akan tahu rentang jemarimu akan sesuai dengan gambar itu.”
“Aku tak bisa!”
P E M B U N U H A N D I JALAN R U E M O R G U E
30
“Baiklah. Mungkin kita melakukan percobaan ini dengan cara yang keliru. Kertas itu datar di atas meja sedangkan leher manusia berbentuk bulat. Baiklah, ambil sepotong kayu sekira sama besar dengan leher sang anak. Tempelkan kertas itu melingkari kayu dan lakukan percobaan yang sama sekali lagi. Cobalah!”
Aku mencoba untuk menempelkan jemariku mengikuti gambar yang dibuat oleh Dupin sembari membayangkan seolah-kayu itu adalah leher sang anak! Tetapi tetap saja rentangan jemariku tak cukup lebar untuk menutup seluruh tanda yang ada.
“Dupin! Tanda itu bukan diakibatkan oleh jemari manusia!”
“Ya. Bukan manusia. Aku hampir yakin bahwa tanda-tanda itu diakibatkan oleh jari-jari tangan orangutan, salah satu binatang mirip manusia yang hidup di hutan. Ukuran tubuh yang besar, kekuatan, dan keganasan binatang itu sangat terkenal. Sekarang bukalah buku yang ditulis oleh Cuvier4 ini. Perhatikan gambar orangutan.”
Aku segera membuka buku itu dan aku langsung menarik simpulan bahwa Dupin benar dalam segala hal. Sesuai dengan perkataannya mengenai warna rambut, ukuran tangan, kekuatan yang mengerikan, keganasan, suara yang tidak terangkai atas kata-kata… hampir semua bersesuai dengan fakta. Tetapi tidak, tidak semua.
“Dupin!” Aku berseru. “Ada dua macam suara. Dari mana asal suara yang kedua?”
4 Jean Léopold Nicolas Frédéric, Baron Cuvier, seorang ahli zoologi berkebangsaan Perancis
E D G A R A L L A N P O E
31
“Suara yang kedua! Ya! Jangan lupa, kita telah sampai pada simpulan awal bahwa hanya makhluk dengan kekuatan yang luar biasa yang sanggup memanjat tiang logam penangkal petir menuju lantai empat rumah tua itu. Mungkin binatang, mungkin pula orang yang memiliki kekuatan luar biasa seperti anggota kelompok sirkus, atau mungkin mungkin juga seorang pelaut. Dan kita telah sampai pada simpulan lanjutan bahwa salah satu suara itu tak dapat dipahami para warga, bisa jadi suara binatang, atau orangutan. Suara yang lain adalah suara manusia. Suara itu hanya mengucapkan dua patah kata dalam bahasa Perancis; “Ya Tuhan!”
“Aku menaruh harapan besar pada dua kata itu untuk sampai pada simpulan akhir. Dua kata itu mencerminkan ekspresi kengerian. Artinya, ada orang Perancis yang mengetahui peristiwa pembunuhan itu. Ia mungkin – bahkan sangat mungkin – tidak membantu si orangutan membunuh kedua korban. Mungkin binatang itu terlepas dan kabur darinya, kemudian sang pemilik mengejarnya hingga sampai di rumah tua di Jalan Rue Morgue. Namun ia tak berhasil menangkapnya. Dan sekarang binatang itu mungkin masih bebas berkeliaran di suatu tempat di sudut kota Paris.
“Aku tak akan mengaburkan dugaanku itu karena hanya itulah yang ada di dalam benakku. Jika aku benar, dan jika orang Perancis itu tak membantu dalam peristiwa pembunuhan itu, aku berharap ia akan datang ke sini. Bacalah berita ini. Aku membayar pihak surat kabar untuk memuat berita ini.”
Aku meraih surat kabar yang ia serahkan dan mulai membaca:
AKHIRNYA TERTANGKAP — Pagi tanggal tujuh bulan ini: Orangutan raksasa. Sang pemilik, yang diketahui sebagai seorang pelaut, bisa jadi akan
P E M B U N U H A N D I JALAN R U E M O R G U E
32
mendapatkan binatang itu kembali jika ia dapat membuktikan bahwa binatang itu adalah miliknya.
“Sebentar, Dupin. Bagaimana kau bisa tahu bahwa pria itu adalah seorang pelaut?”
