mPus

Konon sebuah penelitian genetika menunjukkan bahwa kucing telah hidup berdampingan dengan manusia lebih lama dari yang telah diperkirakan selama ini. Meski kalah lama dari anjing yang konon telah dijinakkan pada akhir periode Paleolitikum (15.000 tahun yang lalu), kucing diperkirakan telah hidup bersama manusia (dalam bentuk yang tidak dijinakkan) pada periode Neolitikum (8.000 tahun yang lalu)[1]. Pada periode  tersebut manusia mulai bercocok tanam dan menyimpan makanan yang menarik hati hewan pengerat yang kemudian dikejar oleh kucing untuk dijadikan mangsa.

Meski bukti domestikasi kucing masih sedikit, pada masa sebelum terbangunnya dinasti Mesir (sebelum 3150 SM) dan pada akhirnya masa dinasti Mesir (setelah 3150 SM) dipercaya oleh banyak ahli telah terjadi domestikasi kucing. Hal ini dikaitkan dengan ikonografi dari periode tersebut yang telah menunjukkan bahwa manusia memuliakan kucing serta menyembah dewa-dewi kucing yang merepresentasikan kesuburan, kekuatan, dan keadilan[2]. Dari Mesir, pemuliaan ini menyebar ke kebudayaan lain seturut rute perdagangan kuno hingga akhirnya kucing berpadu dengan berbagai kebudayaan.  

Di berbagai kebudayaan, kucing dipercaya sebagai pertanda baik atau buruk. Di sebagian besar masyarakat Muslim, kucing adalah hewan yang dihormati[3]. Menurut hadits, kucing itu tidak hewan najis. Dia sebagai hewan yang sering berputar-putar pada kalian[4]. Salah satu sahabat Nabi, Abu Huriah, mencatat bahwa Muhammad menyatakan bahwa seorang wanita masuk neraka karena membuat seekor anak kucing kelaparan[5]. Kebudayaan Islam seringkali dikaitkan dengan penghargaan khusus terhadap kucing dan seperangkat kepercayaan khusus yang berkaitan dengan bagaimana seseorang selayaknya memperlakukan kucing, “ketika jiwa telah berjalan-jalan, ia akan tiba di sebuah jembatan di seberang sungai, di mana seekor kucing berjaga-jaga”[6].

Di dalam budaya Persia, perilaku kucing dapat ditafsirkan sebagai pertanda baik atau buruk. Kucing yang mencuci atau menjilati cakarnya di dekat pintu depan menandakan bahwa seorang tamu akan segera tiba. Di pedesaan Thailand, kucing digunakan dalam upacara mengundang hujan, seekor kucing betina yang dibesarkan di kuil dibawa dari rumah ke rumah sambil mengalunkan lagu-lagu pujian kepada para dewa. Di setiap rumah, para penghuni rumah menyambut dan menyiramkan air ke tubuh kucing tersebut. Setelah setiap rumah dikunjungi, sebuah pesta diadakan di kuil dan kucing yang basah kuyup dibiarkan mengering.

Namun demikian, tidak semua perilaku kucing dianggap sebagai pertanda baik. Bagi masyarakat Persia, jika seekor kucing menggosokkan wajahnya pada seseorang maka pertanda bahaya yang akan datang. Ketika dua kucing berkelahi, mereka harus dipisahkan dengan cepat, atau beberapa kesulitan akan muncul[7]. Kucing hitam seringkali juga seringkali dikaitkan dengan entitas jin, makhluk spiritual yang kuat dan berbahaya. Jika jin diganggu atau disiksa, si pengganggu dipercaya akan mendapati bencana.

Kucing yang acapkali dipandang sebagai pertanda baik (Persia), pertanda buruk (Persia), makhluk ajaib yang digunakan untuk menurunkan hujan (Thailand) serta penyihir (suku Maya) ternyata juga terjadi di dalam kebudayaan Jawa. DI dalam Serat katuranggan kucing (ꦱꦼꦫꦠ꧀ꦏꦠꦸꦫꦁꦒꦤ꧀ꦏꦸꦕꦶꦁ), sebuah teks sastra Jawa berbentuk tembang yang membahas jenis dan rupa kucing, berisi pemaparan mengenai jenis-jenis kucing berdasarkan warna bulu dan akibat baik-buruknya bagi manusia. Selain katuranggan perkutut katuranggan wanita, dan katuranggan djaran, terdapat pula katuranggan kucingkatur yang dapat dimaknai “pemberitahuan” dan angga yang berarti “tubuh” membentuk makna pemberitahuan mengenai ciri fisik atau tubuh

