(Ma) ido

Dalam psikologi perilaku manusia, denialisme merupakan sikap seseorang untuk menyangkal kenyataan sebagai cara untuk tidak memercayai informasi yang berpotensi dapat membuatnya tidak nyaman secara psikologis[1]. Pada dasarnya, denialisme bersifat irrasional yang cenderung mencegah seseorang untuk melakukan validasi informasi atau peristiwa yang sebenarnya dapat diverifikasi secara empiris[2]. Penyangkalan telah menjadi bagian dari perilaku manusia selama ribuan tahun, meski contoh terbesar dari penyangkalan ini dapat kita amati saat wabah COVID-19 melanda. Sementara banyak orang ketakutan, sebagian menyangkal virus pembawa wabah tersebut ada dan banyak dari mereka tidak mematuhi anjuran perlindungan diri dan berakhir di dalam kantung mayat. Maido kata orang Jawa.

Dalam ilmu pengetahuan, denialisme adalah penolakan terhadap fakta-fakta dan konsep-konsep dasar yang tidak terbantahkan, sekaligus merupakan bagian dari konsensus ilmiah[3] demi mempertahankan ide-ide radikal, kontroversial, atau bahkan boleh jadi mengada-ada. Motivasi dan penyebab perilaku manusia ini berkaitan erat dengan agama, kepentingan pribadi (ekonomi, politik), dan mekanisme pertahanan yang dimaksudkan untuk melindungi jiwa. Antropolog Didier Fassin membedakan antara maido, yang didefinisikan sebagai ‘penyangkalan amatan empiris terhadap realitas dan kebenaran’, dan maido yang ia definisikan sebagai “posisi ideologis yang memungkinkan seseorang bereaksi secara sistematis dengan menolak realitas dan kebenaran”[4]. Orang dan kelompok sosial yang maido seringkali menggunakan taktik retorika untuk memberikan argumen dan perdebatan meski sebenarnya kosong belaka.

Pada tahun 2009, penulis Michael Specter mendefinisikan penyangkalan dilakukan ‘ketika seluruh segmen masyarakat, yang sering kali berjuang dengan trauma perubahan, berpaling dari kenyataan demi kebohongan yang lebih nyaman’[5]. Pendapat ini masuk akal, terlebih ketika kita mencermati jalannya sidang PK Saka Tatal atas kasus pembunuhan dan pemerkosaan atau kecelakaan tunggal Egi dan Vina Cirebon. Terdapat dua kubu, yakni PH dan JPU yang saling saling maido, menyangkal informasi yang diberikan oleh pihak lain menjadi titik tekan perilaku manusia sebagai sebuah bentuk pertahanan mental.

Maido, ma- kesekian yang masuk kedalam mapitu (tujuh ma-) dalam kebudayaan Jawa sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan denialisme. Perilaku budaya tersebut juga berkaitan dengan skeptisisme, yang dalam filsafat Barat mengacu pada sikap meragukan klaim pengetahuan, menantang rasionalitas dan asumsi-asumsi yang disuguhkan oleh pihak lain. Dalam kebudayaan Yunani,  skeptis bermakna ‘sang penanya, seseorang yang tidak puas dan masih mencari kebenaran’. Maido dalam konteks ini akan terlihat ketika seorang Jawa maido atas keterangan pemimpin perihal kesiapan IKN menggelar upacara kemerdekaan. Sang penanya tidak serta merta percaya, ia akan mencari informasi dari sumber lain untuk menguji informasi yang ia dengar atau baca. Maido gagrak kedua inilah yang akan mendorong pengembangan ilmu pengetahuan.

Awalan ma- (meng-) digabungkan dengan kata dasar idu (ludah) tidak sekadar bermakna meludah, lebih jauh, kata berimbuhan ini bermakna menyangkal. Terdapat unit makna merendahkan di dalam kata ini sebagaimana meludah di hadapan seseorang dimaknai merendahkan harga diri dalam berbagai budaya. Maido sampai kapan pun akan menjadi bagian dari perilaku budaya manusia, terlepas dari unit makna merendahkan validitas informasi, perilaku ini dapat mendorong penggalian informasi dari saluran yang berbeda.

Moyan

Kau tahu langit sedang tak giat tersenyum seperti bulan Juni. Hanya terkadang

awan tetiba tersibak dan binar itu membanjur tubuh bukit, sirap, dan jukut.

Daun-daun muda di halaman depan nanap melihat, bayang-bayang mereka

geliang-geliut hendak bersembunyi kerna malu.

Melihat tubuhku, telanjang terpangku didingklik pendiam yang begitu merindu

hentak tubuhku sejak musim lalu. Kau tahu, begitu lama ia membatu di pusar

pakarangan dalam dirus silantang, suri, renyai , dan lebat hujan. Kau juga tahu,

ia adalah kekasih pagiku yang menggelebah, bilakah pendar timur itu akan

bertandang.

Katamu pendar itu pemicu bahang di dalam tubuhku yang siap melumat taun yang

mungkin terlebih dahulu singgah di halamanku, tanganku, tubuhku, atau bumiku.

Aku tak pernah tahu perguaman itu. Walau aku sedikit meragu, adakah engkau

sungguh tahu tentang hawar itu.

220220-kdp

Usulkan Makna Baru

ma.i.do

⇢ Tesaurus

  • v Jw mencela karena tidak percaya (perbuatan atau hasil pekerjaan orang lain): bukan watak kita untuk terus cengeng dan terus — saja

2. v menyangkal kebenaran informasi yg diberikan oleh orang lain

Sumber: maido (maido) : n. maibên k. ora ngandêl; kc. paido. Sumber: Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939, #75.

maido (maido) : Ng., maibên Kr.; to disbelieve. Sumber: Giri Sonta Course for Javanese (Lexicon), Bakker, 1964, #286.


[1] Maslin, Janet (November 4, 2009). “Michael Specter Fires Bullets of Data at Cozy Antiscience in ‘Denialism'”New York Times.

[2] O’Shea, Paul (2008). A Cross Too Heavy: Eugenio Pacelli, Politics and the Jews of Europe 1917-1943. Rosenberg Publishing. p. 20ISBN 978-1-877058-71-4.

[3] Scudellari, M. (March 2010). “State of denial”. Nat. Med. 16 (3): 248. doi:10.1038/nm0310-248aPMID 20208495S2CID 26207026.

[4] Fassin, Didier (2007). When Bodies Remember: Experiences and Politics of AIDS in South Africa. University of California Press. p. 115. ISBN 978-0520940451.

[5]  Specter, Michael (2009). Denialism: How Irrational Thinking Harms the Planet and Threatens Our Lives. Penguin. ISBN 978-1594202308978-1594202308

Leave a comment