Hujan

Hujan I

Nampaknya hujan segera membasahi malammu

kursi panjang bercengkerama dengan kerlip lampu

jauh di seberang bukit pucuk tusam tengah bernyanyi

seperti biasa bersama anggrek tebu menghibur diri

kursi bambu dan beranda adalah singgasana percintaan

ia pula persinggahan diam, sesekali menggeretak harapan

seperti biasa tepisan angin melaju pelan ke timur bukit

turun membelai lembah, bersama kisah indah teranggit

Cibeunying Kaler dan Cimenyan, aku yakin telah basah

hujan segera datang dan tanda alam tiada mengacah

nafas dan benakku serasa tinggal di berandamu

bersama harum limus di penghujung September lalu

malam ini tetes hujan menyentuh tanah

di sini aku kan slalu rindukan rumah

300917-kdp

Ralph Waldo Emerson sangat mengagumi hujan sebagaimana ia memandang hujan sebagai limpahan keindahan dan cinta bagi manusia. Sebagian besar penghuni bumi sepakat tentang hal ini tetapi kesepakatan ini tak lebih dari dua sisi mata uang yang menghadap ke arah yang berkebalikan. Di satu sisi mereka percaya hujan adalah berkah, di sisi lain mereka juga hujan dengan ketidakpastian.  Dalam beberapa budaya, manusia merindukan dan mengusahakan kedatangan hujan sekaligus berupaya menolak atau mengalihkan hujan.

Kemana pun salju akan luruh, atau air akan mengalir, atau burung-burung mengerawang, kapan pun siang dan malam bertemu di senjakala, di mana pun langit biru digelayuti awan, atau ditaburi gemintang, di mana pun wujud-wujud dengan batas-batas yang tak kasat mata, dimana pun terbentang jalan setapak menuju angkasa, di mana pun terdapat marabahaya, dan berkah, juga cinta, di sana ada keindahan, yang berlimpah seperti hujan, yang dicurahkan bagimu[1]

Keberadaan hujan merupakan berkah sekaligus masalah dalam sistem sosial-ekologi manusia di berbagai belahan dunia. Terlampau banyak atau terlalu sedikit hujan pada waktu-waktu tertentu dapat merusak tanaman, memaksa manusia melakukan perpindahan, juga memegaruhi ternak dan populasi satwa liar, meningkatkan potensi kebakaran hutan, penularan penyakit, dan lain-lain[2].

Meski manusia dapat berupaya mengantisipasi dan mengambil tindakan agar terhindar dari ancaman, ketidakpastian senantiasa mengintai. Salah satu tindakan manusia adalah ritual hujan yang menurut kacamata antropologi ekologis dapat dilihat sebagai adaptasi manusia untuk menghadapi ketidakpastian variabilitas curah hujan[3].

Demikian pula masyarakat Jawa, ritual hujan masih kerap dilakukan saat bulan Dulkaidah dan Besar, bulan yang diyakini baik untuk menyelenggarakan hajatan pernikahan atau hajatan mengundang massa yang lain. Ritual hujan ala Jawa menggunakan ritual tertentu, juga sapu lidi dan bawang merah serta cabai. Ritual ini dapat dipandang sebagai adaptasi manusia Jawa terhadap ketidakpastian cuaca. Sapu lidi didirikan terbalik di luar rumah dan ujung sapu lidi tersebut ditusukkan cabai dan bawang merah. Setelah sapu lidi sudah terpasang, seorang tetua melafalkan mantra.

Niat ingsun ora ngadekaké sapu biasa/Nanging sapu jagat kanggo ngresiki mendhung/Udan lan angin saka paran …/Diguwak menyang paran …./Sawetara wektu … ndina/Saking kersaning Allah taala

Niat hamba bukan sekedar mendirikan sapu biasa/Tetapi sapu jagad yang mampu membersihkan mendung/Hujan dan angin di wilayah nama daerah/Dipindahkan ke daerah …/Untuk jangka waktu … hari/Semoga Allah mengabulkan

Kelompok masyarakat yang lain menggunakan sesaji sebagai perantara atau pendorong doa pada saat mantera di ucapkan. Sesaji-sesaji yang digunakan untuk upacara tolak hujan diantaranya adalah, gedhang setangkep, kopi kenthel, gecok bakal, sada lanang, jajan pasar, pala pendhem, kembang setaman dan menyan madu. Sementara kelompok yang berbeda, membaca doa yang berbunyi Allahumma hawalayna wa la ‘alayna, Allahumma alal akami wad thirobi, wa buthunil audiyyati wa manabitis syajari (“Ya Allah turunkanlah hujan di sekitar kami, dan jangan turunkan kepada kami untuk merusak kami. Ya Allah turunkanlah hujan di dataran tinggi, beberapa anak bukit, perut lembah dan beberapa tanah yang menumbuhkan pepohonan’).

              Pada kesempatan berbeda, manusia melaksanakan ritual hujan berupa doa agar hujan turun. Masyarakat Dukuh Partopo, Situbondo melantunkan tembang Pamoji, yakni permintaan seorang hamba kepada Tuhannya.

Bismillahirrahmanirrahim/Tembang pamoji kaule/Pamojina socce kalaben ate se pote/Kaangghuy ngadep ajunan Gusti/Moge-moge karadduwe parnyo’onan banpartobeden/Son nak poto abibiden Nabi Adam/Wekasane Nabi Muhammad/Sengkok jenneng Alif,/Alif igu popocogi/Sang pangocap sapa liwepa/Sengko’ makhlukka Allah/Mandhi… mandhi… mandhi…Diye…Tekka… tekka… tekka…[4]

Begitulah manusia, makhluk yang senantiasa beradaptasi dengan lingkungan ekologisnya.

Usulkan Entri Baru

hujan monyet n hujan poyan

https://www.suaramerdeka.com/hiburan/048576111/fenomena-udan-kethek-erat-dikaitkan-dengan-mitos-simak-dulu-penjelasan-ilmiahnya-ternyata

hujan tokek n hujan poyan

https://www.krjogja.com/yogyakarta/1242465617/mengulik-udan-tekek-fenomena-hujan-di-tengah-teriknya-matahari

hujan konvektif n hujan yg terjadi karena adanya perbedaan panas antara lapisan udara dan permukaan tanah, semakin panas atmosfer udara dng suhu tinggi akan berubah menjadi udara dingin dan uap air mengembun, membentuk awan kumulus yg jatuh sebagai hujan

hujan orografis n hujan yg terjadi ketika udara lembap dipaks​a naik oleh pegunungan atau dataran tinggi

https://www.rri.co.id/index.php/cek-fakta/711856/mengenal-hujan-orografis-simak-fakta-menariknya#:~:text=Pengertian%20hujan%20orografis%20adalah%20jenis,air%20mengembun%20dan%20membentuk%20awan.

hujan muson n hujan musiman yg disebabkan oleh angin muson dan mengakibatkan  terjadinya musim kemarau

hujan siklon n hujan yg terjadi karena suhu permukaan bumi tidak stabil sehingga menjadi lembap dan diikuti angin yg berputar ke atas

hujan buatan n hujan hasil rekayasa manusia dng cara pembentukan awan air , biasanya dilakukan untuk menanggulangi kekeringan dan kebakaran hutan

https://www.businesstoday.in/technology/news/story/what-is-artificial-rain-heres-how-cloud-seeding-fared-in-uae-china-russia-406046-2023-11-17

hujan tanah n hujan yg terjadi di lautan berupa campuran air dan material tanah yg terbawa angin

beberapa laporan menyebutkan bahwa sebagian penghuni pantai laut mengalami turunnya

hujan tanah , dan kadang-kadang hujan ikan yang diturunkan bersama air hujan .

