Suatu ketika saya mendengar cerita unik dari seorang teman yang bekerja di sebuah pabrik yang setiap hari hanya bekerja menjahit lengan baju tanpa pernah tahu tampilan akhir baju yang pernah ia turut kerjakan. Hari berganti dan pekerjaan yang sama terus berulang. Ia sebenarnya sangat menyukai model lengan suai atau lengan puff, malangnya sudah beberapa bulan ini ia hanya diperintah untuk menjahit lengan balon dan lengan cape. Semestinya dengan pengalaman yang ia miliki, ia dapat mengerjakan semua, bahkan lengan kemeja dan lengan kerut pun ia bisa tangani dengan baik. Jangankan lengan, gaun utuh pun dapat ia libas dalam sekejap. “Harus sesuai perintah si anu”, katanya. Ia merasa tidak berarti dalam keseluruhan produksi karena hanya menjahit lengan. Tak berhenti di situ, hubungannya dengan pekerja lain juga memprihatinkan, tumpukan lengan yang menjulang tinggi seakan menjadi sekat antara ia dan “temannya”. Masing-masing terbenam dalam proses produksi yang menjemukan hingga ia tak tahu benar apa beda diri dengan mesin di hadapannya. Saya hanya bisa mendengarkan dan menerka, mungkin ini yang disebut oleh anu sebagai alienasi.
a.li.e.na.si
4. proses dimana perusahaan dng sengaja membuat pekerja menjadi terasing dari aktivitas produksi, tujuan aktivitas produksi, produk, dan kegiatan sosial sesama pekerja
Rujukan:
Musto, Marcello (editor). 2021. Karl Marx’s Writings on Alienation. Cham: Palgrave McMillan. ISBN 978-3-030-60781-4