Titiran

Dyah Balitung atau Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Dharmodaya Mahasambu yang konon katanya raja Kerajaan Medang (sebagian orang menyebut Mataram Kuno) tahun 899 hingga 911 M (pusat kerajaan sekarang menjadi wilayah Kedu, Temanggung) suka berburu burung kitiran (memikat perkutut). Mungkin dari sinilah genetika berburu raja Jawa Kuno menurun dari generasi ke generasi sehingga di berbagai daerah di Nusantara para pemikat burung didominasi oleh orang Jawa (termasuk saya). Konon katanya Sang Raja pernah memikat burung perkutut di dekat candi kerajaan di Tlu Ron.

sambadha sri maharja sribahuvikramabajradeva mapikat khitiran vetannim parhyangan haji i tlu ron i huvus nira mapikat madyus sira i pancuran

..ketika Sri Maharaja sribahuvikramabajradeva memikat burung kitiran di timur candi kerajaan di tlu ron. Setelah berburu, kemudian raja mandi di pancuran (petirtaan)…

Catatan tersebut tertulis pada prasasti Tlu Ron yang ditemukan di candi Kedulan yang sekarang berada di Tirtomartani, Kalasan, Sleman, DIY. Entah pada masa itu apakah teknik memikat sudah memakai tenguk ataukah hanya memakai pulut benda, tidak ada catatan tentang hal ini. Mengingat saat ini banyak sekali teknik ala Jawa diterapkan oleh pemikat. Memancing kedatangan perkutut incaran, para pemikat biasanya mengikat kaki perkutut umpan dan menempatkannya di ketinggian. Dari bawah, sang pemikat memancing perkutut pikat untuk bernyanyi. Tidak berselang lama, sang penguasa daerah, yakni burung liar merasa tertantang ibarat preman wilayah kedatangan preman kampung sebelah. Marah. Kemarahan penguasa wilayah biasanya ditandai dengan gayer, yakni bernyanyi terus menerus. Tak jauh berbeda dengan gacor seperti pada kelompok burung pengicau. Tak jarang burung liar penguasa wilayah menaikkan serta membuka ekor sembari bersuara kur..kur..kur. Ya, burung itu mengeluarkan suara bekuran. Sang tenguk biasanya mengeluarkan kerot. Ibarat gayung bersambut maka pertemuan keduanya bisa jadi akhir dari kebebasan. Maksud hati ingin menyerang dengan senjata khas keluarga merpati, yakni dengan tepukan sayap, tetapi apa daya kaki terbelenggu getah benda. Sayang seribu sayang.

Ah, betapa menyenangkan, setelah berpanas-panasan mengintai kedatangan burung titiran, sang raja pun bermain air di petirtaan. Meski demikian saya bertanya dalam hati, betapa jauh perjalanan sang raja setelah memikat perkutut dan mandi di petirtaan untuk mencapai pusat kerajaan. Konon pusat kerajaan Medang berada di Ngadirejo, Temanggung. Hmmm…cape deh…

tenguk n Jw burung perkutut yg ditali di atas ranting untuk memikat kedatangan burung liar

jontrot n Jw <i>tenguk <i>

kerot n Jw suara gemeretuk pendek yg dikeluarkan oleh burung perkutut sbg tanda birahi

bekur n Jw suara yg dikeluarkan oleh burung perkutut sembari mengembangkan ekor sbg tanda menantang lawan atau hendak kawin

katuranggan n Jw ciri fisik tertentu yg konon dipercaya dapat mendatangkan tuah

benda n Sd 1getah untuk menangkap burung; 2pohon yg mengeluarkan getah lengket Artocarpus elasticus

rajek wesi n Jw ciri fisik burung perkutut yg memiliki sisik kaki pecah, seolah-olah terbelah menjadi dua, konon diyakini baik dipelihara oleh penegak hukum

Rujukan:

Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto (Eds). (2008). Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuno. Jakarta: Balai Pustaka

Atmadja, Soegeng Dharma. 1969.  Primbon dan Katuranggan Burung Perkutut. Semarang: Penerbit Toko Buku Ho Kim Yoe

Leave a comment