hujan deras n hujan lebat

hujan deras menembus dengan kecepatan yang tak bisa ditebak manusia

24815 Sudah

hujan lebat n hujan dng intensitas paling rendah lima puluh milimeter per dua puluh empat jam dan atau dua puluh milimeter per jam

https://www.bmkg.go.id/cuaca/probabilistik-curah-hujan.bmkg

hujan sedang n hujan dng intensitas lima puluh sampai dengan seratus milimeter per dua puluh empat jam

https://www.bmkg.go.id/cuaca/probabilistik-curah-hujan.bmkg

hujan ringan n hujan dng intensitas dua puluh hingga lima puluh milimeter per dua puluh empat jam

https://www.bmkg.go.id/cuaca/probabilistik-curah-hujan.bmkg

namun karena wilayahnya lebih rendah dengan sungai hujan ringanpun air masuk kerumahnya

hujan ekstrim n perpaduan hujan lebat dan hujan es

Hujan ekstrem di Kota Semarang yang berlangsung lebih dari empat jam

hujan eshujan yg berbentuk butiran es yg memiliki garis tengah paling rendah 5 (lima) milimeter (mm) dan berasal dari awan Cumulonimbus

hujan ekuatorial n hujan yg terjadi di wilayah yg memiliki dua puncak musim hujan, biasanya terjadi sekitar bulan Maret dan Oktober.

https://news.detik.com/berita/d-7135642/3-tipe-pola-hujan-di-indonesia-simak-penjelasan-bmkg

hujan durian n ki mendapatkan banyak keberuntungan

sebuah pelajaran bahwa hujan durian di negeri tetangga yang tak seindah hujan air di negeri sendiri


[1] Ralph Waldo Emerson (2003). “Nature and Other Writings”, p.177, Shambhala Publications

[2] Niang, I., O.C. Ruppel, M.A. Abdrabo, A. Essel, C. Lennard, J. Padgham, and P. Urquhart. 2014 “Africa,” in Climate Change 2014: Impacts, adaptation, and vulnerability. Part B: Regional aspects. Contribution of Working Group II to the Fifth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Edited by V.R. Barros, C.B. Field, D.J. Dokken, M.D. Mastrandrea, K.J. Mach, T.E. Bilir, M. Chatterjee, K.L. Ebi, Y.O. Estrada, R.C. Genova, B. Girma, E.S. Kissel, A.N. Levy, S. MacCracken, P.R. Mastrandrea, and L.L. White, pp. 1199-1265. Cambridge, United Kingdom: Cambridge University Press.

[3] Hannaford, M.J., and D.J. Nash 2016 Climate, history, society over the last millennium in southeast Africa. Wiley Interdisciplinary Reviews: Climate Change 7(3):370-392. https://doi.org/10.1002/ wcc.389

[4] Maknuna, Laksari L., et al. “Mantra dalam Tradisi Pemanggil Hujan di Situbondo: Kajian Struktur, Formula, dan Fungsi.” Publika Budaya, vol. 1, no. 1, Nov. 2013.

Jati

Konon, pohon jati menduduki posisi penting di hati masyarakat Jawa. Banyak wilayah di Jawa (Tengah dan Timur) menggunakan penamaan wilayah dengan mencantumkan kata jati. Beberapa di antaranya adalah Jatiombo, Jatibarang, dan Jatingaleh di Kota Semarang[1], Desa Jati [2](Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar), dan Jatimalang Klirong Kebumen[3]. Tak mengherankan memang, kekaguman masyarakat Jawa terhadap kayu jati yang melebihi kayu-kayu lain tidak beranjak jauh dari kualitas kayu jati yang berterima di sebagian besar kalangan. Bahkan, masyarakat Jawa menyebut kayu ini sebagai “sejatining kayu[4]” atau ‘kayu yang sebenar-benarnya’.  Hal tersebut menguatkan pendapat mengenai kekaguman masyarakat Jawa terhadap kayu Tectona grandis ini. Masyarakat Jawa rela meminjamkan leksikon jati, sejati sêjatos k. sanyata, kang ora palsu[5](sejati, nyata, tidak palsu) untuk disematkan kepada jenis kayu yang baru masuk ke Nusantara pada 1842[6] ini.

Salah satu spekulasi menyebutkan bahwa cerita akan berbeda jika pemerintah kolonial pada tahun 1800an membawa bibit pohon ulin Eusideroxylon zwageri ke Jawa, mungkin yang akan disemati nama sejatos, sejati adalah pohon ulin ini. Spekulasi ini tentu harus dikaji ulang karena kekaguman masyarakat Jawa tempo dulu terkait dengan penanaman Tectona grandis  di Kalingga, Pantai Timur India Selatan, di sekitar candi pada abad II M[7] sebagai penghormatan kepada dewa Shiwa. Dari sinilah kita dapat melihat bahwa sematan kayu yang benar-benar kayu’ ternyata berasal dari “kabar dari jauh” karena Tectona grandis masuk ke Jawa pada 1842, lama setelah ditanam disekitar  candi-candi Kalingga, India.

Rentetan kekaguman tersebut boleh jadi menyiratkan bahwa sebelum 1842 kata jati belum mengacu kepada makna pohon jenis tertentu. Kata tersebut bisa jadi hanya bermakna temen; nyata (‘nyata’; ‘sungguh-sunguh’) seperti catatan Gericke dan Roorda 1847 sebagai ‘wujud yang sebenarnya dari sesuatu atau seseorang; jatya, têmên, dan nyata; hakikat manusia. Kata jati yang berasal dari bahasa Jawa Kuno jatya ini pada perkembangan selanjutnya digunakan dalam konteks lebih luas sebagaimana jargon yang sering kita dengar, bahasa adalah jati diri bangsa; yang bermakna ‘bahasa adalah hakikat suatu bangsa’ pun dapat dimaknai ‘bahasa adalah ciri-ciri, gambaran, keadaan khusus atau identitas suatu bangsa’[8].

Kekaguman masyarakat Jawa atas “berita dari jauh” tentang pohon suci Tectona grandis tidak serta merta pudar setelah pohon tersebut berkembang di Jawa. Kekaguman tersebut justeru berkembang sebagaimana cerita-cerita rakyat di Jawa banyak mengangkat tema “perjatian”. Terdapat sumbu cerita yang dapat dikatakan unik karena di berbagai tempat di Jawa (Tengah) berkembang cerita tentang tumbuhnya pohon jati berkualitas tinggi yang pada masanya ditilik oleh pembesar Kesultanan Demak Bintoro dan diminta untuk dibawa ke Bintoro untuk dijadikan saka guru atau tiang penyangga utama bangunan masjid, yakni Masjid Agung Demak. Keunikan yang muncul adalah jalur air kali yang digunakan untuk menghanyutkan kayu tidak semuanya bermuara di Demak. Tak berhenti di situ, jumlah saka guru terpasang juga tidak sebanding dengan jumlah pohon rekaan yang ditebang di berbagai wilayah. Terlepas dari itu semua, kekaguman masyarakat Jawa terhadap jenis pohon atau kayu ini begitu lekat, mengabaikan fakta bahwa ulin Kalimantan jauh lebih berkualitas, dan kayu sono (yang sebenarnya asli Jawa) yang lebih eksotis juga terabaikan di masa lalu.

Apapun itu, dari dua puluh lima flora yang terlebih dahulu akrab dalam keseharian masyarakat Jawa Kuno dan terpahat di candi Borobudur, mencakupi pohon bodhi (Ficus religiosa L) , seroja (Nelumbo nucifera Gaertn.), talas (Alocasia macrorrhizos (L.) G.Don), siwalan (Borassus tlabellifer L.), nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk), sukun (Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg), pulai (Alstonia scholaris (L.) Br), tanjung (Mimusops elengi L.), tebu (Saccharum officinarum L.), pinang (Areca catechu L.), pisang (Musa spp.), mangga (Mangifera spp.), durian (Durio zibethinus Murray), asam Jawa (Tamarindus indica L.), dan manggis (Garcinia mangostana L) tidak ada yang mampu mengambil hati masyarakat Jawa sebagaimana kayu jati yang baru datang kemudian. Begitulah adanya.

Usulkan Entri Baru

jati sungu n Jw jati yg berwarna hitam, padat, dan berat

jati werut n Jw jati yg kayunya keras dng serat berombak.

jati doreng n Jw jati yg memiliki kayu kayunya keras, berkelir loreng hitam yg indah dan

tampak seperti menyala; jati lengis

jati kapur n Jw jati yg kayunya kurang kuat dan kurang awet, berwarna keputihan lantaran mengandung kapur

jati lênga n Jw jati yg kayunya keras, berat, halus jika diraba, dan tampak seperti mengandung minyak; jati malam

jati denok n Jw jati yang disakralkan karena memiliki ukuran sangat besar dan berusia ratusan tahun

Beberapa entri yg terdokumentasi di dalam Kamus  Kawi Dasanama, Anonim, 1882 mencakupi jati saba , jati sari , jati krasak , jati krosok , jati gopok belum dapat terdefinisi. Jika Anda mengetahui definisi mereka silakan tambahkan di kolom komentar.


