Kebenaran yang “Benar”

Semua orang telah menyaksikan bencana, semua juga telah mengucapkan belasungkawa, membantu, dan mendoakan. Sebagian kecil melanjutkannya dengan mengulas kemungkinan penyebab bencana, apakah cuaca, kerentaan bumi, atau ulah manusia. Seorang pejabat mengumumkan bahwa penyebab bencana adalah murni kemarahan alam. Manakah yang benar?

Semua orang juga telah mendengarkan perdebatan mengenai keaslian dan kepalsuan ijazah. Sebagian mengatakan palsu, tentu saja, sebagian mengatakan asli. Meski penonton dibuat pusing oleh dua pendapat tersebut, mereka masih menyimpan pertanyaan di dalam hati, manakah yang benar?

Pertanyaan-pertanyaan di atas pasti akan dijawab secara berbeda oleh pihak yang berbeda, biasa jadi jawaban yang diberikan saat ini akan berubah seiring pergantian hari. Lantas apa itu kebenaran? Menurut kamus bahasa Indonesia, kebenaran adalah (1) keadaan (hal dan sebagainya) yang cocok dengan keadaan (hal) yang sesungguhnya atau (2) sesuatu yang sungguh-sungguh (benar-benar) ada. Dua komponen makna (1 dan 2) di atas membentuk definisi yang bersumber pada teori kesesuaian (teori korespondensi), yakni teori kebenaran yang menyatakan bahwa suatu pernyataan dianggap benar jika pernyataan tersebut sesuai (berkorespondensi) dengan fakta atau kenyataan yang ada di dunia. Teori ini merupakan salah satu pandangan tertua mengenai kebenaran, suatu pernyataan benar jika sesuai dengan fakta atau keadaan yang ada di dunia. Bahkan, Aristotle pernah menyatakan bahwa kebenaran terletak pada mengatakan apa yang ada dan apa yang tidak ada dan Thomas Aquinas menggambarkan kebenaran sebagai kesesuaian pikiran dengan kenyataan. Gagasan utama teori ini adalah bahwa kebenaran mencerminkan dunia sehingga sebuah proposisi dinilai benar jika sesuai dengan apa yang sebenarnya ada. Para penganut teori ini mengandalkan kesesuaian antara pernyataan dengan objek atau fenomena yang nyata dan dapat diverifikasi secara objektif melalui pengamatan inderawi.

Kesesuaian pernyataan dengan kenyataan, kenyataan yang objektif, dapat dibuktikan (diverifikasi) merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mencapai kebenaran. Pernyataan “air sungai meluap” dianggap benar jika kenyataannya memang badan sungai tak lagi mampu menampung air, dan ini dapat diperiksa secara langsung dengan melihat air sungai.

Lantas bagaimana dengan dua pertanyaan di awal? Manakah yang benar, apakah bencana disebabkan oleh alam atau manusia? Apakah ijazah yang diperdebatkan asli atau palsu, manakah yang yang benar? Jika kebenaran diletakkan pada gagasan Aristotle dan Thomas Aquinas maka kita perlu memeriksa dengan mata kita kerusakan alam, potongan kayu, keadaan hutan, juga keadaan ijazah sebenarnya? Loh, kita kan tidak memiliki jalan masuk (akses) ke sana dan indera kita tidak dapat memeriksa kenyataan sesungguhnya? Ya, kebenaran bersesuaian memang memiliki keterbatasan meski kebenaran ini sering diperkenalkan sebagai kebenaran objektif atau kebenaran mutlak atau kebenaran mutlak (absolut) atau kebenaran hakiki. Selama kita tidak memiliki jalan masuk untuk memeriksa kesesuaian sesuatu dengan pernyataan dengan indera kita maka kebenaran ini belum “benar”.

