Aparatus

Aparatus (dispositif dalam bahasa Prancis) merupakan konsep yang paling banyak ditemukan sekaligus yang paling kelam dalam pemikiran Michele Foucault. Dalam salah satu tulisannya, “What is a dispositive?” Agamben dalam esainya berhasil menerangi gagasan dispositif ala Foucault dengan menyebutnya sebagai aparatus. Ide Foucault ini dijelaskannya sebagai “seperangkat praktik, kerangka pengetahuan, perilaku, dan institusi yang mempunyai kapasitas untuk mengarahkan, menentukan, memodelkan, mengendalikan atau mengamankan perilaku, gestur, dan pikiran manusia.” Dilihat dari perspektif ini, karya Agamben, sama seperti Foucault, dapat digambarkan sebagai identifikasi dan investigasi aparatus, yang dibarengi dengan upaya gencar pencarian cara-cara baru untuk membongkar kekelaman ide Foucault. Agamben dalam hal ini tidak hanya menawarkan penyelidikannya atas gagasan Foucault tentang aparatus, tetapi juga meditasinya tentang hubungan akrab antara filsafat dan refleksinya tentang kekinian (kontemporaritas).

Kurasa diriku bagai meniti buih

hingga tepian dermaga. Saat kelembaban

benar-benar merajai Mediterania.

Udara merebus benua. Hingga goyah

kestabilan atmosfer.

Panas itu memerkuat badai guntur lataan

hingga meraja…

https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/aparatus

a.pa.ra.tus       

Usulkan Makna Baru

2 n seperangkat praktik, kerangka pengetahuan, perilaku, dan institusi yg mempunyai kapasitas untuk mengarahkan, menentukan, memodelkan, mengendalikan atau mengamankan perilaku, gestur, dan pikiran manusia

Sumber: Agamben, Giorgio. 2009. “What Is an Apparatus?” and Other Essays. Translated by David Kishik and Stefan Pedatella. Stanford, California: Stanford University Press.

Banal

Bagi Arendt, berpikir tidak sama dengan mengetahui. Mengetahui adalah kegiatan intelektual untuk mengakumulasi data dan informasi. Sedang berpikir merupakan kegiatan khas akal budi untuk menangkap, menyelami, mempertimbangkan, dan menemukan makna. Dengan demikian, ketidakberpikiran bukanlah kebodohan (Arendt, 1978) karena terkait dengan ketidakmampuan memutuskan secara tepat suatu tindakan yang akan dilakukan dengan memperhitungkan semua konsekuensinya bagi orang lain, bukan kekurangan pengetahuan, data, dan informasi. Hal ini berkaitan dengan Ide utama Arendt mengenai banalitas kejahatan merupakan suatu kondisi di mana seseorang gagal mengidentifikasi kejahatan sebagai kejahatan yang disebabkan oleh ketidakberpikirannya sehingga tindakannya menjadi dangkal atau banal (Arendt, 2006).

Percakapan[1]

–terkenang Hannah Arendt

Di bibir Leine Aku termenung. Senyumnya mengapung di pelupuk mata. Alir tenangnya telah menikamku dari depan, samping, dan belakang. Hingga Aku terbelah menjadi dua. Aku dan Diriku. Mungkin inilah kesunyian. Di kilau alirnya, satu dua percakapan mengalir perlahan. Kami berbincang tentang dua ratus enam puluh satu ribu: bom telah dijatuhkan. Sebagian meledakkan jalanan, meluluhlantakkan gedung-gedung, dan menyapu pemukiman. Sebagian terkubur bersama nurani dan kebersamaan. Di palung paling dalam.

Di wajah Leine Aku dan Diriku masih sempat berbincang tentang ruang-ruang.  Pun kekuasaan yang menyelinap dalam ideologi berbalut logika, hukum, dan manipulasi. Kami juga masih bercakap tentang kebanalan, kebohongan, konspirasi, dan teror penguasa.

Di ingar Hannover, kesunyian tetiba menjelma kesepian. Diriku telah meninggalkan Aku. Ke mana kembara: Diriku dan percakapan. Mungkinkah mereka menyelinap di sebalik lalu-lalang. Orang-orang Hannover yang tenggelam dalam balong pikiran. Mungkinkah Aku akan memahami kejahatan sebagai kelumrahan. 

Di alir Leine, alir begitu merindukan percakapan antara Aku dan Diriku.

100119-kdp


Usulkan Entri Baru

banal a dangkal, tidak memiliki keaslian atau kebaruan

banalitas n keadaan yg dangkal dan tidak memiliki kualitas baru atau menarik

banalitas kejahatan n kondisi di mana seseorang gagal mengidentifikasi kejahatan akibat ketidakberpikiran sehingga tindakannya menjadi dangkal atau banal

Ref:

Arendt, H. 1978. The Life of Mind. A Harvest Book.

Arendt, H. 2006. Eichmann In Jerusalem: A Report on the Banality of Evil. Penguin Group.

Bergen, Bernard. J. 1998. The Banality of Evil: Hannah Arendt and The Final Solution. USA: Rowman & Littlefield.

Permana dkk. 2019. Sesapa Mesra Selinting Cinta: Pertemuan Penyair Nusantara XI Kudus 2019

Dukun

Di dalam berbagai budaya, dukun dipercaya sebagai pemimpin spiritual sekaligus sebagai orang yang memiliki kemampuan istimewa, beberapa diantaranya adalah memiliki kemampuan berkomunikasi dengan dunia roh, penyembuh penyakit, pemandu jiwa orang yang telah meninggal, pemanipulasi alam, pelindung komunitas, pelestari tradisi, peramal masa depan, dan fungsi-fungsi lain yang tidak dapat diwakili oleh orang-orang kebanyakan. Konon, dukun menurut Jennifer Nourse berakar dari bahasa Persia dehqhan atau dehqn yang berarti orang desa dengan pengetahuan, kepintaran, dan keahlian khusus[1].

Pemaknaan dukun yang berkonotasi positif tersebut tidak berlangsung selamanya. Upaya menentang pemaknaan dukun sebagai sebuah makna tunggal yang hampir mendekati kebenaran karena dipercaya oleh banyak orang mula-mula dilakukan setelah munculnya kecenderungan orang-orang Belanda di Batavia lebih suka datang kepada dukun dari pada mengunjungi dokter. Mattheus de Haan (19 Oktober 1663 – 1 Juni 1729), Gubernur jenderal Hindia Belanda yang ke-21 mencatat fenomena tersebut. Untuk mencegah hal tersebut berlarut-larut, beberapa kelompok berupaya menentang konsep dukun sebagai agen yang memahami anatomi tubuh manusia, penyakit, dan memiliki pengetahuan, kepintaran, dan keahlian khusus dengan melekatkan stigma yang berhubungan dengan tahayul dan musyrik sebagai upaya diskursif. Upaya tersebut, tentu saja, diikuti oleh penciptaan oposisi biner dukun-dokter, dukun-tabib, tahayul-ilmiah, sesat-lurus yang pada akhirnya meminggirkan makna dukun.

Meski upaya diskursif tersebut dapat dikatakan berhasil, terlebih didukung oleh gerakan pemurnian agama, nyatanya di daerah-daerah terpencil dukun masih menduduki posisi yang istimewa. Praktik-praktik diskursif dalam pemaknaan dukun akan terus berlangsung hingga kebudayaan manusia berakhir. Apa pun itu, terlepas dari wacana sesat dan tak ilmiah, dukun pernah dan masih membentuk kebudayaan manusia. Di dalam kebudayaan Jawa, dukun pernah dan masih dipercaya memiliki kemampuan khusus dalam menyembuhkan penyakit dan urusan lain yang seringkali sulit dijangkau oleh nalar manusia.  Fenomena ini direkam oleh Geertz yang mengungkapkan ada beberapa jenis dukun yang dikenal oleh masyarakat Jawa yaitu dukun bayi, dukun pijet, dukun prewangan, dukun calak (tukang sunat), dukun wiwit, dukun manten atau ahli upacara perkawinan, dukun petung, dukun sihir, dukun susuk, dukun japa, dukun jampi, dukun siwer, dan dukun tiban [2].

Usulkan Entri Baru

dukun manten n Jw 1. dukun yg merias pengantin, dipercaya dapat mengeluarkan aura kecantikan dan ketampanan pengantin; 2 dukun yg dipercaya untuk memimpin ritual adat pernikahan

sangkal putung n Jw  1. minyak penyembuh patah tulang dan fungsi gerak; 2. pengobatan patah tulang  dan fungsi gerak secara nonmedis

sangkal (saGkal) : K.N. het hecht van een bijl. sangkal putung, naam van een genezende olie. -sangkal, di atas sebuah pohon sangkal. Sumber: Javaansch-Nederduitsch Woordenboek, Gericke en Roorda, 1847, #16.

dukun sangkal putung n Jw dukun yg mengobati patah tulang dan fungsi gerak tubuh pasien dng metode tradisional

https://www.honestdocs.id/pilihan-tepat-mengobati-patah-tulang

dukun pelet n Jw dukun yg mempraktikkan pelet, pemikat, atau mantra cinta yg berfungsi untuk memengaruhi alam bawah sadar seseorang agar jatuh cinta kepada seseorang

https://www.intipseleb.com/lokal/38403-astagfirullah-pesulap-merah-bongkar-trik-dukun-pelet-orang?page=2

dukun sunat n Jw dukun yg menjalankan praktik sunat secara tradisional; dukun calak

https://majalah.tempo.co/read/indonesiana/25177/calon-dukun-sunat

dukun jampi n Jw dukun yg menyembuhkan pasien dng menggunakan ramuan dan obat-obatan tradisional

dukun japa n Jw dukun yang mengandalkan kekuatan mantera sbg sarana pengobatan

https://ejurnal.sttabdisabda.ac.id/index.php/JSAK/article/download/31/33/#:~:text=(3)%20Dukun%20Japa%20adalah%20dukun,menggunakan%20kekuatan%20sihir%20terhadap%20manusia.