[1] https://halosemarang.id/petilasan-jatiombo-semarang-dipercaya-tempat-sunan-kalijaga-menemukan-pohon-jati-untuk-pembangunan-masjid-agung-demak

[2] https://soloraya.solopos.com/asale-desa-jati-karanganyar-dulunya-hutan-jati-di-abad-ke-16-1905030

[3] https://kebumen24.com/2024/06/28/legenda-desa-jatimalang-klirong-asal-nama-diambil-dari-pohon-jati-yang-terhubung-dengan-masjid-demak/

[4] Carey, Peter dkk. Membaca Ulang Max Havelaar. Yogyakarta: Cantrik Pustaka

[5] Poerwadarminta. 1939. Bausastra Jawa. Batavia: Groningen

[6] https://doktor.pertanian.uma.ac.id/2022/12/perkembangan-kayu-jati-di-indonesia/#:~:text=Hal%20ini%20dapat%20dilihat%20dari,jati%20ada%20di%20Pulau%20Jawa.

[7] Ibid Carey, p 130

[8] https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/jati%20diri

Maling (2)

Konon (katanya) di dataran tinggi Dieng zaman old, setiap bayi dilindungi oleh orangtuanya dengan meletakkan sebilah keris di dekat peraduannya. Hal ini terkait dengan kebiasaan yang dikaitkan dengan cerita Gangsiran Aswatama. Konon, menurut cerita rakyat setempat, gangsiran adalah terowongan yang dibuat oleh hewan yang dinamai gangsir. Hewan menyerupai jangkrik ini sering membuat terowongan, baik untuk ditinggali atau untuk menghubungkan satu tempat ke tempat lain. Aswatama, seorang tokoh Kurawa yang berhasil selamat dari Perang Baratayuda, berhasil melarikan diri dan pada kesempatan berikutnya ia berniat balas dendam. Ia berniat membunuh penerus tahta Pandawa, yakni Parikesit putra Abimanyu yang masih bayi. Cara unik yang dilakukan oleh Aswatama adalah membuat terowongan, yakni menggangsir menuju peraduan sang bayi Parikesit. Ketika telah sampai di tujuan, di sisi sang bayi, sang bayi menangis dan menendang sapu yang di atasnya terdapat keris. Keris melambung dan menancap di leher Aswatama[1]. Innalillahi wir.

(Lagi-lagi) konon, masyarakat Dieng tempo dulu juga percaya bahwa Aswatama menyembul dari terowongan yang ia buat tepat di Candi Arjuna, Dieng. Ia memilih jalur bawah tanah agar tidak diketahui pihak Pandawa. Namun justru ia terbunuh oleh bayi yang akan ia bunuh karena sang bayi yang terperanjat atas kehadiran Aswatama. Sang bayi tak sengaja menendang keris yang sengaja diletakkan oleh orang tuanya di dekatnya, keris terlempar dan menancap di tubuh Aswatama. Cerita inilah yang mendorong masyarakat Dieng tempo dulu memelindungi bayi mereka dengan meletakkan keris kecil (meskipun perkembangan selanjutnya banyak yang menggunakan tiruan keris dari bahan kayu) di dekat bayi mereka dengan harapan bayi mereka terlindung dari gangguan makhluk gaib sebagaimana Parikesit “ditemani” oleh keris.

Menggangsir sebagaimana dilakukan oleh Aswatama tersebut boleh jadi merupakan teknik yang cerdas (apabila berhasil) karena Aswatama tidak perlu menyelinap di antara remang malam dan penjagaan prajurit Pandawa. Ia menggunakan jalur bawah tanah yang dapat membuatnya sampai di tempat yang dituju tanpa terlihat oleh orang lain, meski titik koordinat kamar sang bayi sangat sulit untuk ditentukan. Masyarakat Dieng percaya Aswatama membuat terowongan dari Pekalongan hingga dataran tinggi Dieng, betapa fiksi dan luar biasa!

Teknik Awatama ini ditiru oleh para pencuri di perkampungan Jawa tempo dulu, ketika rumah-rumah pedesaan berdinding kayu (gebyok) atau bambu (gedheg) tanpa pondasi keliling. Sang pencuri tidak perlu repot mencongkel pintu atau jendela, memasukkan nomor PIN yang tepat, pun menyusup melalui atap, tetapi mereka cukup menggali terowongan seukuran tubuhnya untuk masuk rumah. Teknik menggangsir ini bisa jadi sangat efektif tetapi pada praktiknya banyak cerita yang mengisahkan kegagalan teknik ini seperti tidak manjurnya ajian sirep (membuat penghuni rumah tertidur pulas) si pencuri atau pemilik rumah telah menunggu kepala si pencuri menyembul di permukaan tanah. Pada situasi yang sedemikian, kecil peluang pencuri dapat meloloskan diri karena pemilik rumah pasti telah bersiap diri dengan senjata.

Teknik menggangsir sebenarnya hanya salah satu teknik menyelinap yang dilakukan oleh maling Jawa tempo dulu. Teknik lain yang mereka praktikkan adalah nayap, yakni memasuki rumah sasaran pada siang hari ketika penghuni rumah pergi ke sawah atau ladang.  Nayap merupakan salah satu teknik yang memungkinkan seorang pencuri tidak perlu mengendap dalan kegelapan dan teknik ini hanyalah salah satu cara atau teknik maling ala Jawa tempo dulu.

Meski makna maling dalam bahasa Indonesia bermakna ‘mengambil sesuatu milik orang lain’ atau ‘orang yang mengambil milik orang lain’, kata tersebut sedikit berbeda (meski galih maknanya sama, yakni mengambil sesuatu milik orang lain) dengan maling dalam budaya Jawa. Maling dalam kebudayaan Jawa memiliki makna unik karena tidak sekadar mengandung unit makna (sense unit) perbuatan ‘mengambil sesuatu yang bukan miliknya’ tetapi juga dapat bermakna ‘mengambil yang bukan miliknya tetapi tidak tampak seperti pencuri’. Selain terdapat teknik-teknik yang berbeda, objek pencurian pun dijadikan dasar penamaan segala sesuatu yang berkaitan dengan tindak pencurian sehingga turut membedakan maling satu dengan maling yang lain.

Jika di belahan bumi yang lain, Texas, mengenal istilah larceny, yakni pencurian yang dilakukan dengan mengambil sesuatu milik orang lain secara tidak sah dengan maksud untuk dimiliki secara permanen, tanpa perlu konfrontasi dengan pemilik barang[2], di Jawa ada maling arep, yakni mengambil barang orang lain dengan dalih meminjam tetapi tidak dikembalikan. Meski kedua konsep tersebut tidak sama persis, keduanya menyiratkan makna tanpa konfrontasi secara langsung atau ancaman terhadap korban pemilik barang. Jika kita meminjam barang dan kita lupa mengembalikan maka kita harus bersiap diberi label maling arep. Sementara itu , orang yang mengambil dan menyembunyikan barang hasil curian disebut sebagai penadah, kejahatan receiving a stolen item[3], atau maling calued. Maling calued ini melibatkan pengambilan atau penyembunyian barang curian.

Orang yang menggelapkan jatah  milik pembesar, jatah milik kantor atau lembaga disebut sebagai maling raja peni. Mungkin pada zaman kerajaan dulu telah dikenal upeti atau pajak yang harus disetorkan ke pembesar atau raja, jika hasil pajak yang disetorkan lebih sedikit dari pajak yang diterima dari wajib pajak maka sang pelaku lazim disebut maling raja peni, seorang pencuri yang berkesempatan mengambil barang-barang “bagus” milik sang raja.

