Cindelaras

Sabung ayam ala Jawa tentu berbeda dengan sabung ayam ala daerah lain di Nusantara. Penggunaan ras ayam tertentu dan senjata ayam tertentu merupakan fitur pembeda yang sangat penting. Kesamaannya, sabung ayam di semua wilayah di Nusantara bisa jadi sama, yakni selalu marak hingga sekarang. Konon katanya dalam Kitab Pararaton, Ken Angrok sebelum jadi raja Tumapel adalah tukang sabung ayam. Selain itu, raja Tumapel penerus Ken Angrok yang bernama Anusapati dibunuh adik tirinya yang bernama Tohjaya saat sang raja menyaksikan sabung ayam[1].

Masyarakat Jawa dapat dikatakan mencurahkan perhatian lebih pada ayam dan sabung ayam melalui dokumentasi tulis dan cerita rakyat. Terdapat lebih dari sepuluh prasasti dari era Jawa Kuno yang mencatat aktivitas sabung ayam, beberapa prasasti tersebut adalah Prasasti Wangwang Bangen (824 M), Prasasti Waharu Kuti (840 M), Prasasti Kancana (860 M), Prasasti Waharu I (873 M), Prasasti Telang I (903 M), Prasasti Kubu-Kubu (905 M), Prasasti Sangsang (907 M), Prasasti Kaladi (909 M), Prasasti Timbanan Wungkal (912 M), Prasasti Sugih Manek (915 M), Prasasti Harinjing B (921 M), Prasasti Sangguran (928 M), Prasasti Gulung-Gulung (929 M), Prasasti Linggasuntan (929 M), Prasasti Turryan (929 M), Prasasti Cunggrang I (929 M), Prasasti Cunggrang II (929 M), Prasasti Poh Rinting (929 M), Prasasti Jru-jru (930 M), Prasasti Waharu IV (931 M), Prasasti Anjukladang (935 M), Prasasti Gandhakuti (1042 M), Prasasti Pupus (1100 M), Prasasti Talan (1136 M), Prasasti Tuhanaru (1323 M), dan Prasasti Pabuharan (-).[2]

Betapa pentingnya ayam dan sabung ayam bagi masyarakat Jawa boleh jadi mengerucut pada gambaran ideal ayam petarung yang diyakini masyarakat Jawa. Katuranggan ayam jago merupakan cermin gambaran ideal tersebut, ciri fisik tertentu yang dipercaya dapat mendatangkan tuah tertentu bahkan terangkum di dalam primbon Jawa. Meski ayam tidak masuk dalam tujuh kesempurnaan manusia Jawa, yakni wisma (rumah), garwa (pasangan), turangga (kuda atau kendaraan),  kukila (burung), curiga (keris atau senjata), waranggana (penari),dan pradangga[3] (gamelan atau musik). Meskipun tidak masuk dalam daftar di atas, ayam jago (juga kucing) turut dipaparkan ciri fisik dan potensi tuah yang menyertainya sebagaimana ricikan dan pamor keris, katuranggan perkutut dan kuda[4], dan katuranggan wanita[5].

Bisa jadi, adu ayam di rentang masa Jawa Kuno sampai dengan praayam impor dari Thailand, Burma, dan Vietnam tahun 1980-an adalah ras ayam lokal. Ayam lokal tersebut mungkin tidak terlepas dari nama besar Cindelaras yang terekam dalam cerita rakyat Jawa Timur dan tersebar pula sampai Jawa Tengah. Satu hal yang mungkin membedakan dengan adu ayam wilayah lain adalah penggunaan taji nonpisau yang digunakan pada adu ayam Jawa Kuno. Banyak kalangan menduga keras bahwa sang jagoan memiliki jalu sangket sehingga dapat menamatkan laga dalam tempoh sesingkat-singkatnya. Begitulah, sabung ayam ala Jawa Kuno yang pernah dan masih ada di sekitar kita.

kopek kopyor n Jw ciri fisik jago aduan dng badan yg lembek, terdengar suara air dipegang dan digoyangkan, konon dipercaya memiliki pukulan yg mematikan

geger karang n Jw ciri fisik jago aduan yg memiliki satu bulu yang panjang dan berwarna putih pd ujung sayap, konon dipercaya memiliki mental baja dan mampu mengalahkan lawan dng cepat

bima kurda n Jw ciri fisik jago aduan yg memiliki bulu berukuran besar. konon dipercaya memiliki pukulan yg dasyat

jalu renteng n Jw jalu lebih dari satu yg tumbuh berderet di kaki ayam jantan

jalu keplek n Jw jalu yg tidak tumbuh, biasanya hanya berupa sisik berbentuk bulat

jalu cantel n Jw jalu pendek yg berbentuk seperti ujung kait

jalu sangket n Jw jalu panjang dan melengkung ke atas

jalu kumet n Jw jalu sebesar biji jagung yg tidak dapat tumbuh memanjang


[1] https://www.merdeka.com/jateng/mulai-dari-adu-kekuasaan-hingga-perjudian-ini-sejarah-sabung-ayam-di-nusantara.html

[2] Dzulfiqar Isham. 2015. “Perjudian pada masa Jawa Kuno sumber prasasti abad ke-8 hingga ke-13” (Skripsi). Jakarta: Universitas Indonesia

[3] Santosa, Puji. 2012. Adedamar Wahyu: Pustaka Puisi Falsafah Budaya Jawa. Yogyakarya: Azzagrafika

[4] Santosa, Iman Budhi. 2023. Profesi Wong Cilik: Spiritualitas Pekerjaan-pekerjaan Tradisional. Yogyakarya: Basabasi

[5] Kamajaya, Karkono. 1988. Serat Centini: Relevansinya Dengan Masa Kini. Yogyakarta:  Yayasan Centhini

Leave a comment