Baru-baru ini masyarakat dikagetkan dengan penganugerahan gelar pahlawan kepada sepuluh tokoh nasional. Ada pihak yang menentang, tentu saja mengaitkan tokoh dengan rekam jejak masa lalu yang menurut mereka tidak mencerminkan jiwa kepahlawanan dan ada pihak yang mendukung dengan mengungkap jasa mereka di masa lalu. Pertentangan tersebut tidak berlaku pada sepuluh tokoh yang dianugerahi gelar pahlawan nasional, hanya pada beberapa tokoh saja. Lantas mengapa gelar tersebut harus memintasi jalan panjang, menghadapi penolakan, penundaan dan muncul di saat atau zaman yang tepat? Jawaban sederhana adalah manusia tidak mampu menetapkan definisi paten dan tak tergoyahkan untuk sebuah kata, yakni pahlawan.
Postmodernisme menantang segala narasi besar, yakni narasi atau dongeng-dongeng yang mengaku dapat menjelaskan kebenaran, keadaban, atau makna (seperti yang dijelaskan Jean-François Lyotard dalam The Postmodern Condition, 1979). Sosok “pahlawan” adalah salah satu dari narasi besar tersebut yang melambangkan kejernihan adab atau moral, kemajuan, dan nilai-nilai yang berterima secara luas (universal). Melalui pandangan postmodern, tidak ada pahlawan yang mutlak atau absolut, yang ada hanya hanya cerita atau dongeng tentang pahlawan, yang dibentuk oleh bahasa, budaya, dan kekuasaan suatu zaman. Setiap “pahlawan” adalah bangunan (konstruksi) tekstual atau ideologis sebagai hasil dari wacana, bukan perwujudan dari kebajikan abadi. Dongeng kepahlawanan (heroic narration) mencerminkan apa yang diinginkan masyarakat untuk mereka percayai, bukan kebenaran objektif. Oleh karena itu, pahlawan pascamodern menjadi mengungkapkan sosok sebagaimana dongeng yang kita ceritakan pada diri sendiri, cermin yang memantulkan keinginan, mitos, dan makna khayali yang kita bangun sendiri.
Jean-François Lyotard dalam bukunya The Postmodern Condition (1979), berpendapat bahwa masyarakat modern pernah percaya pada “narasi besar”, yakni kisah tentang kemajuan, pembebasan, akal sehat, atau kepahlawanan. Narasi-narasi tersebut memberikan makna pada sejarah dan identitas. Namun, postmodernisme juga mengungkap ketidakpercayaan terhadap metanarasi. Pahlawan tidak lagi menjadi model universal; ia menjadi fiksi lokal, hanya berlaku dalam permainan bahasa yang kecil dan sementara. Di sisi lain, Michel Foucault berpendapat bahwa kekuasaan menciptakan pahlawan, gagasan tentang pahlawan bukanlah hal yang alami, melainkan dihasilkan oleh sistem kekuasaan. Masyarakat, melalui diskursus, menciptakan sosok-sosok tertentu sebagai “pahlawan” untuk mempertahankan nilainya — tokoh militer, revolusioner, ilmuwan, bahkan diktator, semua dibingkai oleh apa yang diinginkan oleh kekuasaan untuk dikenang. Dalam hal ini, kepahlawanan adalah produk wacana, bukan realitas moral yang bebas merdeka.
Bagi Jean Baudrillard, pahlawan dalam budaya pascamodern menjadi simulacrum — salinan tanpa aslinya. Media massa dan budaya konsumen memproduksi citra kepahlawanan yang terus menerus didongengkan tanpa henti (seperti slogan, enak zamanku to?) yang lebih menyerupai sebuah pertunjukan.
Jacques Derrida menyarankan bahwa “pahlawan” sebagai konstruksi teks, dibangun melalui bahasa dan perbedaan. Setiap pahlawan dihantui oleh kontradiksi, kemurnian bercampur dengan kegagalan, keberanian dengan kerentanan. Maka pahlawan tidak hadir sebagai maujud (entity), sekadar permainan tanda yang sementara.
pah.la.wan
Etimologi: [Persia پﮩلوان pahlawān n ‘juara, pahlawan, atlet’]
Telusuri Selengkapnya
- n orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani; hero
Usulan Makna Baru
1 tokoh mitologis atau legendaris
2 prajurit atau tentara yang terkenal
3 seseorang yang menunjukkan keberanian besar
4 seseorang yang dikagumi karena prestasi dan sifat mulianya
5 karakter utama dalam karya sastra atau drama
6 tokoh utama dalam suatu peristiwa, periode, atau gerakan
7 sosok yg dikagumi oleh penguasa pd suatu zaman
Baudrillard, Jean. Simulacra and Simulation. Trans. Sheila Faria Glaser. University of Michigan Press, 1994.
Derrida, Jacques. Of Grammatology. Trans. Gayatri Chakravorty Spivak. Johns Hopkins University Press, 1976.
Derrida, Jacques. Writing and Difference. Trans. Alan Bass. University of Chicago Press, 1978.
Foucault, Michel. Discipline and Punish: The Birth of the Prison. Trans. Alan Sheridan. Vintage Books, 1977.
Foucault, Michel. The Archaeology of Knowledge. Pantheon Books, 1972.
Lyotard, Jean-François. The Postmodern Condition: A Report on Knowledge. Trans. Geoff Bennington & Brian Massumi. University of Minnesota Press, 1979.