Jika seseorang berniat mencuri, meski belum terlaksana tetapi telah ketahuan, maka ia masuk kategori maling kebunan. Jika seorang pekerja bangunan tengah mendirikan rumah seorang klien tetapi ia rajin membawa pulang material bangunan atau menjual material bangunan itu, maka ia akan disebut sebagai maling timpuh.  Jika seseorang menempati rumah yang telah terkenal sebagai kediaman seorang pencuri maka orang itu akan kena getahnya disebut sebagai maling juga, yakni maling tunggal labet. Dalam kondisi kekinian, jika Anda bekerja di sebuah instansi yang dipimpin oleh kepala yang korup maka Anda juga layak menyandang predikat maling labet meskipun Anda tak turut dalam praktik korup di kantor Anda. Mata-mata yang kita kenal dalam peperangan, yakni memberikan informasi “berharga” yang digunakan untuk aksi menyerang juga terdapat dalam dunia maling. Teknik yang aman dan informasi penting lain seperti berapa anjing penjaga yang dimiliki, berapa pintu yang tidak terbuat dari kayu jati, berapa CCTV terpasang, dsb yang merupakan informasi penting untuk diberikan kepada “the real” maling oleh seorang maling sakutu[4].

Tempo dahulu, ketika belum ada penerangan Perusahaan Listrik Negara, orang-orang Jawa di pedesaan selalu menggunakan obor ketika berjalan di malam hari. Selain untuk menerangi permukaan tanah yang akan dipijak, obor juga berfungsi sebgai tengara bahwa tengah ada seseorang berjalan ke suatu tempat. Lantas bagaimana jika berjalan tidak menggunakan obor, bisa jadi orang lain menyangka orang tersebut tengah berupaya mencuri dan layak disemati julukan maling lamat.  Selanjutnya, maling yang sering kita temukan dalam pemberitaan dalam surat kabar adalah maling sadu, yakni maling yang menyamar sebagai orang saleh atau orang suci, yakni seseorang berjiwa sosial yang seolah ingin menolong orang lain. Maling yang berempati kepada korban dan kemudian menusuk dari belakang inilah yang disebut sebagai maling sadu.  

Akhirnya, satu julukan maling yang agak aneh dan menggunakan kosakata saru adalah maling ngumpet wedi silit, yakni seseorang yang menuduh orang lain sebagai maling tetapi menghindar ketika diminta menjadi saksi. Dalam hal ini ia tidak mengambil barang dari orang lain tetapi mengambil nama baik dan kehormatan orang lain. Begitulah serba serbi maling dalam budaya Jawa tempo dulu.

Disclaimer: Tulisan ini sekadar ginem, bukan pemberian informasi “berharga” kepada maling sebenarnya, tidak sedikit pun terbersit keinginan penulis untuk menjadi maling sakutu.

Usulkan Entri Baru

menayab v Jw mencuri dng memasuki rumah pd siang hari saat rumah kosong

sumber: sayab (sayab) : K.N.; nyayabi of nayabi, over dag stelen. kasayaban, over dag bestolen worden. Sumber: Javaansch-Nederduitsch Woordenboek, Gericke en Roorda, 1847, #16.

menggangsir v Jw 1. mencuri dng membuat terowongan di bawah dinding rumah, 2. mencuri dng menggunakan jalan tak biasa agar tidak diketahui

Sumber: gangsir (gaGsIr) : K.N. een soort van grooten krekel, die zich in den grond ophoudt [vrg. jangkrik]. anggangsir, als een krekel een gat in den grond maken, ondergraven, ondermijnen, doorgraven om te stelen. Sumber: Javaansch-Nederduitsch Woordenboek, Gericke en Roorda, 1847, #16.

 (anggangsir: membuat lubang di tanah seperti jangkrik, merongrong, merusak, menggali untuk mencuri.)

maling samun n Jw pencuri yg mengambil barang milik orang lain yang tercecer di jalan atau tempat umum

maling cilik n Jw pencuri yg kerap mencuri sesuatu yang kurang berharga

maling gede n Jw pencuri yg kerap mencuri sesuatu yang berharga

maling aguna n Jw pencuri yg kerap mencuri sesuatu dari rumah orang kaya untuk membantu orang miskin; maling totos

maling raras n Jw pencuri yg memasuki rumah dan memerkosa pemilik rumah

maling dendeng n Jw lelaki yg suka selingkuh

maling sandi n Jw orang yg diketahui sebagai maling tetapi sulit dibuktikan bahwa dia adalah maling

maling calued n Jw orang yg mengambil atau menyembunyikan barang curian; penadah


[1] Setiyoningsih, Titi dkk. 2024.  Kompleksitas Ide dalam Cerita Rakyat Gangsiran Aswatama di Dataran Tinggi Dieng dalam Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Metalingua Vol 9 No 1, April 2024 E-ISSN 2528-6684, ISSN 2528-4371

[2] https://texascriminaldefensegroup.com/understanding-different-types-of-theft/

[3] https://texascriminaldefensegroup.com/understanding-different-types-of-theft/

[4]  www.celetukansegar.blogspot.com

Japati

Japati

abu tak akan meninggalkanmu

larik hitam memekat di kedua sisi

perkasa mendekap, mencecap mata

tubuhmu yang menak

-rupa yang megan

kelak teguhmu menyanding angin kelambu

lekat terpahat, noktah-noktah hitam

anggun gemulai penari tritis batu

cantik kawanti-wanti

indah kabina-bina

-lahir yang Ratna Herang

kelak setianya menyanding hujan renyai

dan di halaman itu, dua ibu ngaleupas japati

220418-kdp (Kalangkang, 2018)

Dalam budaya Yunani, burung merpati direpresentasikan dalam tokoh Aphrodite yang menjadi simbol dewa cinta[1]. Di dalam kebudayaan Kristen, burung ini disebutkan sebanyak 74 kali di dalam Alkitab[2], baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Konon, merpati melambangkan harmoni, integritas, dan cinta, serta diasosiasikan dengan kehadiran Roh Kudus, iman, kelahiran kembali, dan kemurnian. Burung juga dipercaya berperan penting dalam banyak peristiwa Alkitab, mulai dari bahtera Nuh hingga pembaptisan Yesus.

Sebuah pertanyaan mengenai merpati di dalam Islam diajukan kepada Syekh ‘Abd-Allaah ibn Jibreen, semoga Allah senantiasa menjaganya, dan beliau menjawab merpati tidak memiliki arti khusus dalam Islam. Merpati hanyalah salah satu burung yang Allah telah izinkan untuk kita makan, sebagaimana burung-burung halal lainnya. Di dalam Islam, merpati tidak mewakili perdamaian atau apapun dan beliau berpesan cukuplah bagi kita untuk mengikuti perintah Allah.[3] Sirajul dan Sofiah (2014) menyebutkan bahwa Alquran menyebutkan tiga jenis burung, yakni salwa (puyuh), gurab (gagak), dan hudhud. Burung puyuh disebutkan di dalam Surah Al-Baqarah, Surah al-A’raf, dan Surah Ta Ha, burung gagak disebutkan di dalam Surah al-Maidah, dan burung hudhud disebutkan dalam Surah Naml[4].

Sementara itu di Tanggul hingga Mangli di pusat kota Jember, tradisi tota’an yg diawali dengan melepas sepasang merpati dari dua daerah yang berbeda, mewakili mata angin dan disebut dengan pengantin barat dan pengantin timur. Selepas pasangan pengantin itu diterbangkan, para penyuka merpati yang berkumpul di tengah lapangan melepaskan ribuan burung milik masing-masing yang dari awal telah mereka siapkan untuk dilepaskan. Ribuan merpati terbang tetapi mereka pulang ke kendang. Jamil (2023), dengan menggunakan cara pandang etnozoologi, memandang budaya merpati Tota’an tidak hanya menjadi warisan budaya yang dilestarikan oleh masyarakat, tetapi juga menjadi fondasi bagi norma-norma sosial, nilai-nilai religius, dan hubungan dengan alam yang melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jember[5]. Sungguh menakjubkan.

Usulkan Entri Baru

megan (2)

n Jw warna tubuh abu-abu kebiruan pada sekujur bulu tubuh kecuali bulu sayap yg memiliki noktah hitam berpola sehingga akan membentuk dua atau tiga garis hitam apabila sayap ditangkupkan (tt merpati)

sumber: megan (megan) : kn. klawu sulak biru (tmr. ulêsing dara). Sumber: Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939, #75.

teritis

n Jw warna tubuh abu-abu kebiruan pada sekujur bulu tubuh dng kombinasi noktah hitam tidak berpola pada sayap dan punggung (tt merpati)

Sumber taritis : tetes-tetes; makataritis menitik; menetes; bertitik-titik. Sumber: Kawi – Indonesia, Wojowasito, 1977, #1019.