Ciri fisik tiap jenis kucing dan uraian baik dan buruk dijelaskan secara singkat. Baik Serat Ngalamating Kucing (ꦱꦼꦫꦠ꧀ꦔꦭꦩꦠ꧀ꦠꦶꦁꦏꦸꦕꦶꦁ) versi Yogyakarta dan Serat Katuranggan ning Kutcing (ꦱꦼꦫꦠ꧀ꦏꦠꦸꦫꦁꦒꦤ꧀ꦤꦶꦁꦏꦸꦠ꧀ꦕꦶꦁ) versi Semarang memiliki isi yang sebagian besar sama dengan sedikit perbedaan dari segi pengejaan dan susunan.

Serat Katuranggan ning Kutcing  diterbitkan di Semarang pada tahun 1871 M menuturkan salah satu kucing yang dianggap baik sebagaimana berikut:

PadaBahasa JawaBahasa Indonesia
Aksara JawaLatin
7꧅ꦭꦩꦸꦤ꧀ꦱꦶꦫꦔꦶꦔꦸꦏꦸꦕꦶꦁ꧈ ꦲꦮꦏ꧀ꦏꦺꦲꦶꦉꦁꦱꦢꦪ꧈ ꦭꦩ꧀ꦧꦸꦁꦏꦶꦮꦠꦺꦩ꧀ꦧꦺꦴꦁꦥꦸꦠꦶꦃ꧈ ꦊꦏ꧀ꦱꦤꦤ꧀ꦤꦶꦫꦥꦿꦪꦺꦴꦒ꧈ ꦲꦫꦤ꧀ꦮꦸꦭꦤ꧀ꦏꦿꦲꦶꦤꦤ꧀‍꧈ ꦠꦶꦤꦼꦏꦤꦤ꧀ꦱꦱꦼꦢꦾꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀‍꧈ ꦪꦺꦤ꧀ꦧꦸꦟ꧀ꦝꦼꦭ꧀ꦭꦁꦏꦸꦁꦲꦸꦠꦩ꧈Lamun sira ngingu kucing, awaké ireng sadaya, lambung kiwa tèmbong putih, leksan nira prayoga, aran wulan krahinan, tinekanan sasedyan nira ipun, yèn buṇḍel langkung utamaJika engkau memelihara kucing yang seluruh badannya berwarna hitam tetapi perut sebelah kirinya terdapat bercak putih  maka hal itu baik, kucing itu disebut wulan krahinan yang dapat membawa kebaikan berupa tercapainya semua keinginan. Jika ekornya pendek maka lebih utama.

Salah satu kucing yang dianggap kurang baik dituturkan sebagaimana berikut:[9]

PadaBahasa JawaBahasa Indonesia
Aksara JawaLatin
8꧅ꦲꦗꦱꦶꦫꦔꦶꦔꦸꦏꦸꦕꦶꦁ꧈ ꦭꦸꦫꦶꦏ꧀ꦲꦶꦉꦁꦧꦸꦤ꧀ꦠꦸꦠ꧀ꦥꦚ꧀ꦗꦁ꧈ ꦥꦸꦤꦶꦏꦲꦮꦺꦴꦤ꧀ꦭꦩꦠ꧀ꦠꦺ꧈ ꦱꦼꦏꦼꦭꦤ꧀ꦱꦿꦶꦁꦠꦸꦏꦂꦫꦤ꧀‍꧈ ꦲꦫꦤ꧀ꦝꦣꦁꦱꦸꦁꦏꦮ꧈ ꦥꦤ꧀ꦲꦢꦺꦴꦃꦫꦶꦗꦼꦏꦶꦤꦶꦥꦸꦤ꧀‍꧈ ꦪꦺꦤ꧀ꦧꦸꦟ꧀ꦝꦼꦭ꧀ꦤꦺꦴꦫꦔꦥꦲ꧈Aja sira ngingu kucing, lurik ireng buntut panjang, punika awon lamaté, sekelan sring tukaran, aran ḍaḍang sungkawa, pan adoh rijeki nipun, yèn buṇḍel nora ngapaJanganlah engkau memelihara kucing dengan bulu lurik hitam berekor panjang, kucing jenis itu tidak baik dipelihara, sering bertengkar dan disebut disebut ḍaḍang sungkawa. Kehidupanmu akan jauh dari rizeki. Namun bila ekornya pendek tidak mengapa

