Maling (2)

Konon (katanya) di dataran tinggi Dieng zaman old, setiap bayi dilindungi oleh orangtuanya dengan meletakkan sebilah keris di dekat peraduannya. Hal ini terkait dengan kebiasaan yang dikaitkan dengan cerita Gangsiran Aswatama. Konon, menurut cerita rakyat setempat, gangsiran adalah terowongan yang dibuat oleh hewan yang dinamai gangsir. Hewan menyerupai jangkrik ini sering membuat terowongan, baik untuk ditinggali atau untuk menghubungkan satu tempat ke tempat lain. Aswatama, seorang tokoh Kurawa yang berhasil selamat dari Perang Baratayuda, berhasil melarikan diri dan pada kesempatan berikutnya ia berniat balas dendam. Ia berniat membunuh penerus tahta Pandawa, yakni Parikesit putra Abimanyu yang masih bayi. Cara unik yang dilakukan oleh Aswatama adalah membuat terowongan, yakni menggangsir menuju peraduan sang bayi Parikesit. Ketika telah sampai di tujuan, di sisi sang bayi, sang bayi menangis dan menendang sapu yang di atasnya terdapat keris. Keris melambung dan menancap di leher Aswatama[1]. Innalillahi wir.

(Lagi-lagi) konon, masyarakat Dieng tempo dulu juga percaya bahwa Aswatama menyembul dari terowongan yang ia buat tepat di Candi Arjuna, Dieng. Ia memilih jalur bawah tanah agar tidak diketahui pihak Pandawa. Namun justru ia terbunuh oleh bayi yang akan ia bunuh karena sang bayi yang terperanjat atas kehadiran Aswatama. Sang bayi tak sengaja menendang keris yang sengaja diletakkan oleh orang tuanya di dekatnya, keris terlempar dan menancap di tubuh Aswatama. Cerita inilah yang mendorong masyarakat Dieng tempo dulu memelindungi bayi mereka dengan meletakkan keris kecil (meskipun perkembangan selanjutnya banyak yang menggunakan tiruan keris dari bahan kayu) di dekat bayi mereka dengan harapan bayi mereka terlindung dari gangguan makhluk gaib sebagaimana Parikesit “ditemani” oleh keris.

Menggangsir sebagaimana dilakukan oleh Aswatama tersebut boleh jadi merupakan teknik yang cerdas (apabila berhasil) karena Aswatama tidak perlu menyelinap di antara remang malam dan penjagaan prajurit Pandawa. Ia menggunakan jalur bawah tanah yang dapat membuatnya sampai di tempat yang dituju tanpa terlihat oleh orang lain, meski titik koordinat kamar sang bayi sangat sulit untuk ditentukan. Masyarakat Dieng percaya Aswatama membuat terowongan dari Pekalongan hingga dataran tinggi Dieng, betapa fiksi dan luar biasa!

Teknik Awatama ini ditiru oleh para pencuri di perkampungan Jawa tempo dulu, ketika rumah-rumah pedesaan berdinding kayu (gebyok) atau bambu (gedheg) tanpa pondasi keliling. Sang pencuri tidak perlu repot mencongkel pintu atau jendela, memasukkan nomor PIN yang tepat, pun menyusup melalui atap, tetapi mereka cukup menggali terowongan seukuran tubuhnya untuk masuk rumah. Teknik menggangsir ini bisa jadi sangat efektif tetapi pada praktiknya banyak cerita yang mengisahkan kegagalan teknik ini seperti tidak manjurnya ajian sirep (membuat penghuni rumah tertidur pulas) si pencuri atau pemilik rumah telah menunggu kepala si pencuri menyembul di permukaan tanah. Pada situasi yang sedemikian, kecil peluang pencuri dapat meloloskan diri karena pemilik rumah pasti telah bersiap diri dengan senjata.