Lantas apa jalan lain yang dapat kita gunakan untuk menjawab perihal kebenaran? Kita dapat membuka kamus Cambridge. Menurut kamus ini, kebenaran adalah (1) (kenyataan sebenarnya mengenai sebuah keadaan, kejadian, atau seseorang (the real facts about a situation, event, or person); (2) kenyataan atau kaidah yang dianggap benar oleh kebanyakan orang (a fact or principle that is thought to be true by most people); dan (3) keadaan atau perasaan yang dianggap benar oleh orang per orang (someone’s own personal situation or feelings, or the truth as someone personally sees it). Gubal makna (subsense) pertama yang disajikan kamus ini hampir menyerupai gubal makna kamus bahasa Indonesia, yakni berkaitan dengan pandangan filosofis teori kesesuaian cetusan Aristotle dan Thomas Aquinas. Yang menarik adalah gubal makna kedua yang menyatakan bahwa kebenaran sebagai kenyataan atau kaidah yang dianggap benar oleh kebanyakan orang. Gubal makna ini belum ada di dalam kamus kita. Sebelum lebih jauh kita membahas gubal makna kata truth di dalam kamus Cambridge, baiknya kita periksa beragam definisi yang ditampilkan oleh beberapa kamus bahasa Inggris.

Merriam-Webster: “the body of real things, events, and facts: actuality; also: the real facts about something.”

It includes senses such as the state of being the case (a fact), a statement or idea accepted as true, the property of being in accord with fact or reality, and also sincerity, fidelity, or truthfulness.

Oxford Learner’s Dictionaries: “the true facts about something, rather than the things that have been invented or guessed.”

Longman Dictionary of Contemporary English (LDOCE): “the state or quality of being true.”

Cambridge Dictionary: 1) “the quality of being true” 2) “the real facts about a situation, event, or person” 3) More broadly, truth may refer to someone’s personal or moral understanding of what is true.

Collins English Dictionary: 1) “the quality of being true, genuine, actual, or factual” 2) “something that is true as opposed to false” 3) “a verified or indisputable fact, proposition, principle, etc.” 4) “fidelity to a required standard or law; honesty or reliability.”

Kamus Cambridge memerikan galih makna (core sense) dan gubal makna (subsense) dengan lebih menarik dibandingkan dengan kamus lain. Menarik di sini bukan sekadar berbeda tetapi memiliki nuansa filosofis yang kental.

Kita lanjutkan pada gubal makna kedua, yakni kenyataan atau kaidah yang dianggap benar oleh kebanyakan orang. Émile Durkheim (1858–1917), ahli sosiologi, memandang kebenaran sebagai keadaan yang dibangun secara sosial dan berakar pada kehidupan bersama (kolektif). Durkheim memperkenalkan konsep kesadaran bersama (collective conscience) untuk menggambarkan kumpulan gagasan, aturan, dan nilai yang mengikat suatu masyarakat. Dalam kerangka ini, kebenaran dapat dikatakan bersifat bersama atau komunal sejauh ia dibuktikan dan dipertahankan oleh pengakuan bersama. Selama puluhan tahun kita diajarkan bahwa bencana banjir selalu datang ketika manusia tidak memelihara lingkungan dan alam. Banjir akibat ulah manusia menjadi kebenaran yang diyakini bersama-sama. Orang-orang mengaitkan bencana di Sumatera (sebagian orang menilai Sumatra sebagai kebenaran) dengan pengelolaan hutan serta kemunculan kayu-kayu yang “mengambang” (bukan “melayang” atau “tenggelam” yang konon katanya mengindikasikan kayu yang terbawa banjir adalah hasil tebangan manusia). Kebenaran komunal menurut Durkheim diverifikasi secara sosial, yakni suatu proposisi dianggap benar jika diakui dan diperkuat secara bersama-sama oleh kelompok masyarakat.

Lantas, bagaimana dengan pernyataan pejabat yang mengatakan bahwa bencana banjir dan tanah longsor diakibatkan oleh alam itu sendiri? Tentu saja hal tersebut juga “kebenaran” jika kita merunut gubal makna ketiga kamus Cambridge, keadaan atau perasaan yang dianggap benar oleh orang per orang (someone’s own personal situation or feelings, or the truth as someone personally sees it).  Benar menurut si A adalah kebenaran pribadi (personal atau subjektif) yang belum tentu disepahami oleh B atau C.