dukun petung n Jw dukun yg ahli dalam perhitungan perbintangan

https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/19994/

dukun perewangan n Jw dukun yg menjadikan dirinya sebagai medium makhluk halus dalam menolong pasien

https://repository.unair.ac.id/14935/

dukun reog n Jw dukun yg mendatangkan roh agar merasuki tubuh pemain reog

dukun siwir n Jw dukun yang mempunyai kekhususan mencegah terjadinya kesialan yang diakibatkan oleh peristiwa alam

https://id.wiktionary.org/wiki/dukun_siwer

dukun susuk n Jw dukun yang menusukkan jarum dengan sihir untuk memberikan sifat-sifat tertentu, misalnya kekebalan

https://id.wiktionary.org/wiki/dukun_susuk

dukun wiwit n Jw dukun yg ahli yang memimpin upacara permulaan panen

https://republika.co.id/amp/rsoph5145886398026001/ramai-kasus-mbah-slamet-maka-perlu-kenal-sama-12-macam-dukun-di-indonesia

dukun cilik n Jw dukun yg berusia belia

https://www.detik.com/jatim/berita/d-6664594/tampang-terkini-ponari-si-dukun-cilik-asal-jombang-yang-bikin-pangling

dukun cabul   n dukun yg berbuat keji dan melanggar kesusilaan kepada pasien

https://www.detik.com/tag/dukun-cabul

https://www.detik.com/sumut/hukum-dan-kriminal/d-7390377/pria-ngaku-dukun-di-payakumbuh-perkosa-wanita-modus-beri-susuk

dukun pengganda uang n dukun yg memperdayai korban dng kemampuan palsu menggandakan uang

https://www.kompas.id/baca/nusantara/2023/12/21/bunuh-12-orang-dukun-pengganda-uang-banjarnegara-dituntut-hukuman-mati


[1] Harususilo, Yohanes Enggar. “Kiprah Dukun di Indonesia, Ahli Medis yang Magis” dalam https://www.kompas.com/tren/read/2023/03/17/060000965/kiprah-dukun-di-indonesia-ahli-medis-yang-magis?page=all#:~:text=Melansir%20National%20Geographic%20Indonesia%2C%20sejarawan,%2C%20kecerdasan%2C%20dan%20keahlian%20khusus.

[2]Geertz, Clifford. The Religion of Java. London: The University of Chicago. Press, 1960

mPus

Konon sebuah penelitian genetika menunjukkan bahwa kucing telah hidup berdampingan dengan manusia lebih lama dari yang telah diperkirakan selama ini. Meski kalah lama dari anjing yang konon telah dijinakkan pada akhir periode Paleolitikum (15.000 tahun yang lalu), kucing diperkirakan telah hidup bersama manusia (dalam bentuk yang tidak dijinakkan) pada periode Neolitikum (8.000 tahun yang lalu)[1]. Pada periode  tersebut manusia mulai bercocok tanam dan menyimpan makanan yang menarik hati hewan pengerat yang kemudian dikejar oleh kucing untuk dijadikan mangsa.

Meski bukti domestikasi kucing masih sedikit, pada masa sebelum terbangunnya dinasti Mesir (sebelum 3150 SM) dan pada akhirnya masa dinasti Mesir (setelah 3150 SM) dipercaya oleh banyak ahli telah terjadi domestikasi kucing. Hal ini dikaitkan dengan ikonografi dari periode tersebut yang telah menunjukkan bahwa manusia memuliakan kucing serta menyembah dewa-dewi kucing yang merepresentasikan kesuburan, kekuatan, dan keadilan[2]. Dari Mesir, pemuliaan ini menyebar ke kebudayaan lain seturut rute perdagangan kuno hingga akhirnya kucing berpadu dengan berbagai kebudayaan.  

Di berbagai kebudayaan, kucing dipercaya sebagai pertanda baik atau buruk. Di sebagian besar masyarakat Muslim, kucing adalah hewan yang dihormati[3]. Menurut hadits, kucing itu tidak hewan najis. Dia sebagai hewan yang sering berputar-putar pada kalian[4]. Salah satu sahabat Nabi, Abu Huriah, mencatat bahwa Muhammad menyatakan bahwa seorang wanita masuk neraka karena membuat seekor anak kucing kelaparan[5]. Kebudayaan Islam seringkali dikaitkan dengan penghargaan khusus terhadap kucing dan seperangkat kepercayaan khusus yang berkaitan dengan bagaimana seseorang selayaknya memperlakukan kucing, “ketika jiwa telah berjalan-jalan, ia akan tiba di sebuah jembatan di seberang sungai, di mana seekor kucing berjaga-jaga”[6].

Di dalam budaya Persia, perilaku kucing dapat ditafsirkan sebagai pertanda baik atau buruk. Kucing yang mencuci atau menjilati cakarnya di dekat pintu depan menandakan bahwa seorang tamu akan segera tiba. Di pedesaan Thailand, kucing digunakan dalam upacara mengundang hujan, seekor kucing betina yang dibesarkan di kuil dibawa dari rumah ke rumah sambil mengalunkan lagu-lagu pujian kepada para dewa. Di setiap rumah, para penghuni rumah menyambut dan menyiramkan air ke tubuh kucing tersebut. Setelah setiap rumah dikunjungi, sebuah pesta diadakan di kuil dan kucing yang basah kuyup dibiarkan mengering.

Namun demikian, tidak semua perilaku kucing dianggap sebagai pertanda baik. Bagi masyarakat Persia, jika seekor kucing menggosokkan wajahnya pada seseorang maka pertanda bahaya yang akan datang. Ketika dua kucing berkelahi, mereka harus dipisahkan dengan cepat, atau beberapa kesulitan akan muncul[7]. Kucing hitam seringkali juga seringkali dikaitkan dengan entitas jin, makhluk spiritual yang kuat dan berbahaya. Jika jin diganggu atau disiksa, si pengganggu dipercaya akan mendapati bencana.

Kucing yang acapkali dipandang sebagai pertanda baik (Persia), pertanda buruk (Persia), makhluk ajaib yang digunakan untuk menurunkan hujan (Thailand) serta penyihir (suku Maya) ternyata juga terjadi di dalam kebudayaan Jawa. DI dalam Serat katuranggan kucing (ꦱꦼꦫꦠ꧀ꦏꦠꦸꦫꦁꦒꦤ꧀ꦏꦸꦕꦶꦁ), sebuah teks sastra Jawa berbentuk tembang yang membahas jenis dan rupa kucing, berisi pemaparan mengenai jenis-jenis kucing berdasarkan warna bulu dan akibat baik-buruknya bagi manusia. Selain katuranggan perkutut katuranggan wanita, dan katuranggan djaran, terdapat pula katuranggan kucingkatur yang dapat dimaknai “pemberitahuan” dan angga yang berarti “tubuh” membentuk makna pemberitahuan mengenai ciri fisik atau tubuh

Ciri fisik tiap jenis kucing dan uraian baik dan buruk dijelaskan secara singkat. Baik Serat Ngalamating Kucing (ꦱꦼꦫꦠ꧀ꦔꦭꦩꦠ꧀ꦠꦶꦁꦏꦸꦕꦶꦁ) versi Yogyakarta dan Serat Katuranggan ning Kutcing (ꦱꦼꦫꦠ꧀ꦏꦠꦸꦫꦁꦒꦤ꧀ꦤꦶꦁꦏꦸꦠ꧀ꦕꦶꦁ) versi Semarang memiliki isi yang sebagian besar sama dengan sedikit perbedaan dari segi pengejaan dan susunan.

Serat Katuranggan ning Kutcing  diterbitkan di Semarang pada tahun 1871 M menuturkan salah satu kucing yang dianggap baik sebagaimana berikut:

PadaBahasa JawaBahasa Indonesia
Aksara JawaLatin
7꧅ꦭꦩꦸꦤ꧀ꦱꦶꦫꦔꦶꦔꦸꦏꦸꦕꦶꦁ꧈ ꦲꦮꦏ꧀ꦏꦺꦲꦶꦉꦁꦱꦢꦪ꧈ ꦭꦩ꧀ꦧꦸꦁꦏꦶꦮꦠꦺꦩ꧀ꦧꦺꦴꦁꦥꦸꦠꦶꦃ꧈ ꦊꦏ꧀ꦱꦤꦤ꧀ꦤꦶꦫꦥꦿꦪꦺꦴꦒ꧈ ꦲꦫꦤ꧀ꦮꦸꦭꦤ꧀ꦏꦿꦲꦶꦤꦤ꧀‍꧈ ꦠꦶꦤꦼꦏꦤꦤ꧀ꦱꦱꦼꦢꦾꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀‍꧈ ꦪꦺꦤ꧀ꦧꦸꦟ꧀ꦝꦼꦭ꧀ꦭꦁꦏꦸꦁꦲꦸꦠꦩ꧈Lamun sira ngingu kucing, awaké ireng sadaya, lambung kiwa tèmbong putih, leksan nira prayoga, aran wulan krahinan, tinekanan sasedyan nira ipun, yèn buṇḍel langkung utamaJika engkau memelihara kucing yang seluruh badannya berwarna hitam tetapi perut sebelah kirinya terdapat bercak putih  maka hal itu baik, kucing itu disebut wulan krahinan yang dapat membawa kebaikan berupa tercapainya semua keinginan. Jika ekornya pendek maka lebih utama.

