Oleh Kahar Dp
Satu kutipan menarik disuguhkan oleh Laurie Halse Anderson, “In one aspect, yes, I believe in ghosts, but we create them. We haunt ourselves[1].” Pengarang novel realis Wintergirls yang diterbitkan pada 2009 tersebut memercayai keberadaan hantu, meski menurutnya keberadaan hantu diciptakan sendiri oleh manusia. Dengan kata lain, Anderson berpendapat manusialah yang menakut-nakuti diri mereka sendiri. Di sisi lain, catatan perjalanan McDonald (1790) berjudul “Travels in Various Parts of Europe, Asia, and Africa durung A Series of Thirty Years and Upwards” mengungkap penampakan The Flying Dutchman yang ia saksikan dengan mata kepala sendiri selepas perjalanan samudera yang terhalang badai. Selain itu, pada 11 Juli 1881, Pangeran Albert Victor dan tiga belas pasang mata awak kapal juga mengaku melihat The Flying Dutchman melintas di dekat kapal mereka yang tengah tertambat di Selat Bass, lepas pantai Australia. “At 4:00 a.m., The Flying Dutchman crossed our bows. A strange red light as of a phantom ship all aglow, in the midst of which light the masts, spars, and sails of a brig 200 yards distant stood out in strong relief as she came up on the port bow.” Sebagaimana dapat kita telusuri, hantu yang dinamai The Flying Dutchman adalah kapal hantu yang dikutuk untuk berlayar selamanya. Kapal hantu ini bagi para pelaut dipercaya sebagai pertanda akan terjadinya bencana. Sang kapten, Vanderdecken, berkeras hati mengitari Tanjung Harapan dalam perjalanannya ke Hindia Belanda saat badai dan karenanya ia dan kapalnya dikutuk tidak dapat menepi selamanya[2].
Meski keberadaan hantu belum dapat dibuktikan secara ilmiah, manusia telah lama berpikir mengenai predikasi konseptual[3], yakni predikasi yang hanya nyata atau memiliki eksistensi di alam mental. Hanya di alam mental, sesuatu memiliki wujud atau eksistensi konseptual. Wujud dari sesuatu atau subjek-predikat adalah konsep-konsep, yang tidak harus nyata. Subjek-predikat tersebut akan lebih mudah kita pahami dengan menilik definisi genderuwo di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, genderuwo n hantu yang konon serupa manusia yang tinggi besar dan berbulu lebat[4]. Subjek “genderuwo” setara dengan predikat “hantu yang konon serupa manusia yang tinggi besar dan berbulu lebat “ dan predikat ‘hantu yang konon serupa manusia yang tinggi besar dan berbulu lebat“ adalah “genderuwo” itu sendiri. Predikasi konseptual yang melekat pada subjek genderuwo mencakupi pernyatan “genderuwo adalah hantu” dan “hantu itu serupa manusia yang tinggi besar dan berbulu lebat”. Keberadaan hantu di dalam alam mental manusia ini selaras dengan pendapat Kridalaksana (2011;142) yang menyatakan bahwa tidak semua kata (dalam hal ini hantu dan jenis-jenisnya) memiliki acuan konkret atau referensi abstrak di dunia nyata[5], serta boleh jadi menguatkan pendapat bahwa hantu adalah produk budaya. Sapir dan oleh Whorf (1956) mengungkap adanya hubungan erat antara bahasa, pikiran, dan realita, yakni suatu bahasa mengkodekan suatu pengalaman dunia, penggunaannya dapat mempengaruhi penutur untuk mengamati dunia sesuai dengan pengalaman yang dikodekan di dalamnya[6]. Sampai di sini kita dapat mengatakan, ya, hantu memang ada, setidaknya ada di dalam bahasa manusia atau ada di dalam wujud budaya komunal yang berwujud gagasan.
Selain itu, dimana lagi hantu itu berada? Encyclopedia Britannica mungkin dapat menjadi salah satu jawaban. Salah satu contoh, kata ghoul dicatat oleh produk leksikografi ini sebagai a demonic being believed to inhabit burial grounds and other deserted places. Ya, dalam produk leksikografi manusia hantu itu ada. Lantas dimana lagi? Pada relief candi Sukuh yang dibangun pada masa Majapahit pada abad ke-15 Masehi masa pemerintahan Ratu Suhita terdapat pahatan sosok jejengklek dan genderuwo, hantu berwujud raksasa menyeramkan yang memiliki rambut panjang. Selain itu terdapat pula tendas buntit (hantu berupa kepala manusia), laweyan (hantu berwujud badan tanpa kepala), tatangan (hantu tangan), buta bang (raksasa merah), buta hijo (raksasa hijau), Namun demikian relief candi ini ternyata bersumber pada Kidung Sudhamala, Hucapen balanira, mtu kabeh tatangan, lawan bowong laweyan lawan roro, tendas buntit buta bang lan buta hijo, kabeh pada menga. Ya, kembali lagi, karya sastra yang konon ditulis pada akhir zaman Majapahit inilah yang menjadi rujukan pemahatan relief candi Sukuh. Selain Kidung Sudhamala, terdapat pula Kakawin Sena yang ditulis di atas lontar menggunakan aksara gunung atau buda dan sebagian aksara Jawa pada abad ke-16 s.d. ke-18, ditemukan pada 1822 di lereng gunung Merbabu, tepatnya di kompleks pemakaman Ki Ajar Windusana. Konon, Ki Ajar Windusana adalah seorang pendeta agama buḍa (bukan Buddha) sekitar abad ke 18 yang mengumpulkan 357 naskah kuno, 330 di antaranya disalin menggunakan aksara buḍa, dan 27 sisanya disalin menggunakan aksara Jawa Baru[7].