“Aku tak tahu. Sebenarnya aku tak terlalu yakin akan hal itu. Aku menduga pria itu adalah seorang pelaut. Seorang pelaut bisa saja memanjat tiang di samping rumah itu. Seorang pelaut bisa saja mengarungi samudera menuju tempat-tempat nun jauh di sana, di suatu tempat dimana mereka dapat menjumpai binatang yang dikenal sebagai orangutan. Itu jika dugaanku benar….
“Coba pikirkan sejenak! Seorang pelaut mungkin akan berkata kepada dirinya sendiri: ‘Binatang mahal. Mengapa aku tak datang kesana dan mendapatkannya kembali? Polisi tak tahu jika binatang itu telah membunuh dua orang wanita. Dan orang-orang telah mengetahui aku telah berada di kota Paris. Jika aku tak datang untuk mengambil binatang itu, mereka akan bertanya, ada apa? Aku tak ingin orang-orang menanyakan binatang itu. Maka aku akan datang dan membawa pulang orangutan itu. Akan kusembunyikan binatang itu di tempat rahasia hingga masalah ini berakhir dengan sendirinya.’ Begitulah, aku menduga jalan pikiran si pelaut seperti itu. Ssst…dengar! Aku mendengar langkah kaki memijak tangga.”
Dupin sedari tadi membiarkan pintu depan terbuka, dan sang tamu melangkah masuk tanpa membunyikan bel. Ia melangkahkan kaki menaiki tangga, lantas berhenti. Untuk beberapa saat kami mendengar ia berbalik arah dan turun kembali. Dupin bergegas menuju pintu ketika kami kembali mendengar langkah kaki orang asing itu mendekat. Kali ini ia tak berbalik lagi tetapi langsung menuju pintu ruangan kami.
Dengan tutur sapa yang hangat dan ramah, Dupin berkata:
“Masuklah, kawan! Masuk!”
Perlahan pintu terbuka, dan masuklah—seorang pelaut!
E D G A R A L L A N P O E
33
BAGIAN
VI
Kawanku, Dupin, kini meyakini bahwa pembunuhan di Jalan Rue Morgue dilakukan oleh seekor binatang liar, binatang yang menyerupai manusia yang dikenal sebagai orangutan. binatang itu kabur diri pemiliknya, Dupin menduga pemiliknya adalah seorang pelaut. Ia telah membuat berita di surat kabar bahwa sang pemilik dapat mengambilnya kembali jika ia datang. Kini, ketika sang pemilik datang, kami berdua bertanya-tanya apakah pria itu sesuai dengan dugaan Dupin, yakni seorang pelaut.
Ya. Pria yang datang itu memang seorang pelaut. Ia bertubuh besar dan terlihat kuat. Ia membawa sepotong kayu besar dan terlihat sangat berat. Namun, ia tak membawa senjata. Ia menyapa kami dalam bahasa Perancis, “Selamat malam.”
“Duduklah, kawan. Aku yakin kau datang untuk menanyakan perihal orangutan, binatang yang sangat menawan. Aku yakin binatang itu sangat berharga. Menurutmu, berapakah umurnya?”
“Aku tak bisa menebak umur binatang itu, tapi mungkin tak lebih dari empat atau lima tahun. Apakah binatang itu ada di sini?
P E M B U N U H A N D I JALAN R U E M O R G U E
34
“Tidak. Kami tidak punya tempat yang cukup luas untuknya. Kau bisa membawanya esok hari, tentu saja, jika kau dapat membuktikan bahwa binatang itu milikmu?”
“Ya. Ya aku bisa membuktikannya. Aku berharap aku bisa merawatnya kembali. Aku…, tentu saja, akan memberi kalian imbalan karena telah menemukan dan merawat binatang itu. Imbalan apa saja… terserah kalian mau apa”.
“Yah… penawaran yang bagus. Sebentar, biarkan aku berpikir sejenak, apa yang aku minta? Begini saja! Anggaplah ini sebagai bayaranku. Ceritakan semua yang kau ketahui tentang pembunuhan di Jalan Rue Morgue.”
Sang tamu terkejut dan ia mulai bercerita dengan suara yang sangat lirih. Selirih tuturan orang itu, Dupin berjalan menuju pintu, menguncinya, dan menyimpan kunci di dalam mantelnya. Pada saat bersamaan Dupin mengeluarkan pistol dari lengan mantelnya dan meletakkannya di atas meja.