Salah satu kucing yang dianggap kurang baik dituturkan sebagaimana berikut:[9]

PadaBahasa JawaBahasa Indonesia
Aksara JawaLatin
8꧅ꦲꦗꦱꦶꦫꦔꦶꦔꦸꦏꦸꦕꦶꦁ꧈ ꦭꦸꦫꦶꦏ꧀ꦲꦶꦉꦁꦧꦸꦤ꧀ꦠꦸꦠ꧀ꦥꦚ꧀ꦗꦁ꧈ ꦥꦸꦤꦶꦏꦲꦮꦺꦴꦤ꧀ꦭꦩꦠ꧀ꦠꦺ꧈ ꦱꦼꦏꦼꦭꦤ꧀ꦱꦿꦶꦁꦠꦸꦏꦂꦫꦤ꧀‍꧈ ꦲꦫꦤ꧀ꦝꦣꦁꦱꦸꦁꦏꦮ꧈ ꦥꦤ꧀ꦲꦢꦺꦴꦃꦫꦶꦗꦼꦏꦶꦤꦶꦥꦸꦤ꧀‍꧈ ꦪꦺꦤ꧀ꦧꦸꦟ꧀ꦝꦼꦭ꧀ꦤꦺꦴꦫꦔꦥꦲ꧈Aja sira ngingu kucing, lurik ireng buntut panjang, punika awon lamaté, sekelan sring tukaran, aran ḍaḍang sungkawa, pan adoh rijeki nipun, yèn buṇḍel nora ngapaJanganlah engkau memelihara kucing dengan bulu lurik hitam berekor panjang, kucing jenis itu tidak baik dipelihara, sering bertengkar dan disebut disebut ḍaḍang sungkawa. Kehidupanmu akan jauh dari rizeki. Namun bila ekornya pendek tidak mengapa

Tak hanya di Jawa, kebudayaan Bali juga memiliki tradisi teks serupa yang disebut carcan kucing atau carcan miyong, naskah lontar yang memiliki isi menyerupai serat katuranggan kucing versi Jawa. Naskah Tamra Maeo Thailand memaparkan jenis-jenis kucing dalam bentuk bait-bait pendek disertai dengan ilustrasi. Begitulah kucing dan kebudayaan manusia, kucing tidak sekadar makhluk ilahiah (Mesir) dan keturunan setan (suku Maya), kucing turut pula membentuk budaya manusia dengan keragaman mitos yang melekat pada bulu-bulunya.

Usulkan Entri Baru

wulan purnama n Jw kucing dng bulu berwarna putih dengan bercak hitam di perut sebelah kanan, dipercaya baik untuk dipelihara

wulan krahinan n Jw kucing dng bulu berwarna hitam dengan bercak putih di perut sebelah kanan, dipercaya baik untuk dipelihara

bujangga hamengku  n Jw kucing dng bulu berwarna putih dengan belang hitam di kepala           dipercaya baik untuk dipelihara

satriya wibawa n Jw kucing dng warna bulu yg sama dari telapak kaki hingga mulut dan mata

paṇḍita lelaku n Jw kucing dng garis putih dari punggung hingga mulut 

sangga buwana n Jw kucing dng warna bulu apapun dengan bercak di punggungnya         

wisnu atoṇḍa n Jw kucing dng warna bulu apapun, tidak banyak bersuara atau bisu    

candra mawa n Jw 1. kucing dng pusaran bulu di kepala, dada, atau punggung; . kucing dng bulu tiga warna         

sari kuning n Jw kucing dng garis dari punggung hingga muka  

udan mas n Jw kucing dng bulu berwarna merah keputih-putihan seperti menjangan

putra kajentaka n Jw kucing dng bulu berwarna hitam mulus dan berekor panjang, dipercaya akan mendatangkan kemiskinan

ḍaḍang sungkawa n Jw kucing dng bulu berwarna hitam lurik, berekor panjang         

durjana kakeṭu n Jw kucing dng bulu berwarna hitam dengan belang putih di kepala           

wisa tumama n Jw kucing dng ekor putih panjang             

tampar taliwangsul n Jw kucing dng bulu di telinga dan perut berwarna sama          

kala ngumbara n Jw kucing dng garis hitam dari punggung hingga ekor    

baya ngangsar n Jw kucing dng garis dari dada hingga ekor        

lintang kumukus n Jw kucing dng bulu bertutul dengan ekor putih             

kembang asem n Jw kucing dng bulu berwarna cokelat tua seperti bunga asam


[1] Ottoni, C., Van Neer, W., De Cupere, B., Daligault, J., Guimaraes, S., Peters, J., Spassov, N., Prendergast, M.E., Boivin, N., Morales-Muñiz, A. and Bălăşescu, A., 2017. The palaeogenetics of cat dispersal in the ancient world. Nature Ecology & Evolution, 1(7), p.0139.

[2] Malek, J. 1997. The Cat in Ancient Egypt (Revised ed.). Pennsylvania: University of Pennsylvania Press. ISBN 9780812216325.

[3] Glassé, Cyril 2003. The New Encyclopedia of Islam. Rowman Altamira. p.102. ISBN 0759101906.

[4] HR. At-Tirmidzi

[5] Kurzman, Charles 1998. Liberal Islam: A Source Book. Oxford University Press. p. 121. ISBN 0195116224.

[6] Adriani, Nicolaus, and Albertus Christiaan Kruijt. 1951. “Bare’E-Speaking Toradja Of Central Celebes (The East Toradja): Second Volume.” Verhandelingen. Amsterdam: Noord-Hollandsche Uitgevers Maatschappij.

[7] Massé, Henri, and Charles A. Messner. 1954. “Persian Beliefs And Customs.” Behavior Science Translations. New Haven [Conn.]: Human Relations Area

Lamunan


Sumribid angin ratri tansah hangenteni
Setya nrajang telenging ati
Angen angen tumlawung suwung ing wengi sepi
Tansah angranti tekamu duh yayi

Pindha samudra pasang kang tanpa wangenan
Tresnaku mring sliramu sayang
Cahyaning mbulan kang sumunar abyor ing tawang
Yekti sliramu kang dadi lamunan[1]

(Berembus angin malam selalu menanti
Setia menyusupi hati
Angan-anganku mengembara di malam yang sepi
Slalu menanti hadirmu si jantung hati

Bagai ombak samudera yang tiada tertahan
Cintaku kepadamu sayang
Cahaya rembulan benderang di awang-awang
Niscaya dirimu yang jadi lamunan)

Lamunan mengacu pada representasi imajiner yang diciptakan seseorang untuk membantu mewujudkan keinginan. Untuk mengacu kepada hal serupa, Freud menggunakan istilah phantasie untuk merujuk aktivitas mental melamun tersebut, baik dilakukan secara sadar maupun tidak. Dalam bahasa Prancis, phantasie berkonotasi dengan ide yang berubah-ubah atau acak. Namun, menurut Daniel Lagache (1993), phantasie merujuk pada kreasi khayali yang disadari maupun tidak. Perbedaan kedua pendapat tersebut terletak pada dua aktivitas berbeda, yakni aktivitas mental dan kreasi khayali.

Lamunan, dialami hampir oleh semua orang, seringkali dimanfaatkan untuk memuaskan hasrat, memberikan suatu bentuk kepuasan khayali, boleh jadi kepuasan erotis, agresif, ambisius, membanggakan diri, atau menghibur diri, bahkan tak jarang orang memvisualisasikan juga pengalaman yang menyakitkan[2]. Begitulah manusia, manusia pandai mengubah kenyataan. Salah satu bakat istimewa manusia ketika mereka dihadapkan pada situasi yang tidak diharapkan, tidak menggembirakan, mereka dapat menggunakan kemampuan mental yang luar biasa tersebut untuk menciptakan situasi (khayali) baru sehingga ketidaknyamanan tersebut mereka percayai dapat hilang. Sigmund Freud menggambarkan hal tersebut sebagai mekanisme pertahanan sebagaimana dia telah menyelidiki bagaimana manusia menyangkal, mendistorsi, atau menghindari realitas yang tidak menyenangkan.

Sebagai satu bentuk mekanisme pertahanan sekaligus piranti psikologis yang penting, lamunan dimanfaatkan untuk menghadirkan realitas khayali. Freud (1900) dalam The Interpretation of Dreams menceritakan sebuah lamunan di mana dia membayangkan perjalanan ke Berlin untuk sebuah operasi rahasia dan mengalami kenikmatan yang luar biasa saat mendengarkan keterangan dokter bedah memuji kualitas anestesi kokain sementara ia menderita glaucoma yang tidak memungkinkannya bepergian ke Berlin. “Lamunan dan hayalan adalah cikal bakal histeria[3]”, demikian ujarnya.

Menurut Freud, lamunan pada awalnya merupakan ekspresi dari fantasi bawah sadar yang lantas dimanfaatkan sebagai material laten untuk menciptakan mimpi. Mimpi, masih menurut Freud lebih mendekati halusinasi, sedang lamunan tidak lebih dari sekadar pelarian dari kenyataan atau realitas yang tertangguhkan. Dalam esai Creative Writers and Daydreaming, Freud membahas peran lamunan dalam penciptaan karya sastra[4]. Plato memandang para penyair gila, dalam artian bahwa realitas yang mereka ciptakan merupakan semacam penolakan terhadap realitas. Namun demikian, Freud berupaya membedakan karya kreatif dengan bentuk lamunan lainnya. Freud menggambarkan karya seniman sebagai suatu bentuk khusus yang berpaling dari kenyataan, yang “menciptakan dunia khayalan yang menyertakan emosi sembari tertap memisahkannya dari kenyataan.”

Di sisi lain, ada beberapa kesempatan yang mana penikmat karya harus menghubungkan karya sastra dengan realitas. Meski sebagian besar pembaca, sama dengan seniman atau penulis, menyadari karya hanya berdiri berdekatan dengan realita, segelintir kecil pembaca atau penikmat karya seni terhanyut sebagaimana ibu-ibu zaman dahulu membenci Dinda Kanyadewi dalam sinetron Cinta Fitri, Cut Meyriska dalam Catatan Hati Seorang Istri, dan Anya Geraldine yang memerankan karakter Lydia Danira dalam serial Layangan Putus5 pun kebencian banyak orang (tempo dahulu) terhadap tokoh Datuk Maringgih dalam novel Siti Nurbaya.

