Jalan Tak Tertempuh

Dua jalan di rerimbun hutan, persimpangan
Dan maaf, tiada mampu ku tempuh keduanya
Selaku pengembara, lama kuberdiri
Kupandangi satu jalan
Berkelok di sebalik semak, entah kemana

Kupandang jalan lain-hampir sama
Lebih baik, mungkin saja
Lebat berumput, jarang terlewati;
Para pejalan pasti kira
Keduanya hampir sama,

Pagi itu, keduanya membentang
Berhampar dedaun, tiada terusik.
O, untuk kali lain ku simpan yang pertama!
Meski ku tahu semua jalan akan bersua,
Aku ragu: mampu kembali.

Ku tuturkan ini sembari berdesah
Di suatu tempat-masa kan datang
Persimpangan di hutan, dan aku-
Aku pilih yang jarang dilalui,
Dan ia kan mengubah segalanya.

-“The Road Not Taken “ by ROBERT FROST
180118-kdp version (translation)

Di Tepi Rimba

Di tepi rimba kuberbaring, siang yang terlelah
di hampar rerumput, sayup nyanyi merbah
merdu tlah tidurkan segenap lembah
dalam damai ratapannya.

di sini kurasa nyaman, dalam kehinaan
kesombongan orang-orang kutinggalkan
tak pernah bisa menusukku hingga tersakit
dan kumanjakan diri: dengan seleraku.

dan jika orang baik mau berpikir,
tidaklah cuma-cuma ia buang waktu: sang tuan penyair
mereka yang terus mengawas dalam satir
demi sonet dan kekata yang terjalin
oleh jemarinya, O ternyata
hingga mataku menikmati
betapa lanskap: luas terbentang

“Am Walde” by EDUARD MOERIKE 1830
080416-kdp version (translation)

Nyanyi


─untuk gadis Loreley

sekejap aku terpana,
pada nada-nada melenting di bebatuan, dinding kanan.
cadikku pelan melaju di kepekatan alir.
senja semakin temaram dan ku lihat engkau.
gadis Bacharach di ketinggian. tentu dirimu bukan bidadari.
sosok menawan duduk di atas batu. di cincin lembah, di bibir
Rhine.
ku lihat engkau, dari kejauhan. menyisir pelan rambut panjang:
keemasan.
sesekali engkau berjingkat, telapak tangan memayung mata.
melihat kejauhan.
jauh di seberang, puri Katz megah di seberang. memicing mata,
kira kekasih hati duduk di atas kendara.
sementara sayupmu masih menggelora, memeluk tebing,
mengiris arus, menusuk kedalaman
hingga air berputar-putar dan cadikku seakan terlempar.
nada-nada yang bersayap , melayang
dari ketinggian. seperti mantra yang tak bisa ku tirukan.
melenting dan menghantam tebing.
gaung-gaung bersusulan. memenuhi ceruk hingga perlahan
melepaskan sayapnya dan menyelam. hingga hilang dalam pusaran.

mulut mungil memanggil-manggil. usaikan tatap sebelum
senja tenggelam. engkau yang percayala pada palung itu. dan
ia yang akan menemu kehilangan. nyanyi bersama
pecadik-pecadik karam.
kekasih sejati, tak lagi mampu hargai: keberadaan.
290618-kdp

149 Kalangkang_Kahar Dp

Weimar


hatimu telah memikatku, rerimbun hijau
biji-biji penuh harap, Ginko Billoba
menuju liat daya ingat, bersinar cerlang
porselen-porselen cantik, Schillerstraße
kedalaman jantung Rococco dan Barok, tawarkan pesona
berdiri dalam bayang, bangunan tua
di sela bebangku kafe aroma sedap, menyusup menggoda
Faust dan Margarette, lihatlah mereka
terbenam dalam gelak, mencumbu canda
hingga Mephisto berduka, terinjak di tapak para pejalan
di seberang jalan, sayup syair mengalir
anak panah, apel, anak kecil, dan sang pemanah; Wilhelm Tell
riuh sang tiran telah tumbang, Albrecht Gessler
dalam peluk musim panas, Schloss Belvedere
cekam telah terkubur, di kaki elok bangun istana
engkau bersiul merdu, kecantikan kupu-kupu
rinduku menderas, amuk bersama nyanyian
Sebastian Bach merenda angan
─sebuah persuaan.
210618-kdp

143 Kalangkang_Kahar Dp

Lonceng

─terkenang Karl Georg Büchner

Rembulan berkerubut kunang
mereka makan sebagian
hingga lengkung redup tak kentara
di kejauhan, awan bergelombang
menghadang sinarnya
kira malaikat sedang membakar kemenyan
dari surga
Air mata rembulan, dan cahya bening bercucuran
di atas danau, keriap binatang-binatang malam
Inikah burung cinta dan kuda astronomi?
wanita tenggelam dada bidang
seperti banteng, janggut lebat seperti singa
dan wanita sesungguhnya
lonceng neraka
ia pemburu tepian Rhine
melewati hutan berpacu kuda
pisau itu terlempar air, tenggelam seperti batu
bagaimana musim panas akan datang
dan orang-orang berlomba mencari kerang
siapa akan mengenali?
Woyzeck, harusnya engkau patahkan tadi.
Air mata rembulan, dan kabut di mana-mana
Kumbang air riang beterbangan
seperti bunyi lonceng pecah.
di tepi danau, orang-orang meriaki seorang bocah

bermain kuda-kudaan dan bersorak,
“Hip hip hurraaa…”
dan teriak orang-orang semakin kencang,
“Hoi, ibumu telah mati”.
050518-kdp

