Jati

Konon, pohon jati menduduki posisi penting di hati masyarakat Jawa. Banyak wilayah di Jawa (Tengah dan Timur) menggunakan penamaan wilayah dengan mencantumkan kata jati. Beberapa di antaranya adalah Jatiombo, Jatibarang, dan Jatingaleh di Kota Semarang[1], Desa Jati [2](Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar), dan Jatimalang Klirong Kebumen[3]. Tak mengherankan memang, kekaguman masyarakat Jawa terhadap kayu jati yang melebihi kayu-kayu lain tidak beranjak jauh dari kualitas kayu jati yang berterima di sebagian besar kalangan. Bahkan, masyarakat Jawa menyebut kayu ini sebagai “sejatining kayu[4]” atau ‘kayu yang sebenar-benarnya’.  Hal tersebut menguatkan pendapat mengenai kekaguman masyarakat Jawa terhadap kayu Tectona grandis ini. Masyarakat Jawa rela meminjamkan leksikon jati, sejati sêjatos k. sanyata, kang ora palsu[5](sejati, nyata, tidak palsu) untuk disematkan kepada jenis kayu yang baru masuk ke Nusantara pada 1842[6] ini.

Salah satu spekulasi menyebutkan bahwa cerita akan berbeda jika pemerintah kolonial pada tahun 1800an membawa bibit pohon ulin Eusideroxylon zwageri ke Jawa, mungkin yang akan disemati nama sejatos, sejati adalah pohon ulin ini. Spekulasi ini tentu harus dikaji ulang karena kekaguman masyarakat Jawa tempo dulu terkait dengan penanaman Tectona grandis  di Kalingga, Pantai Timur India Selatan, di sekitar candi pada abad II M[7] sebagai penghormatan kepada dewa Shiwa. Dari sinilah kita dapat melihat bahwa sematan kayu yang benar-benar kayu’ ternyata berasal dari “kabar dari jauh” karena Tectona grandis masuk ke Jawa pada 1842, lama setelah ditanam disekitar  candi-candi Kalingga, India.

Rentetan kekaguman tersebut boleh jadi menyiratkan bahwa sebelum 1842 kata jati belum mengacu kepada makna pohon jenis tertentu. Kata tersebut bisa jadi hanya bermakna temen; nyata (‘nyata’; ‘sungguh-sunguh’) seperti catatan Gericke dan Roorda 1847 sebagai ‘wujud yang sebenarnya dari sesuatu atau seseorang; jatya, têmên, dan nyata; hakikat manusia. Kata jati yang berasal dari bahasa Jawa Kuno jatya ini pada perkembangan selanjutnya digunakan dalam konteks lebih luas sebagaimana jargon yang sering kita dengar, bahasa adalah jati diri bangsa; yang bermakna ‘bahasa adalah hakikat suatu bangsa’ pun dapat dimaknai ‘bahasa adalah ciri-ciri, gambaran, keadaan khusus atau identitas suatu bangsa’[8].

Kekaguman masyarakat Jawa atas “berita dari jauh” tentang pohon suci Tectona grandis tidak serta merta pudar setelah pohon tersebut berkembang di Jawa. Kekaguman tersebut justeru berkembang sebagaimana cerita-cerita rakyat di Jawa banyak mengangkat tema “perjatian”. Terdapat sumbu cerita yang dapat dikatakan unik karena di berbagai tempat di Jawa (Tengah) berkembang cerita tentang tumbuhnya pohon jati berkualitas tinggi yang pada masanya ditilik oleh pembesar Kesultanan Demak Bintoro dan diminta untuk dibawa ke Bintoro untuk dijadikan saka guru atau tiang penyangga utama bangunan masjid, yakni Masjid Agung Demak. Keunikan yang muncul adalah jalur air kali yang digunakan untuk menghanyutkan kayu tidak semuanya bermuara di Demak. Tak berhenti di situ, jumlah saka guru terpasang juga tidak sebanding dengan jumlah pohon rekaan yang ditebang di berbagai wilayah. Terlepas dari itu semua, kekaguman masyarakat Jawa terhadap jenis pohon atau kayu ini begitu lekat, mengabaikan fakta bahwa ulin Kalimantan jauh lebih berkualitas, dan kayu sono (yang sebenarnya asli Jawa) yang lebih eksotis juga terabaikan di masa lalu.

Apapun itu, dari dua puluh lima flora yang terlebih dahulu akrab dalam keseharian masyarakat Jawa Kuno dan terpahat di candi Borobudur, mencakupi pohon bodhi (Ficus religiosa L) , seroja (Nelumbo nucifera Gaertn.), talas (Alocasia macrorrhizos (L.) G.Don), siwalan (Borassus tlabellifer L.), nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk), sukun (Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg), pulai (Alstonia scholaris (L.) Br), tanjung (Mimusops elengi L.), tebu (Saccharum officinarum L.), pinang (Areca catechu L.), pisang (Musa spp.), mangga (Mangifera spp.), durian (Durio zibethinus Murray), asam Jawa (Tamarindus indica L.), dan manggis (Garcinia mangostana L) tidak ada yang mampu mengambil hati masyarakat Jawa sebagaimana kayu jati yang baru datang kemudian. Begitulah adanya.

Usulkan Entri Baru

jati sungu n Jw jati yg berwarna hitam, padat, dan berat

jati werut n Jw jati yg kayunya keras dng serat berombak.

jati doreng n Jw jati yg memiliki kayu kayunya keras, berkelir loreng hitam yg indah dan

tampak seperti menyala; jati lengis

jati kapur n Jw jati yg kayunya kurang kuat dan kurang awet, berwarna keputihan lantaran mengandung kapur

jati lênga n Jw jati yg kayunya keras, berat, halus jika diraba, dan tampak seperti mengandung minyak; jati malam

jati denok n Jw jati yang disakralkan karena memiliki ukuran sangat besar dan berusia ratusan tahun

Beberapa entri yg terdokumentasi di dalam Kamus  Kawi Dasanama, Anonim, 1882 mencakupi jati saba , jati sari , jati krasak , jati krosok , jati gopok belum dapat terdefinisi. Jika Anda mengetahui definisi mereka silakan tambahkan di kolom komentar.


[1] https://halosemarang.id/petilasan-jatiombo-semarang-dipercaya-tempat-sunan-kalijaga-menemukan-pohon-jati-untuk-pembangunan-masjid-agung-demak

[2] https://soloraya.solopos.com/asale-desa-jati-karanganyar-dulunya-hutan-jati-di-abad-ke-16-1905030

[3] https://kebumen24.com/2024/06/28/legenda-desa-jatimalang-klirong-asal-nama-diambil-dari-pohon-jati-yang-terhubung-dengan-masjid-demak/

[4] Carey, Peter dkk. Membaca Ulang Max Havelaar. Yogyakarta: Cantrik Pustaka

[5] Poerwadarminta. 1939. Bausastra Jawa. Batavia: Groningen

[6] https://doktor.pertanian.uma.ac.id/2022/12/perkembangan-kayu-jati-di-indonesia/#:~:text=Hal%20ini%20dapat%20dilihat%20dari,jati%20ada%20di%20Pulau%20Jawa.

[7] Ibid Carey, p 130

[8] https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/jati%20diri

Leave a comment