Realitas buatan memungkinkan terjadi sebagai akibat dari lamunan. Tentu saja, lamunan dapat bertingkat, yakni dari tingkat pertama pelamun kemudian beranjak pada tingkat kedua pencipta karya (jika pencipta karya mengambil ide sang pelamun), dan berlanjut ke tingkat tiga penikmat karya. Jika semuanya berjalan dengan baik, kesempatan untuk melamun tersebut akan memungkinkan penikmat karya untuk masuk ke dalam relaitas buatan dan sebagian akan mengalami kesulitan untuk kembali ke realitas yang sebenarnya. Begitulah dasyatnya sebuah lamunan, sementara seniman tidak memiliki kapasitas untuk sebenar-benarnya mengubah realitas, tetapi mereka dapat membantu mengembangkan imajinasi dan jangkauan emosional yang memperkaya dunia batin. Pada akhirnya, lamunan-lamunan tersebut memungkinkan manusia untuk merespons secara kreatif atas tuntutan realitas eksternal.

Disclaimer: Ulah ngalamun bae, bisi kasurupan!

lamun1 » la.mun.an       

⇢ Tesaurus

Usulkan Makna Baru

2. n realitas buatan yg dihasilkan dr menghayal


[1] Lamunan Karya Wahyu F. Giri

[2] Anargyros-Klinger, Annie, Reiss-Schimmel, Ilana, dan Wainrib, Steve. 1998. Création, psychanalyse. Paris: Presses Universitaires de France

[3] Freud, Sigmund. 1900. The Interpretation of Dreams The Standard Edition of the Complete Psychological Works of Sigmund Freud, Vol. V, trans. and ed. James Strachey (London: Hogarth Press, 1959), 506 n. 2. I’ve written much more extensively about the significance of dream-life in Dreaming In Dark Times: Six Exercises in Political Thought (Minneapolis: University of Minnesota Press, 2017).

[4] Freud, Sigmund. 1908. “Creative Writers and Day-Dreaming” SE, 9:144

[5] https://www.brilio.net/selebritis/cerita-9-seleb-dibenci-karena-peran-antagonis-anya-geraldine-menyamar-220107g.html

[6] Lagache, D. (1993). The Work of Daniel Lagache: Selected Papers 1938-1964 (1st ed.). Routledge. https://doi.org/10.4324/9780429483813

(Ma) ido

Dalam psikologi perilaku manusia, denialisme merupakan sikap seseorang untuk menyangkal kenyataan sebagai cara untuk tidak memercayai informasi yang berpotensi dapat membuatnya tidak nyaman secara psikologis[1]. Pada dasarnya, denialisme bersifat irrasional yang cenderung mencegah seseorang untuk melakukan validasi informasi atau peristiwa yang sebenarnya dapat diverifikasi secara empiris[2]. Penyangkalan telah menjadi bagian dari perilaku manusia selama ribuan tahun, meski contoh terbesar dari penyangkalan ini dapat kita amati saat wabah COVID-19 melanda. Sementara banyak orang ketakutan, sebagian menyangkal virus pembawa wabah tersebut ada dan banyak dari mereka tidak mematuhi anjuran perlindungan diri dan berakhir di dalam kantung mayat. Maido kata orang Jawa.

Dalam ilmu pengetahuan, denialisme adalah penolakan terhadap fakta-fakta dan konsep-konsep dasar yang tidak terbantahkan, sekaligus merupakan bagian dari konsensus ilmiah[3] demi mempertahankan ide-ide radikal, kontroversial, atau bahkan boleh jadi mengada-ada. Motivasi dan penyebab perilaku manusia ini berkaitan erat dengan agama, kepentingan pribadi (ekonomi, politik), dan mekanisme pertahanan yang dimaksudkan untuk melindungi jiwa. Antropolog Didier Fassin membedakan antara maido, yang didefinisikan sebagai ‘penyangkalan amatan empiris terhadap realitas dan kebenaran’, dan maido yang ia definisikan sebagai “posisi ideologis yang memungkinkan seseorang bereaksi secara sistematis dengan menolak realitas dan kebenaran”[4]. Orang dan kelompok sosial yang maido seringkali menggunakan taktik retorika untuk memberikan argumen dan perdebatan meski sebenarnya kosong belaka.

Pada tahun 2009, penulis Michael Specter mendefinisikan penyangkalan dilakukan ‘ketika seluruh segmen masyarakat, yang sering kali berjuang dengan trauma perubahan, berpaling dari kenyataan demi kebohongan yang lebih nyaman’[5]. Pendapat ini masuk akal, terlebih ketika kita mencermati jalannya sidang PK Saka Tatal atas kasus pembunuhan dan pemerkosaan atau kecelakaan tunggal Egi dan Vina Cirebon. Terdapat dua kubu, yakni PH dan JPU yang saling saling maido, menyangkal informasi yang diberikan oleh pihak lain menjadi titik tekan perilaku manusia sebagai sebuah bentuk pertahanan mental.

Maido, ma- kesekian yang masuk kedalam mapitu (tujuh ma-) dalam kebudayaan Jawa sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan denialisme. Perilaku budaya tersebut juga berkaitan dengan skeptisisme, yang dalam filsafat Barat mengacu pada sikap meragukan klaim pengetahuan, menantang rasionalitas dan asumsi-asumsi yang disuguhkan oleh pihak lain. Dalam kebudayaan Yunani,  skeptis bermakna ‘sang penanya, seseorang yang tidak puas dan masih mencari kebenaran’. Maido dalam konteks ini akan terlihat ketika seorang Jawa maido atas keterangan pemimpin perihal kesiapan IKN menggelar upacara kemerdekaan. Sang penanya tidak serta merta percaya, ia akan mencari informasi dari sumber lain untuk menguji informasi yang ia dengar atau baca. Maido gagrak kedua inilah yang akan mendorong pengembangan ilmu pengetahuan.

Awalan ma- (meng-) digabungkan dengan kata dasar idu (ludah) tidak sekadar bermakna meludah, lebih jauh, kata berimbuhan ini bermakna menyangkal. Terdapat unit makna merendahkan di dalam kata ini sebagaimana meludah di hadapan seseorang dimaknai merendahkan harga diri dalam berbagai budaya. Maido sampai kapan pun akan menjadi bagian dari perilaku budaya manusia, terlepas dari unit makna merendahkan validitas informasi, perilaku ini dapat mendorong penggalian informasi dari saluran yang berbeda.

Moyan

Kau tahu langit sedang tak giat tersenyum seperti bulan Juni. Hanya terkadang

awan tetiba tersibak dan binar itu membanjur tubuh bukit, sirap, dan jukut.

Daun-daun muda di halaman depan nanap melihat, bayang-bayang mereka

geliang-geliut hendak bersembunyi kerna malu.

Melihat tubuhku, telanjang terpangku didingklik pendiam yang begitu merindu

hentak tubuhku sejak musim lalu. Kau tahu, begitu lama ia membatu di pusar

pakarangan dalam dirus silantang, suri, renyai , dan lebat hujan. Kau juga tahu,

ia adalah kekasih pagiku yang menggelebah, bilakah pendar timur itu akan

bertandang.

Katamu pendar itu pemicu bahang di dalam tubuhku yang siap melumat taun yang

mungkin terlebih dahulu singgah di halamanku, tanganku, tubuhku, atau bumiku.

Aku tak pernah tahu perguaman itu. Walau aku sedikit meragu, adakah engkau

sungguh tahu tentang hawar itu.

220220-kdp

Usulkan Makna Baru

ma.i.do

⇢ Tesaurus

  • v Jw mencela karena tidak percaya (perbuatan atau hasil pekerjaan orang lain): bukan watak kita untuk terus cengeng dan terus — saja

2. v menyangkal kebenaran informasi yg diberikan oleh orang lain

Sumber: maido (maido) : n. maibên k. ora ngandêl; kc. paido. Sumber: Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939, #75.

maido (maido) : Ng., maibên Kr.; to disbelieve. Sumber: Giri Sonta Course for Javanese (Lexicon), Bakker, 1964, #286.


[1] Maslin, Janet (November 4, 2009). “Michael Specter Fires Bullets of Data at Cozy Antiscience in ‘Denialism'”New York Times.

[2] O’Shea, Paul (2008). A Cross Too Heavy: Eugenio Pacelli, Politics and the Jews of Europe 1917-1943. Rosenberg Publishing. p. 20ISBN 978-1-877058-71-4.

[3] Scudellari, M. (March 2010). “State of denial”. Nat. Med. 16 (3): 248. doi:10.1038/nm0310-248aPMID 20208495S2CID 26207026.

[4] Fassin, Didier (2007). When Bodies Remember: Experiences and Politics of AIDS in South Africa. University of California Press. p. 115. ISBN 978-0520940451.

[5]  Specter, Michael (2009). Denialism: How Irrational Thinking Harms the Planet and Threatens Our Lives. Penguin. ISBN 978-1594202308978-1594202308

Ubermensch

Selama ribuan tahun, manusia telah memiliki gagasan tentang kekuatan super atau manusia super. Namun, apakah yang sebenarnya mendorong manusia untuk tidak sekadar menggagas tetapi ingin memiliki kekuatan super tersebut?  Jackson dkk (2023) mengungkap keterlibatan imajinasi dan keyakinan magis (takhayul dan religiusitas) yang mendorong keinginan manusia untuk memiliki kekuatan supernatural[1]. Gagasan yang berkembang menjadi kepercayaan akan adanya kekuatan super tersebut berkorelasi dengan keinginan manusia untuk memiliki kekuatan supernatural serta keyakinan mereka bahwa manusia dapat memiliki kekuatan tersebut di masa depan. Narasi fiksi dan takhayul juga memiliki peranan penting terhadap keinginan manusia tersebut. Meski demikian,  manusia lintas budaya memiliki keinginan dan persepsi tentang kekuatan supernatural yang bervariasi.

Kekuatan supernatural dapat dimaknai sebagai kemampuan yang melanggar hukum alam atau kemampuan yang dapat melampaui realitas[2]. Sebagian besar budaya menggabungkan sebuah entitas dengan kekuatan supernatural, seperti dewa yang dapat melecutkan petir atau putra raja yang dapat terbang. Baik dalam sastra lisan atau seni visual, fantasi terbang sangat umum dijumpai dalam berbagai budaya. Namun, kemampuan supernatural terbang bukan satu-satunya kemampuan super yang digagas oleh manusia, manusia juga menggagas kemampuan membaca pikiran, teleportasi, atau psikokinesis. Kepercayaan supranatural seperti itu tidak serta merta terkait dengan sistem budaya tetapi dapat berkembang mandiri tanpa pengaruh budaya.

