Memang benar, beberapa hari menjelang Lebaran jutaan orang mudik atau pulang ke kampung halaman atau pulang ke “rumah”. Banyak orang menantikan saat istimewa ini, selepas bekerja keras di perantauan—yang pada akhirnya menjadi tempat kediaman—orang-orang merindukan dari mana mereka berasal. Rumah kayu dengan pelataran yang luas, beberapa langkah di samping rumah terdapat kali kecil tempat anak-anak bermain, memancing, juga mandi. Pelataran belakang rumah juga terhubung dengan sawah yang menghijau. Sementara di kejauhan terdapat bukit tinggi yang asri dan begitulah rumah masa lalu yang berbeda dengan pemandangan keseharian di kota yang menyuguhkan pemandangan gedung-gedung tinggi. Manusia perantau merindukan rumah meski mereka telah memiliki rumah di perantauan. Lantas apakah benar mereka pulang ke “rumah”? Dan apa itu sebenarnya “rumah”?
Perbedaan antara rumah dan “rumah” memang tidak sejelas perbedaan antara house dan home dalam bahasa Inggris, sebagaimana para penuturnya secara pasti menyebut kepulangan sebagai “go home” bukan “go house”. Berbeda dengan penutur bahasa Inggris, kita sedikit kesulitan membedakan keduanya. Rumah (house) umumnya dipahami sebagai struktur material, sebuah bangunan fisik yang memiliki ruang dan batas-batas ruang yang jelas. Sedangkan “rumah” atau hunian (home) lebih merujuk pada konsep tempat tinggal melampaui dimensi fisik, bahkan mencakup ingatan, imajinasi, identitas, dan rasa memiliki.
Dalam The Poetics of Space, seorang pemikir Gaston Bachelard memandang home (hunian) bukan sekadar objek arsitektural, melainkan situs utama subjektivitas manusia. Ia menggambarkan rumah sebagai “ruang hidup manusia,” sebuah ruang yang melindungi tidak hanya tubuh tetapi juga imajinasi (Bachelard, 1994:4). Dengan gagasan ini, Bachelard mengubah rumah menjadi sebuah tempat tinggal—ruang yang dipenuhi gaung kasih sayang, ingatan, dan makna puitis.
Gagasan “rumah” menurut Bachelard ini mungkin lebih mendekati gagasan pulang ke rumah yang dilakukan oleh para pemudik. Rumah masa kecil mereka mungkin telah roboh, mungkin telah tergusur oleh jalan tol (bukan koperasi), dan mungkin telah dimiliki saudara mereka. Suasana zaman dahulu mungkin telah berubah seiring perkembangan zaman, teman masa kecil mungkin telah meninggal, bahkan orang tua tersayang mungkin juga telah meninggal. Ya, mereka pulang ke “rumah” mungkin karena gaung kasih sayang, ingatan, dan makna puitis. Rumah tidak sekadar bangunan fisik, struktur geometris, dapat diukur, dan objektif, tetapi malih rupa menjadi wadah penyimpanan kehidupan psikis yang kaya dengan makna simbolis yang turut membentuk identitas diri. Bahkan ketika secara fisik sudah berubah atau tidak ada, “rumah” (home) tetap ada sebagai gambaran abadi yang membentuk pengalaman-pengalaman di kemudian hari.
Gagasan Bachelard tentang “rumah” atau hunian (bukan house) ini menyiratkan bahwa seseorang mungkin telah meninggalkan sebuah “rumah”, namun “rumah” itu tetap menjadi “rumah”nya selama “rumah” tersebut terus menghuni imajinasinya. Dengan demikian, “rumah” bersifat temporal dan psikis, bukan semata-mata spasial. “Rumah” itu ada dalam ingatan, lamunan, dan narasi. Dalam hal ini, “rumah” menjadi wadah bagi apa yang Bachelard sebut “topoanalisis”—studi tentang lokasi-lokasi kehidupan intim (Bachelard, 1994: xxxvii).Selain itu, “rumah” adalah ruang perlindungan, keberlanjutan, dan pembentukan identitas. Transformasi rumah (house) menjadi “rumah” (home) sangat berakar pada kemampuan manusia untuk berimajinasi dan mengingat. Oleh karena itu, baik rumah maupun “rumah” itu nyata—meski yang kedua bukan merupakan entitas objektif, tetapi realitas pengalaman dan realitas simbolis.
Maka begitulah manusia pulang ke “rumah”. Ingatan, imajinasi, identitas, dan rasa memiliki manusia membawanya pulang. Meski rumah fisik (house) telah berubah, mereka tetap setia pada ingatan dan imajinasi mereka. Maka, bukan salah mereka jika setelah menempuh jarak panjang dan melelahkan mereka mendapati imajinasi yang telah berbeda, ingatan yang berangsur pudar, tapi bagaimanapun juga mereka tetap mengingat rumah dan “rumah” masa kecil mereka telah turut membentuk identitas mereka. Jadi, meskipun bermandi peluh dan menyesali segala perubahan, tahun berikutnya mereka akan tetap mengulang untuk pulang, lebih dari sekadar mencari rumah, tapi “rumah”.
Rumah
dilukiskannya tubuh yang muram
sebuah bangun, penuh kesengajaan
di mana pintu harus dibuka
ke arah luar seberang sana
bukit gersang, lembah nestapa
tubuh itu semakin tak kentara
berselimut pekat panggang lentera
bila datang si pemanggul rindu
bongkah batu di pundaknya
bebatang rotan serentak menjalar
bersama semak duri membuat lingkar
dari bahu batu melayang jatuh
ditangkap debum tanah berdebu
rindu yang batu dan tubuh yang membisu
ku yakin tak akan ada suatu hari
harap tandang kepadanya lagi
250718-kdp
ru.mah
- n bangunan untuk tempat tinggal
- n bangunan pada umumnya (seperti gedung
https://kbbi.kemendikdasmen.go.id/entri/rumah
Usulkan Makna Baru
- n tempat asal para pemudik mulai pulang ke ~
- n habitat alas Purwo adalah ~ bagi merak Jawa
- n unit sosial yg dibentuk oleh keluarga yg tinggal bersama pasangan itu berusaha membangun ~ yg bahagia untuk anak-anaknya
Referensi
Bachelard, G. (1994). The poetics of space (M. Jolas, Penerjemah). Boston: Beacon Press. (Karya asli diterbitkan pada 1958)