Teknik menggangsir sebenarnya hanya salah satu teknik menyelinap yang dilakukan oleh maling Jawa tempo dulu. Teknik lain yang mereka praktikkan adalah nayap, yakni memasuki rumah sasaran pada siang hari ketika penghuni rumah pergi ke sawah atau ladang.  Nayap merupakan salah satu teknik yang memungkinkan seorang pencuri tidak perlu mengendap dalan kegelapan dan teknik ini hanyalah salah satu cara atau teknik maling ala Jawa tempo dulu.

Meski makna maling dalam bahasa Indonesia bermakna ‘mengambil sesuatu milik orang lain’ atau ‘orang yang mengambil milik orang lain’, kata tersebut sedikit berbeda (meski galih maknanya sama, yakni mengambil sesuatu milik orang lain) dengan maling dalam budaya Jawa. Maling dalam kebudayaan Jawa memiliki makna unik karena tidak sekadar mengandung unit makna (sense unit) perbuatan ‘mengambil sesuatu yang bukan miliknya’ tetapi juga dapat bermakna ‘mengambil yang bukan miliknya tetapi tidak tampak seperti pencuri’. Selain terdapat teknik-teknik yang berbeda, objek pencurian pun dijadikan dasar penamaan segala sesuatu yang berkaitan dengan tindak pencurian sehingga turut membedakan maling satu dengan maling yang lain.

Jika di belahan bumi yang lain, Texas, mengenal istilah larceny, yakni pencurian yang dilakukan dengan mengambil sesuatu milik orang lain secara tidak sah dengan maksud untuk dimiliki secara permanen, tanpa perlu konfrontasi dengan pemilik barang[2], di Jawa ada maling arep, yakni mengambil barang orang lain dengan dalih meminjam tetapi tidak dikembalikan. Meski kedua konsep tersebut tidak sama persis, keduanya menyiratkan makna tanpa konfrontasi secara langsung atau ancaman terhadap korban pemilik barang. Jika kita meminjam barang dan kita lupa mengembalikan maka kita harus bersiap diberi label maling arep. Sementara itu , orang yang mengambil dan menyembunyikan barang hasil curian disebut sebagai penadah, kejahatan receiving a stolen item[3], atau maling calued. Maling calued ini melibatkan pengambilan atau penyembunyian barang curian.

Orang yang menggelapkan jatah  milik pembesar, jatah milik kantor atau lembaga disebut sebagai maling raja peni. Mungkin pada zaman kerajaan dulu telah dikenal upeti atau pajak yang harus disetorkan ke pembesar atau raja, jika hasil pajak yang disetorkan lebih sedikit dari pajak yang diterima dari wajib pajak maka sang pelaku lazim disebut maling raja peni, seorang pencuri yang berkesempatan mengambil barang-barang “bagus” milik sang raja.

Jika seseorang berniat mencuri, meski belum terlaksana tetapi telah ketahuan, maka ia masuk kategori maling kebunan. Jika seorang pekerja bangunan tengah mendirikan rumah seorang klien tetapi ia rajin membawa pulang material bangunan atau menjual material bangunan itu, maka ia akan disebut sebagai maling timpuh.  Jika seseorang menempati rumah yang telah terkenal sebagai kediaman seorang pencuri maka orang itu akan kena getahnya disebut sebagai maling juga, yakni maling tunggal labet. Dalam kondisi kekinian, jika Anda bekerja di sebuah instansi yang dipimpin oleh kepala yang korup maka Anda juga layak menyandang predikat maling labet meskipun Anda tak turut dalam praktik korup di kantor Anda. Mata-mata yang kita kenal dalam peperangan, yakni memberikan informasi “berharga” yang digunakan untuk aksi menyerang juga terdapat dalam dunia maling. Teknik yang aman dan informasi penting lain seperti berapa anjing penjaga yang dimiliki, berapa pintu yang tidak terbuat dari kayu jati, berapa CCTV terpasang, dsb yang merupakan informasi penting untuk diberikan kepada “the real” maling oleh seorang maling sakutu[4].