Aku ajarkan kepadamu Adimanusia. Adimanusia adalah arti dari bumi ini. Biarkan kehendakmu berkata: Adimanusia akan menjadi makna dari bumi![3]

Meski sebenarnya mustahil bagi manusia dapat terbang atau menyatukan kembali bagian-bagian tubuhnya yang telah terpotong-potong, setidaknya berdasarkan pemahaman manusia berdasar sains Barat, mengapa manusia terus menciptakan fantasi untuk memiliki kekuatan seperti itu? Webster dkk memperkenalkan psikologi fantasi dan perannya dalam pemikiran dan perilaku manusia. Fantasi merupakan keterlibatan imajinatif tertentu yang melampaui kemampuan alamiah manusia yang dapat meredam kecemasan atas keterbatasan diri sebagai sebuah menejemen teror[4].

jaran goyang

Saèmpêré kêmamang wus nguntal

lintang uga mbulan. Einbrugh der Dunkelheit

sliramu ambyur lêlangèn ing pusêring pêdhut

klêmbak. wêwayanging wanodya tansah ndhéprok

ngungun, ing sisih kiwa pangangênmu.

Ing pundhèn sadhuwuring kali

Ich glaube, im Friedhof

das vorȕberfuhr,

donyamu kadhung kukut

cêblok sadalan-dalan

panguripan

031117-kdp

Kekuatan supranatural merupakan kekuatan “menentang hukum alam dan melampaui kemampuan fisik alamiah manusia” sebagaimana manusia meyakini tentang kesaktian. Kemampuan ini mencakupi perjalanan memintasi waktu,  teleportasi, kemampuan menyembuhkan, terbang, keabadian,  telekinesis, transfigurasi atau malih rupa, mengontrol pikiran, menelusuri keberadaan benda, dan berkomunikasi dengan orang mati kerap ditemukan di dalam berbagai budaya, tak terkecuali budaya Jawa.

Fantasi transfigurasi dimiliki oleh tokoh wayang Prabu Kresna, putra kedua Prabu Basudewa, raja dari Mandura. Ia dipercaya sebagai titisan Batara Wisnu yang memiliki kemampuan menjelma menjadi raksasa ketika amarahnya sudah tak dapat dibendung. Raden Gatot Kaca, putra dari Bima dan dewi Arimbi, memiliki kemampuan terbang dengan menggunakan badongnya. Antasena, putra bungsu Werkudara atau Bima, mampu terbang, masuk ke perut bumi, dan memiliki kulit yang dilindungi oleh sisik udang, sehingga membuatnya kebal dari berbagai senjata. Kemampuan super yang dimiliki tokoh-tokoh wayang diatas tidak terdapat di dalam babon cerita Mahabarata, artinya fantasi Jawa berperan dalam penyematan kemampuan super tersebut.

Meski sama-sama menggunakan diksi super, Nietzsche memperkenalkan konsep Ubermensch (adimanusia/manusia super) yang memandang manusia mampu menjadi pribadi yang melampaui dirinya sendiri dan mampu mengalahkan rasa takutnya terhadap tantangan serta tabah di tengah kesukaran. Ubermensch dipandang dapat menjadi fondasi bagi upaya aktualisasi diri manusia sesuai jalan hidup dan pemaknaannya masing-masing untuk mencari cara pandang yang terbaik[5].

Usulkan Entri Baru

jaran goyang  n            Jw         ajian untuk menarik lawan jenis

semar mesem              n            Jw         ajian untuk menarik lawan jenis

https://www.liputan6.com/regional/read/5019010/ajian-semar-mesem-yang-populer-sebagai-ilmu-pelet-dari-jawa

pameling          n            Jw         ajian untuk memanggil seseorang melalui telepati

https://mediaindonesia.com/weekend/357195/aji-pameling

ajian sirep       n            Jw         ajian untuk menidurkan seseorang atau semua kalangan

https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4829394/ini-mantra-ilmu-sirep-yang-dirapalkan-pria-di-ngawi-saat-mencuri

welut putih     n            Jw         ajian agar tidak bisa ditangkap

https://www.detik.com/jatim/berita/d-6588149/ritual-copot-cd-ajian-welut-putih-bikin-maling-surabaya-hilang-saat-dikejar

pancasona       n            Jw         ajian agar tidak bisa mati

https://jabar.nu.or.id/hikmah/ajian-pancasona-dan-kisah-dihidupkannya-kembali-burung-untuk-memperteguh-keimanan-nabi-ibrahim-as-uBdPp#:~:text=Ajian%20Pancasona%20atau%20lazim%20disebut,menyentuh%20bagian%20tanah%20(bumi).

puter giling     n            Jw         ajian agar membingungkan atau memanggil orang hidup yang tidak pulang

https://www.liputan6.com/islami/read/5572619/ketika-gus-baha-datangi-orang-sakti-ahli-ilmu-puter-giling-hasilnya-mengejutkan

lembu sekilan              n            Jw         ajian agar tidak terkena serangan

https://daerah.sindonews.com/read/1260275/29/ajian-lembu-sekilan-jurus-sakti-bung-karno-warisan-patih-gajah-mada-1700871103

maundri           n            Jw         ajian cerita fiksi milik tokoh wayang anoman kera putih

https://www.hops.id/unik/29411006066/diluar-nalar-inilah-3-ilmu-kesaktian-gajah-mada-dari-kerajaan-majapahit-yang-mampu-menaklukkan-musuh-musuhnya?page=2

aji sirep megananda  n            Jw         ajian cerita fiksi milik tokoh wayang indrajit

https://www.reqnews.com/read/the-other-side/22029/sederet-fakta-ilmu-sirep-ajian-khas-maling-kampung-di-indonesia

narantaka        n            Jw         ajian cerita fiksi milik tokoh wayang dari Guru Setha ke Gathotkaca , untuk menghantam ataupun penghancur sebuah benda

panglimunan n            Jw         ajian dalam tokoh wayang kresna atau brahmana untuk menghilang

https://jakarta.akurat.co/tag/ajian-panglimunan

asmaragama n           Jw         ajian untuk menaklukan lawan jenis dari laki-laki untuk perempuan, dalam sebuah tokoh pewayangan

https://www.neliti.com/publications/172929/makna-simbolisme-dalam-mantra-asmaragama-sang-arjuna


[1] Jackson, Joshua Conrad et all. 2023. Supernatural explanations across 114 societies are more common for natural than social phenomena in Nature Human Behaviour volume 7, p 707–717 (2023)

[2] Cohen, E. 2007. The Mind Possessed: The Cognition of Spirit Possession in an Afro-Brazilian Religious Tradition. Oxford University Press

3 Nietzsche, F. (2006). Thus spoke Zarathustra. Trans. Adrian Del Caro and Robert Pippin. New York: Cambridge University Press

 

[4] Cohen, E. & Barrett, J. L. Conceptualizing spirit possession: ethnographic and experimental evidence. Ethos 36, 246–267 (2008).

5 Nietzsche, F. (2006). Thus spoke Zarathustra. Trans. Adrian Del Caro and Robert Pippin. New York: Cambridge University Press

6 Ibid Cohen, E. & Barrett, J. L. 2008

 

(Ma) inum

Harveys Brewery
–terkenang Adeline Virginia Woolf

Lihatlah kita di lindung langit indah
dan sejuk tanah mengelilingi
Seperti Lewes yang menelusup di celah South Downs,
mengayun langkah hingga tepian Ouse,
Batang cerlang, di keningnya wajah kita terhampar
disapu angin menuju timur,
hingga menghantam tebing kapur
tinggi menjulang.

Kau tahu, musim terus berganti,
dan benih itu tumbuh
sangat dalam di galih kita
membawa kita ke muasal yang tak kita ketahui
Menyerupai bebutir anggur, meranum di Nassau Valley Vineyards
yang perlahan matang dari kedalaman inti
menjalar ke luar hingga kulit ari.

Terkadang kita seperti meneguk secawan air Harveys Brewery
kita tempuh jarak yang sangat jauh di dalam diri kita,
menuju kedekatan dua hati
Mungkin memang benar tukasmu di hari lalu,
kerinduan selalu mendekap rahasianya sendiri
terkadang acuh kepada kehendak kita

Hingga cukuplah seteguk lagi
dan kita tak sadarkan diri.

230818-kdp

Seorang wanita bertelanjang dada tengah menuangkan minuman dari sebuah wadah, menyerupai porong[1], yang ia pegang dengan kedua tangan ke arah wadah, menyerupai cangkir, yang dipegang oleh seorang pria yang duduk di balai-balai. Sang pria memegang cangkir dan terlihat menunggu tumpahan air dari porong si wanita. Di belakang pria duduk seorang wanita yang turut memerhatikan adegan itu. Duduk di tanah, dua orang tengah menikmati minuman mereka. Di sisi kanan, seorang pria bersimpuh di samping seorang wanita yang terlihat sedang menari, tangan kanan sang pria memegang lutut si wanita dan tangan kirinya seolah tengah menggapai-gapai “sesuatu”.