Tentu saja, nama-nama hantu di dalam Kakawin Sena tidak semuanya masih digunakan di dalam masyarakat Jawa. Rentang waktu panjang yg konon diperkirakan dari karakteristik aksara buda gaya Medang hingga aksara Jawa moderen saat ini berpeluang menghilangkan beberapa nama hantu Jawa. Winter (1928) mencatat nama hantu laweyan (bahasa Jawa Kuno) dengan memaknainya sebagai badan[8], bukan lagi sebagai hantu. Di zaman kekinian ini sepertinya manusia Jawa jarang yang membahas kengeriannya akan hantu badan tanpa kepala ini. Hantu-hantu baru terus bermunculan meski beberapa hantu Jawa Kuno masih “eksis”hingga sekarang. Kengerian terhadap wedon (hantu berwujud mayat[9]) yang didokumentasikan oleh Poerwodarminto (1939) harus bersaing dengan ketenaran hantu kromoleo yang konon berwujud keranda berjalan beserta pengiringnya yang “katanya” sering dijumpai masyarakat lereng Merapi. Di Cilacap dan Pangandaran, nama besar bandalungan, hantu yg konon berwujud raksasa berkepala api harus bersaing dengan kawuk yg dipercaya sebagai hantu jelmaan dari seorang manusia yang dulunya menimba ilmu hitam, dan saat dia tewas[10]. Demikianlah hantu pernah, masih, dan akan terus ada; setidaknya dalam karya sastra, produk perkamusan, dan alam pikir kita. Sama sekali tidak ada salahnya jika Anda saat ini menoleh sedikit ke belakang, jangan-jangan satu di antara mereka telah ada di belakang Anda.
Sekian.
Usulkan Entri Baru
tendas buntit n Jw ark hantu yg konon berupa kepala manusia
laweyann Jw ark hantu yg konon berwujud badan tanpa kepala
tatangan n Jw ark hantu yg konon berupa tangan manusia
buta bang n Jw ark hantu yg konon berupa raksasa berwarna merah
buta hijo n Jw hantu yg konon berupa raksasa berwarna hijau
dengen n Jw ark hantu yg konon mengerikan yg memiliki suara mirip suara burung hantu
kamangmang n Jw <i> kemamang <i>
kemamang n Jw hantu yg konon berwujud api yg muncul dr balik pepohonan.
bandalungan n Jw ark hantu yg konon berwujud raksasa berkepala api
tengis n Jw hantu yg konon tidak berwujud, mengeluarkan suara seperti suara belalang
gegembung n Jw ark hantu yg konon berwujud badan tanpa kepala
hanja sirah n Jw ark hantu yang konon berwujud kepala manusia dng taring panjang yg gemar mengisap darah manusia
jejengklek n Jw ark hantu yg konon memiliki wujud raksasa menyeramkan dng taring memanjang hingga menyentuh tanah
kukuk bawil n Jw ark hantu yg konon menghuni kuku manusia yg panjang dan kotor
rarik bajang n Jw ark hantu yg konon berwujud mayat bayi
popoting komara n Jw ark hantu yg konon berupa tali pusar bayi
henco n Jw ark hantu yg konon berwujud burung yg muncul menyertai hantu <i> dengen<i>
huci–huci n Jw ark hantu yg konon berwujud burung yg muncul menyertai hantu <i> dengen<i>
bajang kerek n Jw ark hantu yg konon berwujud mayat bayi yg mati keguguran atau sengaja di gugurkan
[1] Anderson, Laurie Halse. 2009. wintergirls. New York: Penguin Group
[2] https://www.britannica.com/topic/Flying-Dutchman
[3] Sulaiman, Ahmad Amin. 2023. Apakah Ketiadaan (Nothingness) itu ada? Kritik predikasi dalam perspektif Filsafat Islam dalam Refleksi https://lsfdiscourse.org/apakah-ketiadaan-nothingness-itu-ada-kritik-predikasi-dalam-perspektif-filsafat-islam/
[4] https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/genderuwo
[5] Febrindasari, Chyndy. 2018. “Leksikon ‘Hantu’ Dalam Bahasa Indonesia: Kajian Linguistik Antropologis” dalam Jurnal Handayani (JH). Vol 9 (1) Juni 2018, hlm. 10-21
[6] Whorf, Benjamin Lee. 1956. Language, Thought, and Reality. USA: The Massachussets Institute of Technology.
[7] Nggar, Ghis. 2020. “Risalah Keislaman di Dunia Jawa Kuno Merapi-Merbabu” dalam https://langgar.co/risalah-keislaman-di-dunia-jawa-kuno-merapi-merbabu/
[8] Têmbung Kawi Mawi Têgêsipun, Wintêr, 1928, #1506.
[9] wêdhon (w|DOn) : kn. ar. mêmêdi kang awujud mayit; banyu [x] êngg: banyu kang mêntas dianggo nucèni mayit.
Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939, #75.
[10] https://kumparan.com/dukun-millennial/mitos-kawuk-hewan-pemakan-mayat-di-nusakambangan-1vdMVGbh9Fd/full