Tempo dahulu, ketika belum ada penerangan Perusahaan Listrik Negara, orang-orang Jawa di pedesaan selalu menggunakan obor ketika berjalan di malam hari. Selain untuk menerangi permukaan tanah yang akan dipijak, obor juga berfungsi sebgai tengara bahwa tengah ada seseorang berjalan ke suatu tempat. Lantas bagaimana jika berjalan tidak menggunakan obor, bisa jadi orang lain menyangka orang tersebut tengah berupaya mencuri dan layak disemati julukan maling lamat.  Selanjutnya, maling yang sering kita temukan dalam pemberitaan dalam surat kabar adalah maling sadu, yakni maling yang menyamar sebagai orang saleh atau orang suci, yakni seseorang berjiwa sosial yang seolah ingin menolong orang lain. Maling yang berempati kepada korban dan kemudian menusuk dari belakang inilah yang disebut sebagai maling sadu.  

Akhirnya, satu julukan maling yang agak aneh dan menggunakan kosakata saru adalah maling ngumpet wedi silit, yakni seseorang yang menuduh orang lain sebagai maling tetapi menghindar ketika diminta menjadi saksi. Dalam hal ini ia tidak mengambil barang dari orang lain tetapi mengambil nama baik dan kehormatan orang lain. Begitulah serba serbi maling dalam budaya Jawa tempo dulu.

Disclaimer: Tulisan ini sekadar ginem, bukan pemberian informasi “berharga” kepada maling sebenarnya, tidak sedikit pun terbersit keinginan penulis untuk menjadi maling sakutu.

Usulkan Entri Baru

menayab v Jw mencuri dng memasuki rumah pd siang hari saat rumah kosong

sumber: sayab (sayab) : K.N.; nyayabi of nayabi, over dag stelen. kasayaban, over dag bestolen worden. Sumber: Javaansch-Nederduitsch Woordenboek, Gericke en Roorda, 1847, #16.

menggangsir v Jw 1. mencuri dng membuat terowongan di bawah dinding rumah, 2. mencuri dng menggunakan jalan tak biasa agar tidak diketahui

Sumber: gangsir (gaGsIr) : K.N. een soort van grooten krekel, die zich in den grond ophoudt [vrg. jangkrik]. anggangsir, als een krekel een gat in den grond maken, ondergraven, ondermijnen, doorgraven om te stelen. Sumber: Javaansch-Nederduitsch Woordenboek, Gericke en Roorda, 1847, #16.

 (anggangsir: membuat lubang di tanah seperti jangkrik, merongrong, merusak, menggali untuk mencuri.)

maling samun n Jw pencuri yg mengambil barang milik orang lain yang tercecer di jalan atau tempat umum

maling cilik n Jw pencuri yg kerap mencuri sesuatu yang kurang berharga

maling gede n Jw pencuri yg kerap mencuri sesuatu yang berharga

maling aguna n Jw pencuri yg kerap mencuri sesuatu dari rumah orang kaya untuk membantu orang miskin; maling totos

maling raras n Jw pencuri yg memasuki rumah dan memerkosa pemilik rumah

maling dendeng n Jw lelaki yg suka selingkuh

maling sandi n Jw orang yg diketahui sebagai maling tetapi sulit dibuktikan bahwa dia adalah maling

maling calued n Jw orang yg mengambil atau menyembunyikan barang curian; penadah


[1] Setiyoningsih, Titi dkk. 2024.  Kompleksitas Ide dalam Cerita Rakyat Gangsiran Aswatama di Dataran Tinggi Dieng dalam Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Metalingua Vol 9 No 1, April 2024 E-ISSN 2528-6684, ISSN 2528-4371

[2] https://texascriminaldefensegroup.com/understanding-different-types-of-theft/

[3] https://texascriminaldefensegroup.com/understanding-different-types-of-theft/

[4]  www.celetukansegar.blogspot.com

Leave a comment