Kalangkang_Kahar Dp….136

der Schatten

─terkenang Martin Heidegger
Bergegaslah ke Marburg. Ke kastil tua. Di sanalah keindahan
duduk di singgasana. Di atas bukit dipeluk kota tua, Marburg
an der Lahn. Jalan-jalan sempit, berliku, berbukit-bukit.
Rumah-rumah tua beratap taman, gereja-gereja, dan
pemandangan makin menawan. Seraya engkau membawa
tubuhmu lebih tinggi, beribu anak tangga. Naiklah setelah
engkau berbelok di tikungan terakhir. Dan kepadamu ia
sajikan kata-kata, Die Brüder Grimm.
Engkau juga akan menemu bagaimana penjaga-penjaga
mengawasi para penyusup. Mengendap di gelap rerimbun
hutan. Dan engkau akan takjub kemegahan mata. Yang
mampu bergerak ke atas dan ke bawah menangkap kelebat
hidup. Luangkan langkahmu ke taman kecil, duduklah di salah
satu bangku. Nikmati bebunga musim panas, air mancur, dan
pemandangan puri megah, latar belakang. Engkau harus pergi
ke sana untuk melihat dan percaya.
Di kastil itu, engkau akan menemu bayang Rilke. Kecantikan
yang indah tidak lain adalah awal dari kengerian. Engkau juga
akan mendengar sayup Hölderlin, yang indah menyatukan
perbedaan dalam keintiman. Siapa yang bisa mencapai
kedalaman keindahan, siapa selain kekasih?

Hannah, janganlah engkau lupakan aku. Bersama suratmu,
kenanglah berapa banyak dan seberapa dalam aku tahu. Bahwa
cinta telah menjadi berkat dalam hidupmu.
060518-kdp

129 Kalangkang_Kahar Dp

pateangan-teangan



siapakah ia, bermuram di bawah sana
bergumul pekat, kabut gulita
O, ia tengah mencari mempelainya
menyibak kabut, mengani petang
ke mana mencari, sahut tak kembali
ia pencari: bergaun sepi.
siapakah ia, melesat di rerimbun
pepohon bisu, lereng curam
O, tak jua temu kekasih hati
tebing terjal, saling mencari
Patuha dan gunung tua
ia kembara memanggul nestapa
tangis menggelora, Rengganis mengiba
Situ Patenggang menggenang air mata
mengapung tenang pulau asmara
dan hitam kelam pencarian:
cinta membatu.
Rancabali, 231217-kdp

Kalangkang_Kahar Dp….100

Kalangkang

Bayangmu berdiri di babantar. Bercermin pada alir semata kaki
tenang mengusap-usap perjalanan. Engkaupun termangu,
hanya bayang mumunggang engkau temu. Perlahan alir
menghanyutkanmu menuju leuwi tak berpenghuni. Jadilah
engkau menghuni kedalaman: dan air matamu mulai
menggenang.
Tangismu mengisi lamping, penuh di kanan dan di kiri.
Sebentar saja telah meluap menenggelamkan reuma.
Siang itu hanya ada tangismu dan kabut perlahan turun.
Mereka tak dapat mengelak dari kuyup. Peluk kedalaman:
menggigil dingin bayangmu mencoba berenang. Alir
menjelma deras, bayangmu mengapung lalui sembilan
jungkrang menuju muhara. Muhara kenang:bayangmu tak
mampu menggapai hulu. Alir telah menyatukan bayang dan
perjalanan: masa lalu.
Di bobojong engkau tersipu, sembari duduk di atas batu.
Cigadung, 261117-kdp

Thaenophylum


Pegang hatimu teguh, peluk tubuh erat!
Tubuh kecilnya gementar, indahnya jatuh.
Kulit tubuh tua mengelupas, terlempar ke lantai. Berserak!
Ke mana iba dan penghidupan, Meranti Merah?
Sosok mungil itu mencari naungan, dalam kekacauan
Atau sesungguhnya irulah jalan, alam!
Ia tak akan teriak marah pun dendam.
Di lantai ia terbaring, terjatuh dari pijakan. Kematian!
Tubuh mengering, terjepit di antara bebatu!
Tubuh jelita, terhimpit dedaun tiga purnama merindu.
Waktu berkejaran, selalu sama.
dan anak-anak bertumbuh.
Mereka mengulang, menijak hidup. Rapuh!
Merindu tapi tak mendendam.
Meski begitu, siapa yang akan melihat ini sampai akhir?
Sementara engkau merenung,
Thaenophylum tiada mengiba, Meranti Merah tiada marah
Bercengkerama dengan Meniran, Ketapang, dan Bala
Di Tahura Djuanda kubah nafas kota.
Djuanda, 081818-kdp

Dimuat di dalam Kalangkang 2018

Poetry

Ku Lihat Hidup dalam Kuntum Padma

KaharDp


Dari sebuah lembar putih
langkahku bermula;
Perlahan ku ikuti tapak
yang menuntunku
lewati untaian titik
tuk gapai titik berikutnya;
bukan…
bukan langkah lurus semata;
terkadang meliuk gores,
dalam gurat geometrisNya,
sembari tetap
ku tatap erat Laut Utara;
dan terkadang…
dalam paksa,
ku harus berhenti
cukup lama;
merenung pada bulatan merah soga;
seringkali…
ku harus berbagi ambisi;
pada buah kawung yang terlempar
ke empat penjuru;
timur, selatan, barat, dan utara;

Perlahan…
dalam gores lazuardi
langit biru di atas sana;
Den Ayu Lanjar lirih menyapa;
Jlamprang, dapatkah engkau menggapaiku
segera?
Ah…lagi-lagi
tak ku lihat makhluk bernyawa;
dan kembali…
ku lihat hidup dalam kuntum padma;
140717-kdp

Di muat di dalam Antologi Puisi Jendela Pekalongan (2017), DKP