─terkenang Martin Heidegger
Bergegaslah ke Marburg. Ke kastil tua. Di sanalah keindahan
duduk di singgasana. Di atas bukit dipeluk kota tua, Marburg
an der Lahn. Jalan-jalan sempit, berliku, berbukit-bukit.
Rumah-rumah tua beratap taman, gereja-gereja, dan
pemandangan makin menawan. Seraya engkau membawa
tubuhmu lebih tinggi, beribu anak tangga. Naiklah setelah
engkau berbelok di tikungan terakhir. Dan kepadamu ia
sajikan kata-kata, Die Brüder Grimm.
Engkau juga akan menemu bagaimana penjaga-penjaga
mengawasi para penyusup. Mengendap di gelap rerimbun
hutan. Dan engkau akan takjub kemegahan mata. Yang
mampu bergerak ke atas dan ke bawah menangkap kelebat
hidup. Luangkan langkahmu ke taman kecil, duduklah di salah
satu bangku. Nikmati bebunga musim panas, air mancur, dan
pemandangan puri megah, latar belakang. Engkau harus pergi
ke sana untuk melihat dan percaya.
Di kastil itu, engkau akan menemu bayang Rilke. Kecantikan
yang indah tidak lain adalah awal dari kengerian. Engkau juga
akan mendengar sayup Hölderlin, yang indah menyatukan
perbedaan dalam keintiman. Siapa yang bisa mencapai
kedalaman keindahan, siapa selain kekasih?
Hannah, janganlah engkau lupakan aku. Bersama suratmu,
kenanglah berapa banyak dan seberapa dalam aku tahu. Bahwa
cinta telah menjadi berkat dalam hidupmu.
060518-kdp
129 Kalangkang_Kahar Dp