Meru Abu

Merbabu bagi kami, masyarakat lereng timur, bukan sekadar gunung melainkan rumah, tumpah darah, juga kengerian. Kami tak  terlampau memikirkan keindahan sabana, selendang awan, dan hutan edelweis yang sering disanjung oleh para pendaki. Kami hanya bertumpu pada mata air, tanah gembur, dan kerindangan yang Merbabu tawarkan, bahkan sejak kami lahir. Kami juga tak terlalu menyanjung Merbabu, yang konon dikenal melalui naskah-naskah praIslam sebagai Gunung Pamarihan, juga gunung Damalung yang senantiasa dikaitkan dengan tokoh Bujangga Manik, salah satu naskah berbahasa Sunda Kuno yang memuat kisah perjalanan seorang tokoh bernama Bujangga Manik berkelana di pulau Jawa dan Bali. Naskah tersebut katanya ditulis pada daun nipah, dalam puisi naratif berupa lirik yang terdiri dari delapan suku kata, dan saat ini disimpan di Perpustakaan Bodleian di Universitas Oxford sejak tahun 1627.

Cu(n)duk ti gunung damalung datangna ti Pamrihan datang ti lurah pajaran 

[sampai di Gunung Damalung, dari Gunung Pamrihan, dari tempat yang religius]

Sama seperti para ahli yang tidak dapat menentukan dengan pasti di manakah pertapaan yang ditempati oleh Prabu Jaya Pakuan dari Pajajaran ini, kami juga tidak tahu jika ada pangeran yang menulis tentang gunung Merbabu dalam rangkaian perjalanan panjangnya untuk bertapa dan berkelana serta mendekatkan seorang hamba dengan tuhannya. Yang kami tahu gunung ini memiliki tempat-tempat wingit dan tokoh-tokoh yang dianggap “sakti” sejak zaman nenek moyang kami.

Semasa hidup, kakek saya yang bernama Doyomiharjo, pernah bercerita bahwa keluarga besarnya pernah didatangi grayak atau perampok di malam hari. Para perampok membawa senjata tajam dan “senapan” yang terbuat dari lompong wulung atau “talas ungu”. Ia juga bercerita tentang Suradi Bledheg, salah seorang pemimpin “grayak Merbabu” atau perampok Merbabu. Semua orang takut, tak ada yang berani melawan hingga di kemudian hari warga lereng Merbabu mendengar bahwa grayak tersebut adalah gerombolan Merapi Merbabu Complex. Gerombolan grayak tersebut konon memiliki keunikan dalam beberapa hal. Pertama dalam hal perekrutan anggota, perekrutan pertama berasal dari gentho, bajingan, kecu sekitar gunung Merapi dan Merbabu. Perekrutan kedua melibatkan anggota militer rakyat yang ikut berjuang melawan Belanda tetapi tidak dapat menjadi tentara nasional. Perekrutan ketiga melibatkan gentho, bajingan, kecu yang menyerupai gelombang pertama tetapi tidak tergabung dalam komando utama yang hanya menyerang saudagar kaya yang terafiliasi dengan Belanda. Kelompok ketiga nonpolitis inilah kelompok yang paling asu, beranggotakan orang-orang lereng Merbabu, tidak memiliki koneksi senjata dengan Belanda, tidak memiliki keterampilan militer seperti anggota perekrutan kedua, dan memiliki wilayah jangkauan yang lebih sempit. Mereka tidak berada di bawah komando Darmopendot, Kampret, Ngusman Ali, Hardjo Bagong, dan juga Suradi Bledheg yang berasal dari Kemusu Boyolali.

Sebagian ahli mengaitkan Merapi Merbabu Complex dan pasukan Merah yang terafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia. Mungkin ada benarnya ketika pendapat bernuansa politis ini dikaitkan dengan Kabinet Hatta yang konon banyak ditentang oleh para pejuang revolusi yang tidak dapat bergabung dengan tentara nasional dan kenyataan bahwa para anggota KNIL yang dahulu berseberangan dengan mereka justru dapat menjadi tentara nasional. Merapi Merbabu Complex adalah penamaan gerombolan pengacau yang dicetuskan oleh Belanda seperti yang ditulis olehSuparna Sastradiredja dalam  “MMC di lereng Merapi-Merbabu”, yang dirilis Centre for Southeast Asian Studies pada 1988. Pada masa awal pemnamaan tersebut, gerombolan pengacau dipimpin oleh Sumarta dan Sutrisna.

Sepeninggal Sumarta dan Sutrisna,  Darmopendot, Kampret, Ngusman Ali, Hardjo Bagong, dan juga Suradi Bledheg tampil sebagai pemimpin di wilayah masing-masing. Bahkan Suradi Bledheg yang asli Kemusu memiliki akses persenjataan ke pihak Belanda atau NICA. Namun demikian, pergerakan politis Suradi Bledheg dkk akhirnya ditumbangkan oleh tentara nasional, tetapi aksi para gentho, kecu, grayak lokal tetap terjadi. Sasaran berubah, tak hanya orang kaya yang disasar, petani miskin turut dijarah. Binatang ternak, pakaian, bahan makanan turut dijarah. Metode yang digunakan juga beragam, tak hanya menggedor pintu, nggangsir atau membuat terowongan seukuran badan di bawah gebyog atau dinding kayu juga dilakukan. Kontak fisik dengan pemilik rumah sering terjadi dan sebagian besar dimenangkan oleh kelompok grayak. Penguasaan medan lereng Merbabu yang sulit juga menjadi dasar anggapan bahwa pelakunya berasal dari wilayah setempat.

Apakah sebuah kebetulan jika beberapa orang melihat Bujangga Manik dengan catatannya yang menulis Merbabu sebagai gunung spiritual, tempat pertapaan, dan pertemuan para pembelajar ilmu dengan keberadaan gerombolan perampok yang beranggotakan orang-orang “sakti”, dan banyaknya dukun dan orang-orang “sakti” (gentho, preman, kecu, bajingan) di lereng Merbabu hingga kini? Mungkin hanya Tuhan yang tahu, tetapi setidaknya bagi kami Merbabu memang bukan sekadar gunung melainkan rumah, tumpah darah, juga kengerian.

Usulkan entri baru

gento n Jw bangsat; bajingan

Tungkak ini yang banyak warganya berprofesi sebagai pencuri , penjambret , dan
gento. 789996 Aparat perlu menargetkan Petinggi Riau untuk di proses , karena

https://cqpweb.lancs.ac.uk/lccindonesian2/concordance.php?qdata=gento&qmode=sq_nocase&pp=50&qstrategy=0&t=

gento likem n Jw bajingan yang tidak mengenakan baju

gento telengsor n Jw bajingan yang tidak memiliki rumah

gêntho-likêm (g|nTo­lik|m) : ks:gêntho tanpa sandhangan. Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939, #75.
gêntho-tlèngsor (g|nTo­tlEGsOr) : ks:gêntho ora duwe omah.Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939, #75.

gêntho (g|nTo) : kn:bangsat, bajingan. Sumber: Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939, #75.

Leave a comment