Pegang hatimu teguh, peluk tubuh erat!
Tubuh kecilnya gementar, indahnya jatuh.
Kulit tubuh tua mengelupas, terlempar ke lantai. Berserak!
Ke mana iba dan penghidupan, Meranti Merah?
Sosok mungil itu mencari naungan, dalam kekacauan
Atau sesungguhnya irulah jalan, alam!
Ia tak akan teriak marah pun dendam.
Di lantai ia terbaring, terjatuh dari pijakan. Kematian!
Tubuh mengering, terjepit di antara bebatu!
Tubuh jelita, terhimpit dedaun tiga purnama merindu.
Waktu berkejaran, selalu sama.
dan anak-anak bertumbuh.
Mereka mengulang, menijak hidup. Rapuh!
Merindu tapi tak mendendam.
Meski begitu, siapa yang akan melihat ini sampai akhir?
Sementara engkau merenung,
Thaenophylum tiada mengiba, Meranti Merah tiada marah
Bercengkerama dengan Meniran, Ketapang, dan Bala
Di Tahura Djuanda kubah nafas kota.
Djuanda, 081818-kdp
Dimuat di dalam Kalangkang 2018