KN. tritis, het uiterste einde van een dak of afdak; de drup, benaming van de plaats achter een huis onder het uitstekende afdak, waar het regenwater afdruipt (vrg. trêtêp)

gambir

n Jw warna coklat kemerahan yg menyerupai warna gambir (tt merpati dan kuda)

sumber: gambir :  nm. v. e. kleur v. tamme duiven, roodachtig als de gambir, Wk.; ook v. paarden Sumber: Javaansch-Nederlandsch Handwoordenboek, Gericke en Roorda, 1901, #

jawat (3) n Jw bulu primer terluar pd sayap merpati

rampas n Jw kondisi bulu jawat sudah tumbuh dng sempurna, biasanya membutuhkan waktu sekitar satu tahun (tt merpati)

belatong

n Jw warna putih pada sayap dan kepala merpati


[1] Krug, Annie. 2022. Why Doves Are The Symbol Of Peace And Other Dove Facts. DECEMBER 5, 2022.  Retrived from https://chirpforbirds.com/wild-bird-resources/why-doves-are-the-symbol-of-peace-and-other-dove-facts/#:~:text=In%20Greek%20mythology%2C%20the%20dove,love%2C%20sexuality%2C%20and%20war

[2] https://christianpure.com/learn/dove-symbolism-christianity/#:~:text=The%20dove%20is%20mentioned%2074,Noah’s%20ark%20to%20Jesus’%20baptism.

[3] https://islamqa.info/en/answers/1437/does-the-dove-hold-any-significance-in-islam

[4] Md. Sirajul Islam and Sofiah Bt. Samsudin., Birds Mention in the Holy Qur‟an and their Role in the Natural Ecosystem. Aust. J. Basic & Appl. Sci., 8(6): 293-306, 2014

[5] Jamil, Nurul Robit. 2023. Ethnozoology Of Tota’an Dove Jember dalam el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol. 25 No. 2, 2023. DOI: http://dx.doi.org/10.18860/eh.v25i2.24383

Lengan Ayun

Pada masa awal penemuan sepeda motor,  yakni akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, pengendara dihadapkan pada permasalahan guncangan hebat saat ia berkendara di atas jalan berbatu atau jalan berlubang.  Para ahli lantas berpikir keras mencari cara untuk meredam guncangan tersebut dengan memikirkan bagaimana as roda belakang dapat bergerak bebas sekaligus dapat bertumpu erat pada kerangka motor.  Gerakan berayun dipercaya dapat meredam goncangan akibat kualitas jalan yang buruk.  Adalah Guzzi bersaudara berkebangsaan Italia, Carlo Guzzi dan Giuseppe Guzzi, pada 1928 menemukan teknologi swingarm: dua batang besi yang menghubungkan as roda belakang dan struktur rangka di depan ban. Itulah lengan ayun, sebuah lengan yang berbeda dengan lengan manusia. Tanpanya, Endank Soekamti pasti ragu untuk beraksi memintasi jalanan atau bahkan sekadar menyanyikan “Kuda Besi”

Kuda besi tak berhenti

Tak pernah lelah terus mencari

Kuda besi pemberani

Tak pernah ragu untuk beraksi

lengan ayun n bagian dr struktur rangka sepeda motor yg menopang fungsi suspensi belakang, berupa batang besi yang mengikat as roda belakang dan struktur rangka di depan ban yg dapat bergerak mengikuti kontur jalan dan beban muatan; capit udang

capit udang n lengan ayun

https://www.cycleworld.com/story/bikes/evolution-rear-suspension/#:~:text=The%20two%20Guzzi%20brothers%2C%20Carlo,the%20back%20of%20the%20engine

Cemara

Konon pohon cemara adalah salah satu tanaman tertua di dunia. Catatan fosil pohon cemara tertua yang berasal dari era Mesozoikum, antara 251 hingga 60 juta tahun yang lalu digunakan untuk mendukung klaim tersebut. Pohon ini muncul dalam benda budaya yang berupa-rupa, dari riwayat hingga tembikar, dari ubin hingga kelasa permadani, dan dari ukiran kuno hingga karya sastra.

Dalam tradisi Yunani, pohon cemara dikaitkan dengan perkabungan sehingga pohon ini sering ditanam di pekuburan dan bersanding dengan pohon willow.  Pohon ini juga dikaitkan dengan dewa dunia bawah, Pluto. Terdapat pula mitos terkait dengan pohon cemara, yakni cerita mengenai pemuda Cyparissus, yang berubah menjadi pohon cemara setelah membunuh seekor rusa. Sedangkan penganut Zoroaster, penyembah Tuhan Yang Bijaksana, memercayai bahwa pohon cemara melambangkan keabadian. Pohon cemara yang berumur panjang, senantiasa menghijau, dan menjulang tinggi ke langit menjadi simbol keabadian dalam filosofi Zoroaster.

Berbeda dengan di Jawa, pohon cemara tidak setenar pohon bodhi, seroja atau teratai, talas, lontar, nangka, dan pohon sukun. Setidaknya tanaman-tanaman tersebut terpahat pada dinding candi Borobudur. Pun cemara kalah tenar dengan bambu, gadung, randu, dadap, pohon nangka yang direkam oleh Ahmad Tohari dalam Ronggeng Dukuh Paruk. Namun demikian, pohon cemara tetap dicatat oleh Mochtar Lubis dalam Harimau! Harimau! .

Mungkin nanti setelah pohon-pohon lokal telah habis dilumat mesin, ketenaran pohon cemara akan berangsur naik. Semoga.

Usulkan entri baru

cemara pensil cemara yg memiliki bentuk daun seperti pensil berwarna hijau, berasal dari kawasan Mediterania; Cupressus sempervirens

cemara kipas cemara yg memiliki daun berbentuk mengerucut ke arah samping, bersisik, dan berbentuk seperti  kipas, berasal dari wilayah Eropa yg beriklim subtropis; Thuja occidentalis

Ingg: white cedar

Ind: pohon cakar ayam

cemara pecut cemara yg memiliki ranting beruas,daun kecil dan runcing berbentuk seperti jarum, memiliki buah menyerupai runjung kecil, dan berbunga baik jenis jantan atau betina; Cupressus sempervirens

Sin: cemara lilin

Pohon Cemara: Ciri-ciri, Manfaat dan 16 Jenis Cemara (2022)

cemara norfolk cemara yang memiliki daun yang mirip dengan jarum tumpul, cabang simetris, berasal dari sebuah pulau kecil di sekitar samudera Pasifik; Casuarina Excelsa

cemara udang cemara asli Indonesia, sering dijumpai di sekitar pantai atau pesisir, memiliki daun lancip menyerupai lidi dan beruas tuhug hingga delapan,  berkulit batang berwarna hitam dan bertekstur kasar; Casuarina equisetifolia L.

cemara laut cemara yg mempunyai percabangan halus dan berwarna coklat keabu-abuan, berbatang kurus sehingga tahan terhadap terpaan angin laut, memiliki daun yg mudah rontok, tumbuh merunduk; Casuarina equisetifolia

cemara pua pua cemara yg memiliki daun berwarna hijau tua yg menyerupai tanduk rusa, biasanya dimanfaatkan untuk menghiasi pekarangan rumah karena daunnya tidak mudah rontok dan perawatannya yang mudah; Cupressus papuanus

Sin: cemara kinoki

cemara angin cemara yg memiliki daun tipis dan lembut sehingga mudah bergoyang ketika tertiup angin, biasanya dijadikan tanaman; Casuarina equisetifolia

cemara buaya cemara yg tumbuh ke samping, memiliki bentuk yg unik sehingga sering dijadikan tanaman bonsai; Juniperus horizontalis

cemara rentes cemara berukuran kecil yg memiliki daun lebat dan tegak, memiliki aroma wangi, biasanya digunakan sebgai tanaman hias dalam pot; Casuarina Sp.

cemara embun cemara berukuran kecil yg memiliki daun berwarna putih kehijauan berbentuk menyerupai embun; Juniperus communis

cemara kuning cemara yg memiliki daun berwarna kuning, biasanya digunakan sebagai tanaman hias; Juniperus chinensis

Ingg: chinese gold tree

Keberagaman (Plurality)

Mengacu kepada ide keberagaman (plurality) manusia Hannah Arendt (1958), keberagaman manusia merupakan kondisi eksistensial dari kehidupan manusia itu sendiri. Semua sama atau setara, yakni sama-sama manusia, tetapi cara pandang tertentu mungkin tidak atau kurang dapat dipahami sepenuhnya oleh orang lain dan hal itulah yang menimbulkan keberagaman. Lantas di dalam keberagaman itu sendiri, politik menjadi tempat dan aktivitas komunikasi bersama berdasarkan perspektif yang berbeda dari manusia-manusia yang setara tersebut[1].