Gambaran di atas adalah gambaran visual atas salah satu relief yang terdapat pada candi Borobudur yang kemudian ditafsirkan oleh beberapa ahli sebagai adegan minum-minuman keras. Tafsir mengenai persentuhan orang Jawa Kuno dan minuman beralkohol tersebut tentu didasari oleh beberapa temuan pendahulu. Beberapa prasasti kerajaan Medang menyebutkan orang-orang Jawa Kuno mengenal minuman beralkohol seperti sura, waragang, sajeng, arak atau awis, tuak, minu, jatirasa, madya, masawa atau mastawa, tampo. siddhu, pana, sajeng, cinca, duh ni nyu, juruh, brem, budur, badyag atau badeg, dan kinca[2].  Titi Surti Nastiti, putri sastrawan nasional Ajip Rosidi sekaligus arkeolog di Pusat Arkeologi Nasional, menyebutkan minuman beralkohol dan tak beralkohol disajikan dalam prasasti penetapan sima, tanah perdikan atau tanah bebas pajak pada penutup acara, pada acara makan bersama yg menjadi acara pamungkas. Prasasti Watukura (902 M) menyebutkan mastawa, pana, siddhu, cinca, dan tuak. Prasasti Rukam (907 M) Prasasti Lintakan (919 M) dan Prasasti Paradah (943 M) menyebut tuak, cinca, dan siddhu. Prasasti Sanguran (928 M) menyebutkan siddhu dan cinca. Terakhir, prasasti Alasantan (939 M) menyebutkan tuak dan siddhu.[3]

Selain catatan yang diperoleh dari prasasti, Kakawin Ramayana juga menyebutkan konsumsi tuak, siddhu, brem, mastawa, dan pana dalam acara kerajaan Jawa. Kakawin Sutasuma menyebutkan tuak biasa dihidangkan untuk menyambut tamu agung pada masa Majapahit. Selain itu, Serat Pararaton (1478-1486) menyebutkan raja Kertanegara selalu gemar minum sajen atau tuak. Bahkan, sang Raja tengah mabuk-mabukan ketika pasukan Jayakatwang menyerang istana. Ketika diberitahu ada serangan musuh, sang Raja yang masih melayang” tidak percaya dan akhirnya sang raja terbunuh[4]. Namun demikian, catatan tertua mengenai persentuhan masyarakat Jawa dengan minuman memabukkan terdapat pada catatan sejarah lama Dinasti Tang (618-907) yang memuat berita pembuatan minuman memabukkan di kerajaan Ho-Ling yang berada di timur Sumatera dan barat Bali. Beberapa ahli arkeologi seperti Ery Sadeo, meyakini minuman olahan tersebut adalah tuak kelapa yang diolah dari nira kelapa[5]

Persentuhan masyarakat Jawa Kuno dengan minuman beralkohol ini berlanjut hingga zaman modern. Minuman congyang, tiga dewa, menjadi kegemaran anak-anak muda Semarang dan sekitarnya, minuman ciu Bekonang melegenda di kalangan anak-anak muda di Solo Raya, brangkal dapat ditemui di wilayah pantai utara Jawa seperti Tegal dan Brebes. Ciu Banyumas yang diproduksi di Wangon menjadi pilihan nak muda di Banyumas Raya karena fermentasi gula merah, tape singkong serta air, berbeda dengan ciu Bekonang. Ciu gedhang klutuk populer di Klaten

Terlepas dari data konsumsi miras di Jawa Tengah yang tercatat dalam Riskesdas 2018, bir 38%, anggur/arak 38,8%, Wiski 4,5%, miras tradisional keruh 4,1%, miras tradisional bening 4,3%, miras oplosan 6,6%, dan lainnya 3,7%[6], persentuhan manusia dan minuman memabukkan ini sebenarnya telah menjadi buah bibir sejak zaman dahulu. Ternyata bukan sekadar bangsa terkoloni Asia Afrika yang meniru budaya bangsa pengoloni Eropa yang terbiasa dengan musim dingin sehingga membutuhkan minuman “penghangat”. Bukan pula sekadar persuaan antarbangsa yang menjadikan budaya konsumsi minuman keras ditiru oleh bangsa lain, seperti pertemuan antara bangsa Mongol dan bangsa Ho-Ling. Seorang filsuf dan penulis Prancis dari abad ke-16, Michel de Montaigne dalam esainya yang berjudul “Of Drunkenness“, menulis tentang efek alkohol pada pikiran dan tubuh manusia yang dapat yang dapat dilihat dari cara pandang filosofis. Ia berpendapat bahwa mabuk dapat membantu seseorang melihat dunia dengan sudut pandang yang berbeda yang memungkinkan eksplorasi yang lebih bebas dan lebih jujur terhadap pikiran dan perasaan seseorang. Tentu saja, pendapat yang disampaikan oleh filsuf yang gemar mabuk atau “filsuf alkohol” ini telah dan dapat diadopsi oleh seseorang atau beberapa orang dalam berpikir, dan juga menulis. Dengan menikmati segelas anggur atau ciu Bekonang, seseorang percaya dapat melucuti batasan pikiran dan memungkinkan pemikiran yang lebih kreatif, kilah mereka.

Michel de Montaigne tidak sendiri, filsuf penyuka alkohol lain, Karl Marx dan Georg Wilhelm Friedrich Hegel, Charles Baudelaire, Walter Benjamin dan Aldous Huxley kerap mengintegrasikan pengalaman mereka dengan minuman keras ke dalam filosofi mereka. Hampir semua dari mereka, termasuk Plato, memandang mabuk tak lebih dari sekadar upaya untuk memperluas batas-batas pikiran yang sadar. Sedang pemikir modern, Friedrich Nietzsche, menambahkan gagasan hubungan manusia dengan potensi kegembiraannya. Nietzsche mengaitkan kemabukan dengan dewa anggur Yunani, kemabukan dengan kegilaan, kegembiraan, keliaran, dan tanpa batasan. Nietzsche menekankan hasrat kuat untuk hidup tanpa kekangan norma-norma sosial yang dikenal sebagai semangat Dionysia[7], semangat  kemabukan sebagai sumber inspirasi dan pencerahan.

Charles Baudelaire berpendapat bahwa mabuk-mabukan adalah cara untuk membawa kesenangan ke dalam hidup dan membawa kegembiraan, keindahan, dan kegembiraan yang dapat menghasilkan cara berpikir, ide-ide, dan kreativitas baru. Dia juga berpendapat bahwa mabuk bisa menjadi cara untuk menjelajahi kedalaman ketidaksadaran dan dapat membantu orang untuk mencapai tingkat spiritualitas yang lebih tinggi. Terakhir ini, menyerupai kisah raja Kertanegara di Jawa.

Pandangan Walter Benjamin tentang kemabukan mirip dengan gagasan Charles Baudelaire meski ia menambahkan gagasan kehati-hatian karena kemabukan dapat memicu satu bentuk pelarian sekaligus perilaku merusak diri. Aldous Huxley berpendapat bahwa kemabukan dapat meningkatkan kreativitas, wawasan, dan kesadaran diri manusia hingga mencapai pemahaman yang lebih besar tentang aspek spiritual kehidupan. Apapun itu, gagasan tentang kebahagiaan dan pelucutan belenggu “gaib dan nyata”, termasuk di dalamnya belenggu norma sosial, mungkin menjadi alasan utama produksi, distribusi, dan konsumsi “ciu-ciuan” di Jawa. Satu hal yang pasti, menurut Slamet Muljana, minuman keras masuk ke dalam “Puncak Kemegahan” menjadi Jina yang dilakukan oleh raja Kertanegara yang diyakini telah menguasai kekuatan gaib sekaligus kerajaan nyata sehingga ia berada pada sebuah tingkatan hidup tak lagi memiliki larangan dan dapat melakukan pancamakara, ma lima, yakni madat, madon, main, minum, dan maling. Para peserta kemabukan boleh jadi telah memiliki jalan pikir seperti sang raja. Wallahu a’lam!

Disclaimer: Jauhilah arak, sebab ia merupakan induk segala hal yang kotor

Usulkan Entri Baru

brangkal n Jw merupakan minuman hasil fermentasi dari bahan tetes tebu

ciu Bekonang n Jw minuman keras hasil penyulingan tetes tebu yang telah difermentasi, memiliki kandungan alkohol 35–90 persen

ciu Banyumas n Jw minuman keras hasil fermentasi gula merah, tape singkong serta air, memiliki kadar alkohol berkisar antara 20–50 persen

ciu gedang klutuk n Jw minuman beralkohol hasil fermentasi pisang klutuk

congyang n Jw minuman keras hasil fermentasi beras dan gula pasir, sepirit, perisa kopi moka, pewarna makanan, yang dilengkapi dengan beberapa kandungan lain dan tergolong dalam alkohol tipe b

miras oplosan n minuman keras hasil campuran beberapa jenis minuman

miras bening n minuman suling

miras keruh n minuman tak suling

porong n Jw wadah minuman; teko

sumber: porong (pOrOG) : I …. II kn: bngs. teko, nyo, kan (dianggo gawe wedang tèh). III kn: klèmbrèhing sampur kang diubêdake ing bangkekan. Sumber: Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939, #75.


[1] wadah air minum seperti teh, kopi, dsb

[2] Titi Surti Nastiti. 1989. “Minuman Pada Masa Jawa Kuno,” Proceedings Pertemuan Ilmiah Arkeologi V, Yogyakarta, 4-7 Juli 1989

[3] Ibid, p 86

[4] Irawati, Dahlia. 2021. “Kisah Panjang Minuman Lokal Nusantara”. dalam kompas.id 3 April 2021

[5] Putri, Risa Herdahita. 2019. “Mabuk Saat Berpesta dan Berdoa”. dalam Historia 24 September 2019

[6] https://dinkesjatengprov.go.id/v2018/storage/2019/12/CETAK-LAPORAN-RISKESDAS-JATENG-2018-ACC-PIMRED.pdf

[7] Istilah ini diadopsi dari surat Nietzsche kepada Dionysus atau “yang Tersalib”

(Ma) dat

Dalam perguaman antarorang Jawa, kita sering mendengar apa yang harus dijauhi oleh kita semua, yakni ma lima yang meliputi madat (mengonsumsi narkoba), madon (bermain perempuan), minum (mabok-mabokan), main (berjudi) dan maling (mencuri). Madat[1] atau mengonsumsi candu ternyata pernah menjadi satu bagian kecil dari kehidupan sosial masyarakat Jawa. Konon, candu yang berasal dari tumbuhan papaver di daerah-daerah Asia Barat ini disebarkan ke seluruh dunia, termasuk ke Jawa, orang-orang dari Asia Barat, terutama bangsa Arab[2]. Daerah tujuan penyebaran candu adalah India, kemudian berkembang ke Cina dengan melalui Birma dan Yunan. Pada saat Portugis berhasil menguasai beberapa bandar perdagangan di Asia, perdagangan candu ikut pula dikuasai oleh para pedagang bangsa Portugis. Perdagangan semakin meluas ketika orang-orang Inggris dan Belanda ikut terlibat dalam perdagangan barang ini[3]. Namun demikian, pedagang-pedagang Arab tetap menjadi pemasok candu di Pulau Jawa.

