Bayangmu berdiri di babantar. Bercermin pada alir semata kaki
tenang mengusap-usap perjalanan. Engkaupun termangu,
hanya bayang mumunggang engkau temu. Perlahan alir
menghanyutkanmu menuju leuwi tak berpenghuni. Jadilah
engkau menghuni kedalaman: dan air matamu mulai
menggenang.
Tangismu mengisi lamping, penuh di kanan dan di kiri.
Sebentar saja telah meluap menenggelamkan reuma.
Siang itu hanya ada tangismu dan kabut perlahan turun.
Mereka tak dapat mengelak dari kuyup. Peluk kedalaman:
menggigil dingin bayangmu mencoba berenang. Alir
menjelma deras, bayangmu mengapung lalui sembilan
jungkrang menuju muhara. Muhara kenang:bayangmu tak
mampu menggapai hulu. Alir telah menyatukan bayang dan
perjalanan: masa lalu.
Di bobojong engkau tersipu, sembari duduk di atas batu.
Cigadung, 261117-kdp