Berdasar politik bahasa yang dipraktikkan oleh aktivis sosial, kaum feminis, dan Komnas Perempuan pada 2021 yang menyoal definisi entri perempuan dan gabungan kata berinduk entri perempuan (perempuan lecah, perempuan jalang, perempuan geladak, dan lain-lain) sejatinya menyerupai usulan Kennedy Mitchum kepada editor Merriam-Webster Dictionary untuk menambahkan galih makna (core sense) “sistemik” pada entri racism yang merepresentasikan sebuah potensi rasisme sistemik, sebuah fenomena yang diusung pada unjuk rasa atas kekerasan anggota kepolisian kepada George Floyd pada 25 Mei 2024. Kekuatan media sosial dan komunitas kulit hitam telah mengegolkan usulan Mitchum dengan respons cepat editor kamus Merriam-Webster merevisi definisi dengan memasukkan definisi bagian kedua, “the systemic oppression of a racial group to the social, economic, and political advantage of another[2]”.

Kembali kepada gagasan Arendt mengenai keberagaman, kamus menjadi rumah tinggal keberagaman sekaligus membangun jejaring antarteks[3]. Frawley (1985) mengadopsi gagasan kritik sastra pascastrukturalisme dan dekonstruksi untuk mencermati teks sekaligus menjelaskan leksikografi sebagai sebuah bentuk penulisan ulang, seperti halnya penulisan teks sejarah. Jalinan antara kamus dan teks-teks lain juga merupakan kediaman sekaligus aktivitas komunikasi bersama berdasarkan perspektif-perspektif yang berbeda. Dengan demikian, apa yang dilakukan oleh editor Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dengan merevisi definisi entri perempuan sense pertama (1)  orang (manusia) yang mempunyai vagina, biasanya dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, dan menyusui’  menjadi ‘orang (manusia) yang mempunyai vagina, biasanya dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, atau menyusui’  serta revisi editor Merriam-Webster yang meanmbahkan galih makna “systemic” sejatinya telah memberikan ruang bagi keberagaman dalam sebuah rumah besar yang dihuni oleh berbagai cara pandang.

Kamus bukanlah jawaban yang tetap  (fixed), ajek, malar, tunak lestari, atau sesuatu yang memiliki awal dan akhir yang pasti tetapi kamus adalah jalinan antarteks yang bersifat dekonstruktif yang memungkinkan kita menjelaskan kemajemukan dalam mendefinisikan kata-kata atas kepentingan-kepentingan ideologis yang berupa-rupa. Senada dengan gagasan Frawley, Chen (2019) menyatakan bahwa kamus tidak sekadar menampilkan sebuah sumber atau sekadar memindahkan makna, tetapi kamus juga menciptakan makna, menulis ulang dan merepresentasikan berbagai hal dengan cara yang baru dan mungkin berbeda[4].

Lantas bagaimana dengan entri gabungan kata berkonotasi positif yang dituntut oleh “mereka”? Ah, mudah saja.

Usulkan entri baru

perempuan aktivis perempuan yg bekerja aktif mendorong pelaksanaan sesuatu atau berbagai kegiatan dalam organisasi https://www.kompas.id/baca/humaniora/2024/02/03/perempuan-aktivis-sampaikan-aspirasi-ke-ganjar-pranowo https://www.kompas.id/baca/opini/2021/08/21/perempuan-aktivis-atau-aktivis-perempuan

perempuan kopi perempuan yg memiliki andil dalam pengolahan kopi

Puisi Perempuan Kopi karya Zuliana Ibrahim

Perempuan berkelubung menarik kata dari ujung selendang merajutnya dengan tubuh gemetar berlapis amarah kening berkerut dengan sisa mangas di bibir ia ambil jarum agak tumpul, meneteslah sewarna merah jemarinya mencengkram angin, sia-sia membentur petala langit Ia merangkak, mengatup kedua deret gigi menepuk dada, tak mau menghitung jumlah mulut yang ia sapih kukunya terus mesra menimang cacing bajunya bau terik matahari Perempuan itu kini beranjak tua tubuhnya gagah menyimpan cerita membalutnya dengan selendang yang kini sewarna pudar Perempuan itu tak mampu berkata-kata air matanya ada di tiap daun kopi kisah hidupnya di setiap butir buah kopi Takengon, 2018 Perempuan Kopi Buku cerita pendek karya Dewi Nova – berisi tiga belas cerita, perpustakaan Komnas Perempuan https://perpustakaan.komnasperempuan.go.id/web/index.php?p=show_detail&id=3255      

perempuan ningrat perempuan dari keluarga bangsawan perempuan perempuan ningrat. Buku karya Teddy Des Madelaz. Publisher, Karya Baru, 1977. 195 pages     

perempuan parlemen perempuan yg menjadi anggota dewan perwakilan rakyat https://www.dprd-diy.go.id/desy-ratnasari-temui-kaukus-perempuan-parlemen-dprd-diy/ https://lib.litbang.kemendagri.go.id/index.php?p=show_detail&id=3161 tautan di atas berisi buku berjudul Resistensi perempuan parlemen: perjuangan menuju kesetaraan gender karya Misbah Zulfa, penerbit Badan Penelitian Pengembangan Kemdagri    

perempuan pejuang perempuan yg berjuang

https://uici.ac.id/mengenal-7-perempuan-yang-mendapat-gelar-pahlawan-nasional/

perempuan pengusaha perempuan yg berprofesi sebagai usahawan       

Penelitian terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi perempuan pengusaha dalam mendirikan dan mengembangkan usaha mereka di Aceh telah dilaksanakan di Banda Aceh https://www.ilo.org/media/321301/download

perempuan penulis perempuan yg  sebagai penulis

https://narasisejarah.id/perempuan-penulis-dalam-sejarah-sastra-indonesia/ https://www.jurnalperempuan.org/tokoh-feminis/melani-budianta-merekam-perempuan-penulis-dalam-sejarah-kesusastraan https://www.kompasiana.com/mussabaskarulloh1685/6017aa89d541df7bc0443ed2/perempuan-penulis-atau-penulis-perempuan

Tulisan Melanie Budianta https://www.jurnalperempuan.org/tokoh-feminis/melani-budianta-merekam-perempuan-penulis-dalam-sejarah-kesusastraan

perempuan ulama perempuan yg terjun dalam kegiatan dakwah agama Islam

Perempuan Ulama di Atas Panggung Sejarah Sampul Depan K.H. Husein Muhammad IRCISOD, 2020 – 234


[1] Arendt, Hannah. 1998. The Human Condition. Chicago and London: The University Chicago Press

[2] https://www.merriam-webster.com/dictionary/racism

[3] Frawley, W. 1985. ‘Intertextuality and the Dictionary: Towards a Deconstructionist Account of Lexicography.’ Dictionaries: Journal of the Dictionary Society of North America 7.1: 1–20.

[4] Chen, Wenge. Towards A Discourse Approach to Critical Lexicography. In International Journal of Lexicography, 2019, 1–27 doi: 10.1093/ijl/ecz003

Pengebumian

“Похороны” Anna Akhmatova

Tengah kucari pesara nan cerlang.

dapatkah engkau membantu, diriku betapa lelah dan lejar?

saat malam ladang terbuka begitu gigil

onggok batu di pantai teramat suram.

Diriku tlah ikrab dengan kedamaian,

dan begitu mengasihi cahya sang rawi,

kan kubangun pertarakan mungil di sisinya,

sebagai rumah kita di masa menjelang.

berikut dua jendela, satu pintu di antara,

dan sepucuk kandil yang senantiasa menyala,

di antara hati-hati gelita, ia kan berbagi cahya

semburat merah di galihnya.