Wajah pelaut itu merah padam. Ia melompat, berdiri, dan meraih tongkat kayunya. Tetapi sesaat kemudian ia kembali terduduk, gemetar. Wajahnya berangsur pucat, ia terlihat seperti tidak lagi memiliki darah. Ia bergumam dan matanya terpejam.
“Kawan, kau tak perlu takut. Kami tak akan melukaimu. Aku tahu kau bukanlah pelakunya. Tapi aku yakin kau mengetahui banyak hal tentang peristiwa itu. Kau pasti tahu jika aku selalu memiliki cara untuk mengungkap tabir peristiwa itu – juga cara yang aku gunakan adalah cara yang tak pernah engkau bayangkan.
“Kini, aku tahu bahwa kau tak melakukan kesalahan apa pun. Kau bahkan tak mengambil uang mereka. Jangan takut berbicara dan katakan saja apa yang sebenarnya terjadi. Satu kehormatan bagimu untuk berkata jujur karena hanya kau yang tahu siapa pelakunya.”
“Oh, Tuhan! Tolonglah hambamu ini. Aku… aku akan menceritakan semua yang aku tahu. Tetapi aku berharap kalian memercayaiku. Percayalah, aku tak membunuh siapa pun, dan
E D G A R A L L A N P O E
35
aku bersumpah akan menceritakan semua. Binatang itulah pelakunya! Orang utan!
“Kurang lebih satu tahun yang lalu kapal kami berlayar ke Timur Jauh, menuju pulau Borneo. Aku belum pernah mendengar Borneo sebelumnya. Hutan rimba yang lebat dengan beragam pepohonan dan hutan-hutan yang begitu panas, basah, dan juga gelap. Suatu ketika aku dan temanku pergi ke hutan untuk bersenang-senang. Di sana kami melihat binatang besar, orangutan. Lantas kami berdua menangkapnya. Kami membawanya naik ke atas kapal. Namun, tak lama setelahnya, temanku meninggal dan binatang itu menjadi milikku. Binatang itu sangat kuat dan memicu banyak persoalan.
“Pada akhirnya aku membawanya ke kota Paris. Aku mengandangkannya di rumah. Aku selalu mengunci kandangnya dengan hati-hati agar ia tidak berkeliaran dan tak ada tetangga yang tahu. Saat di kapal, binatang itu melukai salah satu satu kakinya. Aku pikir…Aku pikir setelah luka itu sembuh aku akan segera menjualnya. Aku yakin binatang itu sangat berharga. Dan aku tak sanggup untuk memeliharanya! Aku ingin segera menjualnya.
“Di malam berdarah itu, aku pulang larut malam dan menemukan binatang itu telah berada di kamarku. Binatang itu bisa meloloskan diri, entah bagaimana caranya. Ia memegang pisau dan memainkannya. Aku sangat ketakutan dan tak tahu harus berbuat apa. Begitu ia melihatku, ia melompat-lompat dan berlari keluar ruangan dan menuruni tangga. Lantas ia tahu ada jendela yang terbuka dan dengan cepat ia melompat turun ke jalan. Aku membuntutinya dari jarak yang cukup dekat meski aku sudah tak memiliki harapan untuk bisa menangkapnya kembali. Binatang itu, dengan pisau masih di tangannya, beberapa kali berhenti dan melihat ke arahku. Tetapi sebelum aku bisa mendekatinya, mencoba untuk menangkapnya, binatang itu kembali berlari. Sepertinya ia ingin mempermainkan diriku.
“Ketika hampir pagi, tapi jalanan masih gelap dan sepi. Kami melewati bagian belakang sebuah rumah tua di Jalan Rue Morgue. Binatang itu melihat cahaya dari jendela yang terbuka di
P E M B U N U H A N D I JALAN R U E M O R G U E
36
ketinggian. Jendela itu satu-satunya jendela yang terlihat terang. Kemudian binatang itu melihat ada tiang yang terbuat dari logam di sisi rumah. Ia memanjat dengan mudah dan bergerak dengan cepat. Akhirnya ia melompat memasuki ruangan. Semua itu berlangsung cepat, tak lebih dari satu menit.
“Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku lantas mengikuti binatang itu. Aku turut memanjat tiang yang sama. Mudah bagiku melakukan itu karena aku seorang pelaut. Tapi jendela yang terbuka itu berjarak dengan tiang yang aku panjat sehingga aku takut untuk melompat masuk jendela itu. Meskipun demikian, aku masih bisa melihat ke dalam ruangan melalui jendela yang lain.
“Dua sosok wanita tengah berada di ruangan lantai empat, membelakangi jendela. Siapa sangka mereka belum tidur selarut itu? Sebuah kotak berada di atas lantai di tengah ruangan. Surat-surat yang semula berada di dalam kotak itu tergeletak di lantai. Kedua wanita itu terlihat tengah memeriksa kertas-kertas itu. Mereka tak melihat binatang itu memasuki ruangan. Binatang hanya berdiri, memperhatikan, dan pisau masih di tangannya. Tapi tak lama kemudian wanita tua itu menoleh dan melihat ada binatang dengan pisau di tangan, dan kemudian… kemudian aku mendengar jeritan yang mengerikan.
“Begitu mendengar jeritan wanita tua itu, binatang itu memburu dan menjambak rambutnya dan mengayun-ayunkan pisau di depan wajah wanita tua itu. Seorang wanita yang lain ketakutan dan terjatuh ke lantai hingga tak bergerak, kedua matanya terpejam. Wanita yang terlihat lebih tua terus menerus menjerit minta tolong. Aku pikir binatang itu juga ketakutan. Dengan kekuatan yang luar biasa, binatang itu menarik segenggam rambut si wanita tua. Dan di saat wanita tua itu berlumuran darah serta mencoba berlari, binatang itu berhasil menangkapnya kembali. Akhirnya dengan satu ayunan lengan, binatang itu nyaris memenggal kepala sang wanita tua. Ia lantas melemparkan tubuh si wanita tua melalui jendela. Dalam sekejap binatang itu membalikkan badan dan melihatnya wanita yang jatuh ke lantai mulai bergerak. Binatang itu menatap bengis. Dengan mata berwarna merah darah binatang itu mendekati si wanita. Ia menekan leher si wanita dengan jari-jarinya yang kuat, mencekiknya hingga pecat nyawa.
“Setelah wanita itu berhenti bergerak, binatang itu
E D G A R A L L A N P O E
37
membanting wanita itu ke lantai. Ia kemudian mendongak dan melihat wajahku di jendela. Ia mulai berlarian di dalam ruangan, melompat-lompat, menghancurkan kursi, dan memporakporandakan tempat tidur. Tiba-tiba ia berhenti dan mengambil tubuh si wanita dan seolah-olah ingin menyembunyikannya. Dengan kekuatan yang luar biasa, ia menempatkan tubuh wanita itu di atas perapian, persis di mana mayat itu ditemukan oleh polisi.
“Selama peristiwa itu berlangsung aku masih mendekap tiang logam. Aku seperti kehilangan kekuatan untuk menggerakkan tubuhku. Saat aku melihat binatang itu mendekati sisi jendela dan melemparkan tubuh wanita tua itu, ketakutanku semakin menjadi-jadi. Aku turun dengan cepat, bahkan aku hampir terjatuh dan akhirnya aku berlari. Aku tak berani melihat ke belakang. Aku terus berlari dan berteriak: Oh, Tuhan! Oh, Tuhan!”
Kepala kepolisian tak begitu senang mengetahui misteri pembunuhan itu berhasil diungkap oleh seseorang yang bukan anggota polisi. Ia menyerukan bahwa setiap warga semestinya mengurusi urusan mereka sendiri. “Biarkan ia bicara seperti itu,” kata Dupin.
“Biarkan saja. Biarkan saja ia bicara seperti itu karena itu akan membuatnya sedikit lega. Ia sebenarnya orang baik. Namun, ia seringkali memperumit segala sesuatu yang sederhana. Tetap saja, orang-orang menganggapnya terampil, dan bahkan bijaksana. Aku pikir ia berkata seperti itu karena ia selalu menjelaskan segala sesuatu dengan berhati-hati, apa adanya, dan ia sangat sering berkata, ‘Tak mungkin!’ untuk banyak hal yang tak ia ketahui.”
P E M B U N U H A N D I JALAN R U E M O R G U E
38