(Ber) Sastra

Melalui sastra, kita memasuki dunia di mana imajinasi menjadi kenyataan. Meski kalimat ajakan mendukung Program Sastra Masuk Kurikulum (PSMK) tersebut memiliki ideologi yang serupa dengan buku Panduan Penggunaan Rekomendasi Buku Sastra, kita harus berhati-hati. Pertama, sastra sejak dahulu merupakan bagian dari mata pelajaran bahasa (Indonesia) yang sudah masuk ke dalam kurikulum. Lantas sastra yang mana lagi yang harus masuk ke dalam kurikulum? Alih-alih dikesampingkan dari kurikulum, siswa SMA jurusan bahasa justru dibuat mabok oleh sastra. Kedua, dikotomi sastra dan nonsastra tidak harus dikedepankan mengingat sastra hanyalah salah satu bagian kecil dari isi kebudayaan manusia yang berupa bahasa. Bagaimana kita menanggapi jika nantinya ada Program NonSastra Masuk Kurikulum sebagai tandingan PSMK? Lebih runyam lagi jika nanti ada Program Organisasi Sosial Masuk Kurikulum, Program Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi Masuk Kurikulum, Program Sistem Mata Pencaharian Hidup Masuk Kurikulum, dan program-program lain? Toh semua itu bagian dari isi kebudayaan. Ketiga, kalimat awal di atas, memasuki dunia imajinasi bisa menjadi kenyataan bukanlah kalimat yang sederhana. Banyak lulusan SMA bahasa dan Fakultas Sastra (seperti saya) terlampau asyik memasuki dunia imajinasi. Bukan tidak mungkin kalimat tersebut dapat berujung pada tafsir dunia kenyataan kita adalah imajinasi.

Satu pemikiran Nirwan Dewanto, menjadikan sastra sebagai pilihan (saja) bisa jadi merupakan pemikiran paling masuk akal mengingat pelajaran bahasa Indonesia dari zaman dahulu juga telah memberikan pilihan bersastra dan membaca karya sastra tanpa harus dirancang menjadi program tersendiri. Senada dengan Nirwan, titik tekan bersastra layak diutamakan, yakni upaya mengungkapkan diri secara lisan dan tulisan, berpikir sebagai manusia merdeka[1].  

Salah satu aktivitas bersastra menurut Nirwan Dewanto, pengungkapan secara lisan dan tulisan, ini sebenarnya telah lama masuk dalam lingkungan akademis, seperti kegiatan paling sederhana, yakni mencatat kosakata yang tidak diakrabi, kosakata asing, kosakata bidang ilmu, dan kosakata “sulit” lain yang menuntut kita tidak hanya mendengar tetapi harus mencatatnya untuk dibaca dan diingat pada kesempatan lain. Meski demikian, kita tidak perlu latah turut mengusulkan sebuah program baru, Program Kamus Masuk Kurikulum, misalnya. Biarlah orang-orang menimbang PSMK tersebut sedangkan kita terus mencatat kosakata.

sastra diaspora n 1aliran sastra yg mengangkat tema kehidupan yang berkaitan dengan permasalahan migrasi; 2 karya sastra yg dihasilkan oleh penulis yg hidup di luar tanah asal[2]

sastra maritim n 1aliran sastra yg mengangkat tema kehidupan di atas laut dan pesisir; 2 karya sastra yg dihasilkan oleh penulis yg hidup di pesisir[3]

sastra dunia n karya sastra yg telah didistribusikan dan diedarkan di luar negara asalnya[4]

sastra kulit hitam n 1aliran sastra yg mengangkat tema kehidupan orang kulit hitam; 2 karya sastra yg dihasilkan oleh penulis kulit hitam

sastra perjalanan n aliran sastra yg mengangkat penceritaan tempat-tempat yg disinggahi oleh seorang tokoh selama melakukan perjalanan[5]; 2 karya sastra yg memuat tema perpelancongan[6]


[1] “Surat Terbuka Nirwan Dewanto kepada Kurator Panduan Rekomendasi Buku Sastra” https://seleb.tempo.co/read/1872150/surat-terbuka-nirwan-dewanto-kepada-kurator-panduan-rekomendasi-buku-sastra

[2] https://www.researchgate.net/publication/375608187_DIASPORIC_LITERATURE—AN_OVERVIEW

[3] https://ctcenterforthebook.org/maritime-literature-of-north-america/#:~:text=’Literature%20of%20the%20sea’%20or,are%20critical%20to%20the%20story.

[4] https://pll.harvard.edu/course/masterpieces-of-world-literature

[5] https://www.jstor.org/stable/26284375

[6] https://www.britannica.com/topic/nonfictional-prose/Dialogues#ref505246


Leave a comment