Kala diri meracau, kau tahu, bergolek lara di tapang tua,

dari satu loka, biru nirwana

sesosok rahib datang dan mencela:

“Ia tiada dicadangkan bagi pendosa.”

Selepas bercela ia membisik,

mengubah kucam dari sebongkah lara: “Mari kita kelana.”

kini kita dapat melabang suka-suka,

di ombak biru, di jeluk sana.

120312-kdp version(rtrsl)

*Anna Andreevna Gorenko/Anna Akhmatova (1889-1966), penyair terkemuka Rusia era modern, meditasi pada waktu dan memori, dan kesulitan hidup dalam bayangan Stalinisme merupakan tema abadi karya-karyanya.

*eng version by Joseph Brodsky 2004

(Ber) Sastra

Melalui sastra, kita memasuki dunia di mana imajinasi menjadi kenyataan. Meski kalimat ajakan mendukung Program Sastra Masuk Kurikulum (PSMK) tersebut memiliki ideologi yang serupa dengan buku Panduan Penggunaan Rekomendasi Buku Sastra, kita harus berhati-hati. Pertama, sastra sejak dahulu merupakan bagian dari mata pelajaran bahasa (Indonesia) yang sudah masuk ke dalam kurikulum. Lantas sastra yang mana lagi yang harus masuk ke dalam kurikulum? Alih-alih dikesampingkan dari kurikulum, siswa SMA jurusan bahasa justru dibuat mabok oleh sastra. Kedua, dikotomi sastra dan nonsastra tidak harus dikedepankan mengingat sastra hanyalah salah satu bagian kecil dari isi kebudayaan manusia yang berupa bahasa. Bagaimana kita menanggapi jika nantinya ada Program NonSastra Masuk Kurikulum sebagai tandingan PSMK? Lebih runyam lagi jika nanti ada Program Organisasi Sosial Masuk Kurikulum, Program Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi Masuk Kurikulum, Program Sistem Mata Pencaharian Hidup Masuk Kurikulum, dan program-program lain? Toh semua itu bagian dari isi kebudayaan. Ketiga, kalimat awal di atas, memasuki dunia imajinasi bisa menjadi kenyataan bukanlah kalimat yang sederhana. Banyak lulusan SMA bahasa dan Fakultas Sastra (seperti saya) terlampau asyik memasuki dunia imajinasi. Bukan tidak mungkin kalimat tersebut dapat berujung pada tafsir dunia kenyataan kita adalah imajinasi.

Satu pemikiran Nirwan Dewanto, menjadikan sastra sebagai pilihan (saja) bisa jadi merupakan pemikiran paling masuk akal mengingat pelajaran bahasa Indonesia dari zaman dahulu juga telah memberikan pilihan bersastra dan membaca karya sastra tanpa harus dirancang menjadi program tersendiri. Senada dengan Nirwan, titik tekan bersastra layak diutamakan, yakni upaya mengungkapkan diri secara lisan dan tulisan, berpikir sebagai manusia merdeka[1].  

Salah satu aktivitas bersastra menurut Nirwan Dewanto, pengungkapan secara lisan dan tulisan, ini sebenarnya telah lama masuk dalam lingkungan akademis, seperti kegiatan paling sederhana, yakni mencatat kosakata yang tidak diakrabi, kosakata asing, kosakata bidang ilmu, dan kosakata “sulit” lain yang menuntut kita tidak hanya mendengar tetapi harus mencatatnya untuk dibaca dan diingat pada kesempatan lain. Meski demikian, kita tidak perlu latah turut mengusulkan sebuah program baru, Program Kamus Masuk Kurikulum, misalnya. Biarlah orang-orang menimbang PSMK tersebut sedangkan kita terus mencatat kosakata.

sastra diaspora n 1aliran sastra yg mengangkat tema kehidupan yang berkaitan dengan permasalahan migrasi; 2 karya sastra yg dihasilkan oleh penulis yg hidup di luar tanah asal[2]

sastra maritim n 1aliran sastra yg mengangkat tema kehidupan di atas laut dan pesisir; 2 karya sastra yg dihasilkan oleh penulis yg hidup di pesisir[3]

sastra dunia n karya sastra yg telah didistribusikan dan diedarkan di luar negara asalnya[4]

sastra kulit hitam n 1aliran sastra yg mengangkat tema kehidupan orang kulit hitam; 2 karya sastra yg dihasilkan oleh penulis kulit hitam

sastra perjalanan n aliran sastra yg mengangkat penceritaan tempat-tempat yg disinggahi oleh seorang tokoh selama melakukan perjalanan[5]; 2 karya sastra yg memuat tema perpelancongan[6]


[1] “Surat Terbuka Nirwan Dewanto kepada Kurator Panduan Rekomendasi Buku Sastra” https://seleb.tempo.co/read/1872150/surat-terbuka-nirwan-dewanto-kepada-kurator-panduan-rekomendasi-buku-sastra

[2] https://www.researchgate.net/publication/375608187_DIASPORIC_LITERATURE—AN_OVERVIEW

[3] https://ctcenterforthebook.org/maritime-literature-of-north-america/#:~:text=’Literature%20of%20the%20sea’%20or,are%20critical%20to%20the%20story.

[4] https://pll.harvard.edu/course/masterpieces-of-world-literature

[5] https://www.jstor.org/stable/26284375

[6] https://www.britannica.com/topic/nonfictional-prose/Dialogues#ref505246


Maling (1)

Mo, mo, mo, mo, Romo, ono maling

Tulungono anakmu lagi kelangan

Mo, mo, mo, mo, Romo, ono maling

Rino wengi kelap kelip ra karuan


 Mo, mo, mo, mo, Romo, ono maling

Yen aku edan opo Romo ra kelangan?
Nyekel maling mestine yo digebugi

Tobat Romo luwih becik aku mati[1]

          …

Cuilan tembang di atas menceritakan tentang keluh kesah seorang anak perempuan kepada ayahnya karena sang anak tengah kehilangan sesuatu karena dicuri maling. Sang ayah menanggapi dengan pertanyaan barang apa yang telah dicuri dan meyakinkan diri untuk menangkap si pencuri untuk dipukuli. Namun tanggapan sang anak di luar dugaan, dia tidak menginginkan si maling dipukuli. Usut punya usut, ternyata hati sang anaklah yang telah dicuri oleh si maling.

Meskipun tembang di atas bercerita tentang pencurian, tindakan tersebut tidak dapat digolongkan dalam bentuk kejahatan dengan mengambil barang milik orang lain. Dengan kata lain, tindakan tersebut tidak dapat dimasukkan ke dalam ranah pidana. Menurut Firman Edi (2022), pencurian merupakan kejahatan dengan mengambil barang milik orang lain secara tidak sah dan tanpa persetujuan dari pemilik barang yang terbagi menjadi beberapa jenis,  yaitu pencurian ringan, pencurian biasa, pencurian dengan pemberatan, dan pencurian dengan kekerasan. Hukuman yang dapat dikenakan kepada pelaku pencurian berbeda-beda menurut perbuatan yang dilakukan, yakni pencurian biasa diatur dalam pasal 364 KUHP dengan  hukuman maksimal 3 bulan penjara, pencurian biasa diatur dalam pasal 362 KUHP dengan ancaman maksimal selama 5 tahun, pencurian dengan pemberatan diatur dalam pasal 363 KUHP dengan hukuman maksimal 7 tahun penjara, dan pencurian dengan kekerasan diatur dalam pasal 365 KUHP dengan hukuman maksimal 9 tahun penjara[2].