Tak hanya di Jawa, kebudayaan Bali juga memiliki tradisi teks serupa yang disebut carcan kucing atau carcan miyong, naskah lontar yang memiliki isi menyerupai serat katuranggan kucing versi Jawa. Naskah Tamra Maeo Thailand memaparkan jenis-jenis kucing dalam bentuk bait-bait pendek disertai dengan ilustrasi. Begitulah kucing dan kebudayaan manusia, kucing tidak sekadar makhluk ilahiah (Mesir) dan keturunan setan (suku Maya), kucing turut pula membentuk budaya manusia dengan keragaman mitos yang melekat pada bulu-bulunya.

Usulkan Entri Baru

wulan purnama n Jw kucing dng bulu berwarna putih dengan bercak hitam di perut sebelah kanan, dipercaya baik untuk dipelihara

wulan krahinan n Jw kucing dng bulu berwarna hitam dengan bercak putih di perut sebelah kanan, dipercaya baik untuk dipelihara

bujangga hamengku  n Jw kucing dng bulu berwarna putih dengan belang hitam di kepala           dipercaya baik untuk dipelihara

satriya wibawa n Jw kucing dng warna bulu yg sama dari telapak kaki hingga mulut dan mata

paṇḍita lelaku n Jw kucing dng garis putih dari punggung hingga mulut 

sangga buwana n Jw kucing dng warna bulu apapun dengan bercak di punggungnya         

wisnu atoṇḍa n Jw kucing dng warna bulu apapun, tidak banyak bersuara atau bisu    

candra mawa n Jw 1. kucing dng pusaran bulu di kepala, dada, atau punggung; . kucing dng bulu tiga warna         

sari kuning n Jw kucing dng garis dari punggung hingga muka  

udan mas n Jw kucing dng bulu berwarna merah keputih-putihan seperti menjangan

putra kajentaka n Jw kucing dng bulu berwarna hitam mulus dan berekor panjang, dipercaya akan mendatangkan kemiskinan

ḍaḍang sungkawa n Jw kucing dng bulu berwarna hitam lurik, berekor panjang         

durjana kakeṭu n Jw kucing dng bulu berwarna hitam dengan belang putih di kepala           

wisa tumama n Jw kucing dng ekor putih panjang             

tampar taliwangsul n Jw kucing dng bulu di telinga dan perut berwarna sama          

kala ngumbara n Jw kucing dng garis hitam dari punggung hingga ekor    

baya ngangsar n Jw kucing dng garis dari dada hingga ekor        

lintang kumukus n Jw kucing dng bulu bertutul dengan ekor putih             

kembang asem n Jw kucing dng bulu berwarna cokelat tua seperti bunga asam


[1] Ottoni, C., Van Neer, W., De Cupere, B., Daligault, J., Guimaraes, S., Peters, J., Spassov, N., Prendergast, M.E., Boivin, N., Morales-Muñiz, A. and Bălăşescu, A., 2017. The palaeogenetics of cat dispersal in the ancient world. Nature Ecology & Evolution, 1(7), p.0139.

[2] Malek, J. 1997. The Cat in Ancient Egypt (Revised ed.). Pennsylvania: University of Pennsylvania Press. ISBN 9780812216325.

[3] Glassé, Cyril 2003. The New Encyclopedia of Islam. Rowman Altamira. p.102. ISBN 0759101906.

[4] HR. At-Tirmidzi

[5] Kurzman, Charles 1998. Liberal Islam: A Source Book. Oxford University Press. p. 121. ISBN 0195116224.

[6] Adriani, Nicolaus, and Albertus Christiaan Kruijt. 1951. “Bare’E-Speaking Toradja Of Central Celebes (The East Toradja): Second Volume.” Verhandelingen. Amsterdam: Noord-Hollandsche Uitgevers Maatschappij.

[7] Massé, Henri, and Charles A. Messner. 1954. “Persian Beliefs And Customs.” Behavior Science Translations. New Haven [Conn.]: Human Relations Area

Leave a comment