Kebenaran subjektif menurut filsuf Denmark, Søren Kierkegaard (1813-1855) terkait dengan kebenaran agama yang melibatkan keyakinan, kebenaran agama adalah sesuatu yang bersifat pribadi, sesuatu yang ada pada diri manusia atau di “dalam” diri manusia, bukan sesuatu yang “di luar” sebagaimana kenaran objektif. Meskipun kebenaran objektif itu penting, kebenaran subjektif dapat menjadi lebih penting bagi seseorang karena melibatkan bagaimana seseorang berhubungan dan menerima kebenaran objektif tersebut. Keyakinan “ke dalam” seringkali mengesampingkan fakta-fakta “luar” diri, seringkali mendorong seseorang untuk menolak “tunduk” kepada kenyataan di luar diri. .

Lebih dalam lagi, filsafat postmodern menolak kebenaran yang tunggal, atau sering kita dengar sebagai kebenaran universal, atau objektif. Para pemikir postmodern berpendapat bahwa kebenaran adalah bangunan (konstruksi), bergantung pada konteks, dan dibentuk oleh hubungan kuasa dan kerangka bahasa. Michel Foucault berpendapat bahwa  kebenaran dihasilkan melalui praktik-praktik institusional, diskursus, dan mekanisme kekuasaan. Ia memperkenalkan konsep “rezim kebenaran”, yang didefinisikan sebagai kumpulan diskursus dan praktik yang menentukan apa yang diterima masyarakat sebagai pengetahuan yang valid. Bagi Foucault (1977, 1980), kebenaran tidak pernah bersifat universal, melainkan selalu tertanam dalam konfigurasi sejarah dan kekuasaan. Berkaitan dengan pendapat pejabat di awal tulisan ini, mungkin berkaitan dengan relasi kuasa tetapi saya memilih untuk tidak membahasnya lagi.

Sebagai penutup, kita dihadapkan kepada pilihan, akankah kita menambahkan gubal makna kebenaran dan entri gabungan kata yang baru di dalam kamus kita? Atau kita biarkan saja seperti Merriam-Webster, Oxford, Longman, dan Collins? Atau kita abaikan saja karena toh kebenaran adalah khayalan bersama seperti kata Friedrich Nietzsche,

What then is truth? A mobile army of metaphors, metonyms, and anthropomorphisms… truths are illusions which we have forgotten are illusions.”
(Nietzsche, 1999:146)

Usulkan Makna Baru

6 kenyataan atau kaidah yg dianggap benar oleh kebanyakan orang

7 keadaan atau perasaan yg dianggap benar oleh orang per orang

Usulkan Entri Baru

kebenaran komunal n kebenaran yg dibangun dari kesadaran bersama, dibuktikan dan dipercayai bersama oleh kelompok masyarakat

Oleh karena itu, kebenaran komunal dapat lebih mudah diterima di dunia maya. Jika kita perhatikan masalah hoax di dunia maya

(https://kalimahsawa.id/kebenaran-itu-democrazy-yang-penting-ramai-ramai/)

kebenaran personal n kebenaran orang per orang yang seringkali mengesampingkan fakta-fakta

anyak kebaikan mendiang . Banyak kebenaran personal

dan sensitif yang mungkin akan terungkap karena pengaruh gerhana dini hari tadi

Sumber Bacaan

Aristotle. (1998). Metaphysics (J. Barnes, Ed.). Oxford University Press.

Aquinas, T. (1947). Summa Theologica (Fathers of the English Dominican Province, Trans.). Benziger.

Durkheim, É. (1982). The rules of sociological method (W. D. Halls, Trans.). Free Press. (Original work published 1895)

Durkheim, É. (1995). The elementary forms of religious life (K. E. Fields, Trans.). Free Press. (Original work published 1912)

Foucault, M. (1980). Power/knowledge: Selected interviews and other writings, 1972–1977 (C. Gordon, Ed.). Pantheon.

Nietzsche, F. (1976). On truth and lie in an extra-moral sense. In D. Breazeale (Ed.), Philosophy and truth (pp. 79–97). Humanities Press.

Leave a comment