Ketika orang-orang Belanda pertama kali mendarat di pulau Jawa pada akhir abad ke-17, candu sudah menjadi komoditi penting dalam perdagangan regional[4]. Kompeni Hindia Timur Belanda (VOC) berhasil membuat sebuah perjanjian dengan Raja Amangkurat II di Jawa yang menjamin diberikannya monopoli kepada VOC untuk mengimpor candu ke dalam wilayah kerajaan Mataram dan memonopoli untuk mengedarkannya ke dalam negeri. Sejak perjanjian ini hingga tahun 1799, VOC membawa rata-rata 56.000 kilogram candu (opium) ke Jawa setiap tahunnya[5].

Pada akhir abad ke-19, peredaran candu semakin meluas di pulau Jawa.  Peter Carey menulis bahwa, pada tahun 1820 ada lebih dari 372 tempat-tempat terpisah di Yogyakarta dan Surakarta yang menerima lisensi untuk menjual candu, yaitu hampir setiap pos bea cukai utama, subpos cukai dan pasar-pasar di Kasultanan dan Kasunanan[6]. Seiring dengan kekuasaan pemerintah Belanda yang semakin besar dan permintaan candu di Jawa yang semakin meningkat, maka pemerintah Belanda memberikan izin pula pada pembukaaan bandar-bandar candu di kota-kota besar di pulau Jawa yang sebagian besar dipegang oleh warga keturunan. Daerah yang mempunyai bandarbandar besar opium dan ditempati oleh bandar–bandar Tionghoa yang terkuat di Jawa adalah Kediri, Semarang, Jakarta, Surakarta, dan Yogyakarta. Sistem bandar ini tidak berlangsung lama, dominasi bandar Tionghoa ditentang oleh  Elout van Soetoerwoede,  organisasi Anti Opium Bond pada tahun 1888 yang beranggotakan 510 anggota yang terdiri dari 440 orang di Belanda dan 70 orang di Hindia-Belanda [7] dan mengakibatkan sistem bandar tersebut diganti dengan sistem regi opium pada tahun 1894. Penggantian sistem ini didasarkan pula pada upaya untuk menekan penyelundupan-penyelundupan opium yang tidak dapat dikontrol selama pelaksanaan sistem bandar[8]. Pelaksanaan sistem regi opium memungkinkan pengelolaan opium yang lebih besar oleh pemerintah Hindia Belanda yang mem­punyai kekuasaan untuk memproduksi dan mendistribusikan opium kepada kedai-kedai grosiran dan kemudian memberikan lisensi kepada agen-agen lokal untuk melayani perdagangan eceran. Sistem inilah yang menjadi awal mula terjeratnya orang-orang Jawa miskin dalam lingkaran madat dan permadatan Jawa.

Tak berhenti di situ, Pemerintah Republik Indonesia di awal masa kemerdekaan melalui Menteri Keuangan yang saat itu Mr. A.A. Maramis meminta kepolisian membantu memperdagang­kan candu yang akan dipergunakan untuk membiayai delegasi Indonesia keluar negeri, membiayai delegasi Indonesia di Jakarta, dan memberi gaji kepada pegawai-pegawai negeri[9]. Begitulah lingkaran candu, pedagang Arab, VOC, kerajaan Jawa, bandar Tionghoa, agen kolonial, agen lokal, pemerintah republik, dan pihak-pihak lain memanfaatkan komoditas berminyak ini.  Para penikmat di pedesaan Jawa juga turut memanfaatkan candu meski mereka tidak sepenuhnya sadar telah menjadi korban dari sistem regi. Candu yang semula diperuntukkan bagi saudagar kaya pada akhirnya dapat diecer sampai ke desa-desa. Sebagian harus menjual sebagian besar sawah mereka, sebagian menanam sendiri tanaman candu seperti yang terjadi di Surakarta, masyarakat menanam candu secara ilegal baik untuk dikonsumsi sendiri atau diperjualbelikan. Tanaman-tanaman candu yang illegal biasanya terletak di belakang rumah atau di kebun-kebun yang disamarkan atau dikelilingi tanaman-tanaman tertentu.

Candu adalah saripati, sebagaimana pati yang berasal dari endapan tepung. Kosakata Jawa Kuno ini digunakan oleh orang-orang Jawa zaman dahulu untuk menyebut saripati bunga popi opium Papaver somniferum yang memabukkan sekaligus menyebabkan ketagihan. Kini, sari pati tersebut lebih sering kita dengar digunakan orang-orang Jawa untuk memanggil dedemit. Begitulah.

Usulkan Entri Baru

menyeret n Jw mengisap candu

sumber: madat : KN. toebereide opium, zva. tike, (vrg. apyun, en zie cêmêngan). Hind. madat. — madati, opium rooken, aan het gebruik van opium verslaafd zijn (vrg. nyêrèt). Sumber: Javaansch-Nederlandsch Handwoordenboek, Gericke en Roorda, 1901, #918.

apyun n Jw candu yg belum dimasak

sumber: apyun (apyUn) : kn candu kang durung dimangsak. Sumber: Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939, #75.

apyun : 1 opium poppy. 2 raw opium. Sumber: Javanese-English Dictionary, Horne, 1974, #1968.

candu putih n Jw cak nasi putih

kelalar n Jw ekstrak yg berminyak

kelelet n Jw 1. nikotin yg menempel pd pipa rokok, biasanya berwujud kotoran berminyak dan berwarna cokelat kehitaman yg lengket; 2 minyak obat

sumber: klèlèt (klElEt) : kn. wêka angusing candu (ing bêdudan). Sumber: Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939, #75.

candu : KW. zva. pathi, en klalar, Wk. KN. het extract van iets, een olieachtige zelfstandigheid; extract van gekookte opium, dat, met een soort van fijn gekorven bladeren vermengd, tike, genoemd wordt PL. I, 36, 169, vgl. apyun, kêlèlèt. lênga candu, naam van een soort van geneeskrachtige olie J. candu putih, in scherts voor gekookte rijst J., ZG. XII, 330. — nyandu, KN. tot een olieachtige zelfstandigheid overgaan; extraheren, door koking tot een olieachtige zelfstandigheid maken Wk. — pacandon, zva. patikèn. Sumber: Javaansch-Nederlandsch Handwoordenboek, Gericke en Roorda, 1901, #918.

tike n Jw bahan mentah pembuatan candu Jawa, terdiri atas candu mentah, daun awar-awar, kecubung, dan lengkeng

sumber:

Djoko. 1970. Perdagangan Tjandu di Indonesia pada Abad ke-19. Skripsi. Jurusan sejarah Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM

cemengan n Jw candu mentah, belum dimasak

Sumber: madat : KN. toebereide opium, zva. tike, (vrg. apyun, en zie cêmêngan). Hind. madat. — madati, opium rooken, aan het gebruik van opium verslaafd zijn (vrg. nyêrèt). Sumber: Javaansch-Nederlandsch Handwoordenboek, Gericke en Roorda, 1901, #918.

impling n Jw kertas timah yg digunakan untuk membungkus candu

impling (implIG): kn wadhah candu kang digawe timah. Sumber: Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939, #75.

impling : leaden opium container. Sumber: Javanese-English Dictionary, Horne, 1974, #1968.

bedudan n Jw alat berupa tabung untuk mengisap candu

bêdudan : N.K. une pipe d’opium. Sumber: Dictionnaire Javanais-Français, L’Abbé P. Favre, 1870, #917.


[1] madat : KN. toebereide opium, zva. tike, (vrg. apyun, en zie cêmêngan). Hind. madat. — madati, opium rooken, aan het gebruik van opium verslaafd zijn (vrg. nyêrèt). Sumber: Javaansch-Nederlandsch Handwoordenboek, Gericke en Roorda, 1901, #918.

[2] Rush, James R. 2000. Opium to Java: Jawa dalam Cengkeraman Bandar-Bandar Opium Cina, Indonesia Kolonial 1860 – 1910, Yogyakarta: Mata Bangsa

[3] Ibid p 26–27

[4] Rush. 2000 p 26

[5] Ibid p 27

[6] Carey, Peter. 1984. “Changing Perception of the Chinese Communities in Central Java, 1755-1825”. Indonesia, Vol. 37, p 1-47.

[7] Ibrahim, Julianto. 2016. Candu dan Militer Keterlibatan Badan-Badan Perjuangan dalamPerdagangan Candu Di Jawa Pada Masa Revolusi dalam KAWISTARA VOLUME 6 No. 1, 21 April 2016 Halaman 1-112

2016

[8] (Rush, 2000: 206).

[9] Ibrahim, 2016 p 21

Anjing

Golden Retriever[1]

–terkenang Johann Gottfried von Herder 

Di gigir gunung, di jantung lembah, dan bibir laut . Engkau terus berlari. Melempar tanya: kepada kabut, rumput, dan air surut. Hingga lelah kaki bersinggah. Di galih hati Louboutina: sang pemeluk. Dada bidangnya meredam degub jantung rentetan mimis di keramaian: tempat hiburan dan sekolahan. Atau di tajam penciuman Frida dan Bretagne: sang penyelamat.  Bersama degub maut korban di bawah reruntuh bangunan. Menyembul hidup di sela puing dan bongkahan.

