Selama ribuan tahun, manusia telah memiliki gagasan tentang kekuatan super atau manusia super. Namun, apakah yang sebenarnya mendorong manusia untuk tidak sekadar menggagas tetapi ingin memiliki kekuatan super tersebut? Jackson dkk (2023) mengungkap keterlibatan imajinasi dan keyakinan magis (takhayul dan religiusitas) yang mendorong keinginan manusia untuk memiliki kekuatan supernatural[1]. Gagasan yang berkembang menjadi kepercayaan akan adanya kekuatan super tersebut berkorelasi dengan keinginan manusia untuk memiliki kekuatan supernatural serta keyakinan mereka bahwa manusia dapat memiliki kekuatan tersebut di masa depan. Narasi fiksi dan takhayul juga memiliki peranan penting terhadap keinginan manusia tersebut. Meski demikian, manusia lintas budaya memiliki keinginan dan persepsi tentang kekuatan supernatural yang bervariasi.
Kekuatan supernatural dapat dimaknai sebagai kemampuan yang melanggar hukum alam atau kemampuan yang dapat melampaui realitas[2]. Sebagian besar budaya menggabungkan sebuah entitas dengan kekuatan supernatural, seperti dewa yang dapat melecutkan petir atau putra raja yang dapat terbang. Baik dalam sastra lisan atau seni visual, fantasi terbang sangat umum dijumpai dalam berbagai budaya. Namun, kemampuan supernatural terbang bukan satu-satunya kemampuan super yang digagas oleh manusia, manusia juga menggagas kemampuan membaca pikiran, teleportasi, atau psikokinesis. Kepercayaan supranatural seperti itu tidak serta merta terkait dengan sistem budaya tetapi dapat berkembang mandiri tanpa pengaruh budaya.
“Aku ajarkan kepadamu Adimanusia. Adimanusia adalah arti dari bumi ini. Biarkan kehendakmu berkata: Adimanusia akan menjadi makna dari bumi!” [3]
Meski sebenarnya mustahil bagi manusia dapat terbang atau menyatukan kembali bagian-bagian tubuhnya yang telah terpotong-potong, setidaknya berdasarkan pemahaman manusia berdasar sains Barat, mengapa manusia terus menciptakan fantasi untuk memiliki kekuatan seperti itu? Webster dkk memperkenalkan psikologi fantasi dan perannya dalam pemikiran dan perilaku manusia. Fantasi merupakan keterlibatan imajinatif tertentu yang melampaui kemampuan alamiah manusia yang dapat meredam kecemasan atas keterbatasan diri sebagai sebuah menejemen teror[4].
jaran goyang
Saèmpêré kêmamang wus nguntal
lintang uga mbulan. Einbrugh der Dunkelheit
sliramu ambyur lêlangèn ing pusêring pêdhut
klêmbak. wêwayanging wanodya tansah ndhéprok
ngungun, ing sisih kiwa pangangênmu.
Ing pundhèn sadhuwuring kali
Ich glaube, im Friedhof
das vorȕberfuhr,
donyamu kadhung kukut
cêblok sadalan-dalan
panguripan
031117-kdp
Kekuatan supranatural merupakan kekuatan “menentang hukum alam dan melampaui kemampuan fisik alamiah manusia” sebagaimana manusia meyakini tentang kesaktian. Kemampuan ini mencakupi perjalanan memintasi waktu, teleportasi, kemampuan menyembuhkan, terbang, keabadian, telekinesis, transfigurasi atau malih rupa, mengontrol pikiran, menelusuri keberadaan benda, dan berkomunikasi dengan orang mati kerap ditemukan di dalam berbagai budaya, tak terkecuali budaya Jawa.
Fantasi transfigurasi dimiliki oleh tokoh wayang Prabu Kresna, putra kedua Prabu Basudewa, raja dari Mandura. Ia dipercaya sebagai titisan Batara Wisnu yang memiliki kemampuan menjelma menjadi raksasa ketika amarahnya sudah tak dapat dibendung. Raden Gatot Kaca, putra dari Bima dan dewi Arimbi, memiliki kemampuan terbang dengan menggunakan badongnya. Antasena, putra bungsu Werkudara atau Bima, mampu terbang, masuk ke perut bumi, dan memiliki kulit yang dilindungi oleh sisik udang, sehingga membuatnya kebal dari berbagai senjata. Kemampuan super yang dimiliki tokoh-tokoh wayang diatas tidak terdapat di dalam babon cerita Mahabarata, artinya fantasi Jawa berperan dalam penyematan kemampuan super tersebut.
Meski sama-sama menggunakan diksi super, Nietzsche memperkenalkan konsep Ubermensch (adimanusia/manusia super) yang memandang manusia mampu menjadi pribadi yang melampaui dirinya sendiri dan mampu mengalahkan rasa takutnya terhadap tantangan serta tabah di tengah kesukaran. Ubermensch dipandang dapat menjadi fondasi bagi upaya aktualisasi diri manusia sesuai jalan hidup dan pemaknaannya masing-masing untuk mencari cara pandang yang terbaik[5].
Usulkan Entri Baru
jaran goyang n Jw ajian untuk menarik lawan jenis
semar mesem n Jw ajian untuk menarik lawan jenis
pameling n Jw ajian untuk memanggil seseorang melalui telepati
https://mediaindonesia.com/weekend/357195/aji-pameling
ajian sirep n Jw ajian untuk menidurkan seseorang atau semua kalangan
welut putih n Jw ajian agar tidak bisa ditangkap
pancasona n Jw ajian agar tidak bisa mati
puter giling n Jw ajian agar membingungkan atau memanggil orang hidup yang tidak pulang
lembu sekilan n Jw ajian agar tidak terkena serangan
maundri n Jw ajian cerita fiksi milik tokoh wayang anoman kera putih
aji sirep megananda n Jw ajian cerita fiksi milik tokoh wayang indrajit
narantaka n Jw ajian cerita fiksi milik tokoh wayang dari Guru Setha ke Gathotkaca , untuk menghantam ataupun penghancur sebuah benda
panglimunan n Jw ajian dalam tokoh wayang kresna atau brahmana untuk menghilang
https://jakarta.akurat.co/tag/ajian-panglimunan
asmaragama n Jw ajian untuk menaklukan lawan jenis dari laki-laki untuk perempuan, dalam sebuah tokoh pewayangan
https://www.neliti.com/publications/172929/makna-simbolisme-dalam-mantra-asmaragama-sang-arjuna
[1] Jackson, Joshua Conrad et all. 2023. Supernatural explanations across 114 societies are more common for natural than social phenomena in Nature Human Behaviour volume 7, p 707–717 (2023)
[2] Cohen, E. 2007. The Mind Possessed: The Cognition of Spirit Possession in an Afro-Brazilian Religious Tradition. Oxford University Press
3 Nietzsche, F. (2006). Thus spoke Zarathustra. Trans. Adrian Del Caro and Robert Pippin. New York: Cambridge University Press
[4] Cohen, E. & Barrett, J. L. Conceptualizing spirit possession: ethnographic and experimental evidence. Ethos 36, 246–267 (2008).
5 Nietzsche, F. (2006). Thus spoke Zarathustra. Trans. Adrian Del Caro and Robert Pippin. New York: Cambridge University Press
6 Ibid Cohen, E. & Barrett, J. L. 2008