Lamunan


Sumribid angin ratri tansah hangenteni
Setya nrajang telenging ati
Angen angen tumlawung suwung ing wengi sepi
Tansah angranti tekamu duh yayi

Pindha samudra pasang kang tanpa wangenan
Tresnaku mring sliramu sayang
Cahyaning mbulan kang sumunar abyor ing tawang
Yekti sliramu kang dadi lamunan[1]

(Berembus angin malam selalu menanti
Setia menyusupi hati
Angan-anganku mengembara di malam yang sepi
Slalu menanti hadirmu si jantung hati

Bagai ombak samudera yang tiada tertahan
Cintaku kepadamu sayang
Cahaya rembulan benderang di awang-awang
Niscaya dirimu yang jadi lamunan)

Lamunan mengacu pada representasi imajiner yang diciptakan seseorang untuk membantu mewujudkan keinginan. Untuk mengacu kepada hal serupa, Freud menggunakan istilah phantasie untuk merujuk aktivitas mental melamun tersebut, baik dilakukan secara sadar maupun tidak. Dalam bahasa Prancis, phantasie berkonotasi dengan ide yang berubah-ubah atau acak. Namun, menurut Daniel Lagache (1993), phantasie merujuk pada kreasi khayali yang disadari maupun tidak. Perbedaan kedua pendapat tersebut terletak pada dua aktivitas berbeda, yakni aktivitas mental dan kreasi khayali.

Lamunan, dialami hampir oleh semua orang, seringkali dimanfaatkan untuk memuaskan hasrat, memberikan suatu bentuk kepuasan khayali, boleh jadi kepuasan erotis, agresif, ambisius, membanggakan diri, atau menghibur diri, bahkan tak jarang orang memvisualisasikan juga pengalaman yang menyakitkan[2]. Begitulah manusia, manusia pandai mengubah kenyataan. Salah satu bakat istimewa manusia ketika mereka dihadapkan pada situasi yang tidak diharapkan, tidak menggembirakan, mereka dapat menggunakan kemampuan mental yang luar biasa tersebut untuk menciptakan situasi (khayali) baru sehingga ketidaknyamanan tersebut mereka percayai dapat hilang. Sigmund Freud menggambarkan hal tersebut sebagai mekanisme pertahanan sebagaimana dia telah menyelidiki bagaimana manusia menyangkal, mendistorsi, atau menghindari realitas yang tidak menyenangkan.

Sebagai satu bentuk mekanisme pertahanan sekaligus piranti psikologis yang penting, lamunan dimanfaatkan untuk menghadirkan realitas khayali. Freud (1900) dalam The Interpretation of Dreams menceritakan sebuah lamunan di mana dia membayangkan perjalanan ke Berlin untuk sebuah operasi rahasia dan mengalami kenikmatan yang luar biasa saat mendengarkan keterangan dokter bedah memuji kualitas anestesi kokain sementara ia menderita glaucoma yang tidak memungkinkannya bepergian ke Berlin. “Lamunan dan hayalan adalah cikal bakal histeria[3]”, demikian ujarnya.

Menurut Freud, lamunan pada awalnya merupakan ekspresi dari fantasi bawah sadar yang lantas dimanfaatkan sebagai material laten untuk menciptakan mimpi. Mimpi, masih menurut Freud lebih mendekati halusinasi, sedang lamunan tidak lebih dari sekadar pelarian dari kenyataan atau realitas yang tertangguhkan. Dalam esai Creative Writers and Daydreaming, Freud membahas peran lamunan dalam penciptaan karya sastra[4]. Plato memandang para penyair gila, dalam artian bahwa realitas yang mereka ciptakan merupakan semacam penolakan terhadap realitas. Namun demikian, Freud berupaya membedakan karya kreatif dengan bentuk lamunan lainnya. Freud menggambarkan karya seniman sebagai suatu bentuk khusus yang berpaling dari kenyataan, yang “menciptakan dunia khayalan yang menyertakan emosi sembari tertap memisahkannya dari kenyataan.”

Di sisi lain, ada beberapa kesempatan yang mana penikmat karya harus menghubungkan karya sastra dengan realitas. Meski sebagian besar pembaca, sama dengan seniman atau penulis, menyadari karya hanya berdiri berdekatan dengan realita, segelintir kecil pembaca atau penikmat karya seni terhanyut sebagaimana ibu-ibu zaman dahulu membenci Dinda Kanyadewi dalam sinetron Cinta Fitri, Cut Meyriska dalam Catatan Hati Seorang Istri, dan Anya Geraldine yang memerankan karakter Lydia Danira dalam serial Layangan Putus5 pun kebencian banyak orang (tempo dahulu) terhadap tokoh Datuk Maringgih dalam novel Siti Nurbaya.

Realitas buatan memungkinkan terjadi sebagai akibat dari lamunan. Tentu saja, lamunan dapat bertingkat, yakni dari tingkat pertama pelamun kemudian beranjak pada tingkat kedua pencipta karya (jika pencipta karya mengambil ide sang pelamun), dan berlanjut ke tingkat tiga penikmat karya. Jika semuanya berjalan dengan baik, kesempatan untuk melamun tersebut akan memungkinkan penikmat karya untuk masuk ke dalam relaitas buatan dan sebagian akan mengalami kesulitan untuk kembali ke realitas yang sebenarnya. Begitulah dasyatnya sebuah lamunan, sementara seniman tidak memiliki kapasitas untuk sebenar-benarnya mengubah realitas, tetapi mereka dapat membantu mengembangkan imajinasi dan jangkauan emosional yang memperkaya dunia batin. Pada akhirnya, lamunan-lamunan tersebut memungkinkan manusia untuk merespons secara kreatif atas tuntutan realitas eksternal.

Disclaimer: Ulah ngalamun bae, bisi kasurupan!

lamun1 » la.mun.an       

⇢ Tesaurus

Usulkan Makna Baru

2. n realitas buatan yg dihasilkan dr menghayal


[1] Lamunan Karya Wahyu F. Giri

[2] Anargyros-Klinger, Annie, Reiss-Schimmel, Ilana, dan Wainrib, Steve. 1998. Création, psychanalyse. Paris: Presses Universitaires de France

[3] Freud, Sigmund. 1900. The Interpretation of Dreams The Standard Edition of the Complete Psychological Works of Sigmund Freud, Vol. V, trans. and ed. James Strachey (London: Hogarth Press, 1959), 506 n. 2. I’ve written much more extensively about the significance of dream-life in Dreaming In Dark Times: Six Exercises in Political Thought (Minneapolis: University of Minnesota Press, 2017).

[4] Freud, Sigmund. 1908. “Creative Writers and Day-Dreaming” SE, 9:144

[5] https://www.brilio.net/selebritis/cerita-9-seleb-dibenci-karena-peran-antagonis-anya-geraldine-menyamar-220107g.html

[6] Lagache, D. (1993). The Work of Daniel Lagache: Selected Papers 1938-1964 (1st ed.). Routledge. https://doi.org/10.4324/9780429483813

Leave a comment