Bukan jawab yang engkau terima. Tapi nalurimu yang sabar mendengarkan cerita-cerita. Yang tertambat di gelayut lengan Harlow, sang pelayan kelesuan. Lipu orang-orang yang tergeletak di pembaringan. Atau yang berlindung di bawah teduh mata Smiley: sang pendengar setia. Dan anak-anak riang belajar membaca.

Engkau pun merasakan hawa dingin. Perlahan mengalir ke dalam buluh nadi, menitip pesan dalam cerita. Tentang hangat peluk Jacob: sang penyintas trauma.  Berbaur dengan tangis dan erang keluarga tercinta. Terbujur kaku dan mimis-mimis mengukir lubang dada.

Di gigir gunung, di jantung lembah, dan bibir laut. Engkau selalu menemu manusia.  Namun tak jua menemu ia: di mana kemanusiaan bersinggasana? Dan apakah telah lama bersemayam di tetubuh: anjing penggembala.

191118-kdp

Canis (lupus) familiaris atau anjing adalah mamalia pemakan daging yang telah mengalami proses domestikasi[2]. Anjing sejatinya serigala abu-abu (Canis lupus) yang sejak 15.000 tahun yang lalu atau mungkin sudah sejak 100.000 tahun yang lalu berevolusi menjadi anjing modern. Klaim ini, konon, didasarkan pada bukti genetik berupa penemuan fosil dan uji DNA[3]. Berdasarkan taksonomi, anjing digolongkan dalam ordo Carnivora dan temasuk keluarga Canidae. Famili ini dibagi menjadi empat genus, yaitu Canis (anjing-anjingan; wolf (serigala), coyote, jackal dan dingo), Vulpes (rubah-rubahan), Dusycyon (culpeo), dan bush dog (mencakup jenis anjing lainnya).

Dalam kebudayaan manusia, anjing memiliki penting dan menjadi hewan peliharaan pertama manusia. Anjing telah membantu masyarakat pemburu-pengumpul dalam kegiatan berburu dan penjaga manusia dari dari kemungkinan serangan hewan pemangsa. Sekitar 7000 hingga 9000 tahun yang lalu, anjing dimanfaatkan sebagai penggembala dan penjaga domba, kambing, dan sapi. Meskipun masih banyak juga yang menggunakan anjing untuk kegiatan seperti itu, namun kini anjing semakin digunakan untuk tujuan sosial. Beberapa ras anjing dimanfaatkan manusia sebagai pemandu tunanetra dan penyandang cacat atau untuk membantu pekerjaan polisi. Anjing bahkan digunakan dalam terapi di panti jompo dan rumah sakit untuk mendorong pasien ke arah pemulihan. Manusia telah mengelompokkan berbagai anjing yang berbeda yang disesuaikan untuk melayani berbagai fungsi.

Penggolongan anjing dilakukan, setidaknya, mellalui tiga penggolongan utama, yakni (1) klasifikasi anjing menurut FCI (Federation Cynologque Internationale) yang didasarkan pada peran sosial dan tradisional anjing pada masa agrikultur, (2) klasifikasi anjing berdasarkan bobot atau ukuran anjing, dan (3) klasifikasi anjing menurut American Kennel Club (AKC). Namun demikian, pada praktiknya, penggolongan anjing acapkali dilakukan masyarakat dengan membaurkan peran sosial, bobot dan ukuran, fungsi, serta ras anjing. Hal itu disebabkan oleh kepintaran dan kemampuan anjing serta kreativitas manusia yg dapat memnyebabkan satu fungsi anjing melintas menuju fungsi lain.

Berdasarkan fungsi, kita mengenal anjing penjaga (herding dog), anjing pemburu hama (hound), anjing rumahan (nonsporting dog), anjing pemburu (hunting dog), anjing mini (terrier), anjing klangenan (toy dog).  Fungsi anjing penjaga (herding dog) merupakan fungsi tertua yang masih dipertahankan oleh manusia sejak zaman prasejarah, yakni mengumpulkan, menggiring dan melindungi ternak. Namun saat ini, beberapa ras anjing penjaga seperti herder atau German shepherd, biasanya dilatih untuk tugas polisi dan tugas pengamanan. Ras lain seperti Border collie sering diikutkan dalam kompetisi anjing karena memiliki kesetiaan dan kecerdasan yang luar biasa. Dalam lingkup yang lebih sempit, anjing penjaga digunakan sebagai anjing rumahan dan anjing pengawas seperti Collie, Australian Sheperd, Australian Cattledog, Belgian Sheepdog, dll. Fungsi anjing pemburu (hound) disematkan kepada anjing-anjing pemburu yang unggul. kategori anjing kelompok ini tidak ganas, mereka hanya memburu hewan-hewan yang merugikan manusia. Dachshund, Pharaohhund, American Foxhound, Basenji, dll masuk dalam kelompok ini. Fungsi kelangenan[4] (non-sporting dog) pada dasarnya disematkan kepada ras anjing yang beragam, bervariasi dalam hal ukuran, bulu, kepribadian dan penampilan secara keseluruhan. Bulldog, dalmatian, norwegian, chow-chow dikelompokkan ke dalam fungsi ini. Kelompok anjing (sporting dog) ini dibiakkan untuk kegiatan aktif seperti berburu dan kegiatan lapangan lainnya. Ras Brittany, Golden Retriever, Labrador Retriever, pointer, masuk dalam kelompok ini. Fungsi pemburu juga dimiliki oleh anjing mini, terrier, yakni berfungsi sebgai pengontrol hama berwujud hewan pengerat. Ukuran yang relatif kecil memungkinkan mereka masuk memburu ke dalam celah sempit seperti bull terrier, Welsh terrir, Scottish terrier, dll. Fungsi klangenan (toy dog) dibiakkan untuk fungsi-fungsi yang tidak serius, berukuran relatif kecil sehingga untuk perawatan dan kebutuhan ruang dan pakan dalam skala lebih kecil seperti anjing chihuahua, maltese, poodle, shih tzu, dll. Terakhir, anjing pekerja (working dog) dibiakkan untuk melakukan pekerjaan seperti menjaga rumah, menarik kereta dan melakukan penyelamatan korban bencana alam. Anjing jenis ini membutuhkan latihan yang khusus. Alaskan malamute, anatolian Sheperd, bemese mountain, black russian terrrier, dll kerap dimasukkan dalam kelompok ini. Akhirnya, perlintasan antarfungsi, antarbobot, antarpenampilan, apa pun itu, telah menciptakan beberapa istilah dalam dunia anjing atau peranjingan.

Usulkan Entri Baru:

anjing 4 ks makian

anjing buduk  1. n anjing berpenyakit kulit; 2. ks makian

https://www.kompasiana.com/guestx/6120dace01019039f455e122/anjing-buduk-dan-tuannya

anjing penjaga n anjing yg dilatih dan difungsikan sebagai penjaga rumah, pekarangan, dsb

https://www.idntimes.com/science/discovery/nena-zakiah-1/kumpulan-jenis-anjing-penjaga-terbaik

anjing pemburu n anjing yg dilatih dan difungsikan sebagai pemburu binatang liar

https://www.kompas.com/homey/read/2022/03/08/071300276/8-ras-anjing-pemburu-terbaik-golden-retriever-hingga-beagle?page=all

anjing penggembala n anjing yg dilatih dan difungsikan sebagai pngumpul, penggiring dan pelindung ternak

https://www.kompas.com/homey/read/2022/10/04/130000676/perbedaan-ras-anjing-pekerja-dan-penggembala-apa-saja-

anjing klangenan n anjing yg dipelihara untuk kesenangan; anjing timangan

anjing kontes  n anjing yg dirawat dan dilatih untuk diikutkan dalam perlombaan anjing

https://foto.tempo.co/read/98303/aksi-anjing-anjing-kontes-dalam-westminster-kennel-club-dog-show-ke-146

anjing pekerja n anjing yg dilatih dan difungsikan sebagai pembantu manusia dalam bekerja

https://www.kompas.com/homey/read/2022/10/04/130000676/perbedaan-ras-anjing-pekerja-dan-penggembala-apa-saja-

anjing pelacak n anjing yg dilatih dan difungsikan sebagai pencari jejak kejahatan dsb

https://www.kompas.com/homey/read/2022/07/23/141300576/9-ras-anjing-yang-lazim-digunakan-sebagai-anjing-pelacak?page=all

anjing gila n  penyakit menular akut, menyerang susunan saraf pusat yang disebabkan oleh Lyssavirus; rabies

https://www.halodoc.com/kesehatan/rabies

anjing terapi n anjing yg dilatih dan difungsikan sebagai penyemangat pasien dalam proses pengobatan atau pemulihan pascatrauma     

https://sains.kompas.com/read/2019/07/05/100700023/mengenal-anjing-terapi-yang-bisa-tingkatkan-kesehatan-mental-dan-fisik

anjing menggonggong khafilah berlalu pb tetap melanjutkan sst tanpa mendengarkan cemoohan orang lain

https://www.cnnindonesia.com/edukasi/20240619103318-569-1111383/apa-arti-peribahasa-anjing-menggonggong-kafilah-berlalu

seperti anjing berebut tulang pb orang yang memperebutkan kedudukan  dan harta dng rakus sehingga kehilangan rasa kemanusiaan

https://books.google.com/books/about/Bagai_anjing_berebut_tulang.html?id=qo1xNwAACAAJ

anjing kampung n anjing ras lokal

https://regional.kompas.com/read/2019/07/20/07300001/bisnis-menggiurkan-anjing-kampung-garut-diminati-di-sumbar-harganya-mencapai?page=all

anjing petarung n anjing yg dilatih untuk disabung; anjing aduan

https://megapolitan.kompas.com/read/2009/05/09/10580382/jirung.si.anjing.petarung?page=all


[1]Pernah dimuat di dalah Sesapa Mesra Selinting Cinta: Pertemuan Penyair Nusantara XI Kudus 2019

[2] penjinakan hewan liar atau hewan buas dan sebagainya https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/domestikasi

[3] Lynda P. Case, The Dog; Its Behavior, nutrition & Health, (Iowa State Univerity Press, 1999) p 8

[4] https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/klangenan