Pencurian dengan pemberatan dan pencurian dengan kekerasan mendapatkan sanksi lebih berat dikarenakan adanya unsur-unsur yang memberatkan pada saat terjadinya tindak pencurian, seperti pencurian yang dilakukan pada malam hari, pada saat terjadi bencana, kejahatan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dan penggunaan kekerasan pada saat melakukan aksinya. Tindak pidana pencurian yang dilakukan pada malam hari biasanya akan dikenakan ketentuan Pasal 363 KUHP diancam pidana penjara paling lama tujuh tahun.[3] Satu hal yang menarik dalam hal ini, ancaman pidana pencurian yang dilakukan pada siang hari dan malam dibedakan dalam praktik peradilan kita, hal ini juga memantik praduga, bisa jadi hal ini berkaitan dengan Wetboek van Strafrecht voor Nederlands Indie (KUHP Indonesia) yang merupakan turunan dari Wetboek van Strafrecht (KUHP Belanda) yang berlaku sejak tahun 1886. WvSNI yang diberlakukan oleh Pemerintah Hindia Belanda di Indonesia (saat itu masih Hindia Belanda) sejak tahun 1918 dengan beberapa penyesuaian dan kemudian menjadi kitab Undang-Undang Hukum Pidana atau KUHP Indonesia pada tahun 1946. Ada kecurigaan verba mencuri di dalam bahasa Belanda dibedakan antara mencuri di siang dan malam hari yang patut ditelusuri. Namun demikian, penelusuran tersebut akan dilakukan pada kesempatan berikutnya. Satu hal yang pasti, kata kerja mencuri dalam bahasa Indonesia tidak disemati gubal makna atau unit makna pelengkap (sap sense) keterangan waktu siang atau malam.

Berbeda dengan bahasa Jawa, terdapat beberapa varian verba mencuri, yakni maling, colong, dusta, macuri, serta nayab yang berasal dari kata dasar sayab. Poerwadarminta (1939) mendefinisikan nayab sebagai sayab ‘kn. nyênyolong mblundhus ing omah ing wayah awan ut. bêngi’ (‘mencuri dgn cara memasuki rumah pada siang atau malam hari’). Leksikon yang sama didefinisikan secara berbeda oleh Gericke dan Roorda (1901) sebagai berikut.

sayab : KN. 1. nayab, insluipen om te stelen; over dag, of tusschen licht en donker, stelen door insluipen (vrg. uput-uput, amblurut) ZG. XXII, 143. — nayabi, mrv. en ergens insluipen om te stelen; iemand over dag bestelen. BG. 166: kang duwe omah lir kasayaban, vgl. JW. 50 en kayayaban, seyub, enz. — 2. ook ayap, (volg. Rh. beter geschreven ayab) een groot schepnet met een lange beurs. [4]

Gericke dan Roorda mendefinisikan nayab dengan definisi ‘menyelinap untuk mencuri; pada waktu siang hari, atau antara terang dan gelap, mencuri dengan menyelinap’ ; menyelinap ke suatu tempat untuk mencuri; merampok seseorang pada siang hari’). Galih makna (core sense) leksikon sayab adalah “mencuri” sedangkan gubal makna (sap sense) adalah siang hari.  Unit makna pelengkap berupa keterangan waktu ditampilkan oleh Purwadarminta dalam entri yang berbeda, yakni entri maling yang didefinisikan sebagai ‘penjahat yang mencuri di malam hari’.

maling (malIG) : 1 (n. pandung k) durjana kang nyênyolong ing wayah bêngi; 2 (n. mandung k) nyênyolong ing wayah bêngi; di-[x]-i: dicolong (dilêboni) maling; [x]-an ak: (barang) colongan.[5]

Gubal makna, boleh jadi, tidak penting dalam pendefinisian. Namun, bagaimana kamus bahasa Inggris mendefinisikan theft, robbery, raid, ram raid, burglary, larceny, thievery, break-in, holdup, embezzlement, pilferrobswipeplunderfilch, and thieve, swindle, fraud, dacoity, snatch, smash-and-grab (raid), stickup, pinch patut diapresiasi. Di sisi lain, kita sangat sederhana, cukup meneriaki semua pelaku nomina dan verba di atas dengan sebutan “maling”, maka sang pelaku pasti dikejar dan dihajar banyak orang. Sayab dan leksikon dari bahasa Jawa Kuno atau bahasa daerah lain mungkin akan melengkapi informasi tentang corah yang telah ada sejak zaman Majapahit ini.

Usulkan Entri Baru

curi kesempatan v ks memanfaatkan waktu yg terbatas untuk melakukan sesuatu hal: sialan, rupanya mereka [curi kesempatan] karena hujan deras[6]

curi tulang v ks memanfaatkan waktu untuk keperluan lain yg tidak semestinya: saya bukannya berniat nak [curi tulang] atau apa yang encik katakan tu[7]

curi tunang v ks merebut tunangan orang lain: tak malu , nak [curi tunang] orang ” dengus Wani dengan geram[8]

curi poin v ks memenangkan perlombaan atau pertandingan: kita harus [curi poin] di Persipura

curi start v ks memulai lebih awal sebelum waktu yg telah ditentukan: mendorong pembangkangan serta melakukan [curi start] untuk pemilu 2009 mendatang

curi kemenangan v ks memenangkan pertandingan :Indonesia siap [curi kemenangan]

curi langkah v ks memulai lebih awal sebelum waktu yg telah ditentukan; curi start: para kandidat pun saling [curi langkah] , kampanye terselubung dengan gaya masing-masing !

curi domba v ks merebut umat gereja lain: kesadaran masing-masing pimpinan gereja dan warga gerejanya , pasti istilah [curi domba] tidak ada lagi[9]

curi gelar v ks memenangkan perlombaan: wakil Indonesia siap [curi gelar] di Malaysia Open[10]

curi umur v ks memalsuan dokumen agar lolos batas umur yg telah ditetapkan: dituding curi umur, timnas Guinea akan didiskualifikasi[11]                                                                                                                                                                                    

begal payudara n pelaku tindak kejahatan menyentuh atau meremas payudara  perempuan, biasanya dilakukan sambil mengendarai sepeda motor

perayah n orang yg menjarah

pengembat n cak orang yg mengambil barang dengan cara yang tidak sah (mencuri, mencopet)

 mencuri dengar v mendengarkan dng sembunyi-sembunyi: manajer Ma yang kebetulan melihat mereka mengobrol , lantas bersembunyi , ingin [mencuri dengar]  

mencuri layar v tampil dalam adegan film: yang sebentar lagi bakal tampil di Three Musketeers baru , bisa sedikit [mencuri layar] bersama Zawe Ashton yang juga bermain bagus sebagai Falls[12]  

mencuri waktu v menyempatkan diri di tengah kesibukan: dracula justru sering mencuri waktu untuk melihat eksekusi hukuman mati di alun-alun[13]              

mencuri nasabah v menggaet pelanggan pihak lain: amun ketika bank syariah mulai bermunculan , mereka menurut Buddy justru [mencuri nasabah] perbankan BUMN[14]  


[1] Cuilan tembang karya Mus Mulyadi berjudul Romo Ono Maling

[2] Edi, Firman. 2022. Macam-Macam Tindak Pidana Pencurian beserta Sanksinya dalam https://pid.kepri.polri.go.id/macam-macam-tindak-pidana-pencurian-beserta-sanksinya/ diakses pada 22 Mei 2024 pukul 08.22 WIB

[3] RimbaSella. 2021. Tinjauan Yuridis Terhadap Tindak Pidana Pencurian di Minimarket Yang Buka 24 Jam. Undergraduate thesis, Universitas Muhammadiyah Jember

[4] Javaansch-Nederlandsch Handwoordenboek, Gericke en Roorda, 1901, #918.

[5] Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939

[6]https://cqpweb.lancs.ac.uk/lccindonesian2/concordance.php?qdata=curi&qmode=sq_nocase&pp=50&qstrategy=0&t=

[7]https://cqpweb.lancs.ac.uk/lccindonesian2/concordance.php?qdata=curi&qmode=sq_nocase&pp=50&qstrategy=0&t=

[8]https://cqpweb.lancs.ac.uk/lccindonesian2/concordance.php?qdata=curi&qmode=sq_nocase&pp=50&qstrategy=0&t=

[9] https://cqpweb.lancs.ac.uk/lccindonesian2/concordance.php?qid=00h7rv&pageNo=2

[10] https://cqpweb.lancs.ac.uk/lccindonesian2/concordance.php?qid=00h7rv&pageNo=5

[11] https://www.suaramerdeka.com/bola/0412639866/dituding-curi-umur-timnas-guinea-akan-didiskualifikasi-digantikan-timnas-indonesia-begini-faktanya

[12] https://cqpweb.lancs.ac.uk/lccindonesian2/concordance.php?qid=00h7rv&pageNo=4

[13] https://cqpweb.lancs.ac.uk/lccindonesian2/concordance.php?qid=00h7s8&pageNo=2

[14] https://cqpweb.lancs.ac.uk/lccindonesian2/concordance.php?qid=00h7rv&pageNo=5