Banal

Bagi Arendt, berpikir tidak sama dengan mengetahui. Mengetahui adalah kegiatan intelektual untuk mengakumulasi data dan informasi. Sedang berpikir merupakan kegiatan khas akal budi untuk menangkap, menyelami, mempertimbangkan, dan menemukan makna. Dengan demikian, ketidakberpikiran bukanlah kebodohan (Arendt, 1978) karena terkait dengan ketidakmampuan memutuskan secara tepat suatu tindakan yang akan dilakukan dengan memperhitungkan semua konsekuensinya bagi orang lain, bukan kekurangan pengetahuan, data, dan informasi. Hal ini berkaitan dengan Ide utama Arendt mengenai banalitas kejahatan merupakan suatu kondisi di mana seseorang gagal mengidentifikasi kejahatan sebagai kejahatan yang disebabkan oleh ketidakberpikirannya sehingga tindakannya menjadi dangkal atau banal (Arendt, 2006).

Percakapan[1]

–terkenang Hannah Arendt

Di bibir Leine Aku termenung. Senyumnya mengapung di pelupuk mata. Alir tenangnya telah menikamku dari depan, samping, dan belakang. Hingga Aku terbelah menjadi dua. Aku dan Diriku. Mungkin inilah kesunyian. Di kilau alirnya, satu dua percakapan mengalir perlahan. Kami berbincang tentang dua ratus enam puluh satu ribu: bom telah dijatuhkan. Sebagian meledakkan jalanan, meluluhlantakkan gedung-gedung, dan menyapu pemukiman. Sebagian terkubur bersama nurani dan kebersamaan. Di palung paling dalam.

Di wajah Leine Aku dan Diriku masih sempat berbincang tentang ruang-ruang.  Pun kekuasaan yang menyelinap dalam ideologi berbalut logika, hukum, dan manipulasi. Kami juga masih bercakap tentang kebanalan, kebohongan, konspirasi, dan teror penguasa.

Di ingar Hannover, kesunyian tetiba menjelma kesepian. Diriku telah meninggalkan Aku. Ke mana kembara: Diriku dan percakapan. Mungkinkah mereka menyelinap di sebalik lalu-lalang. Orang-orang Hannover yang tenggelam dalam balong pikiran. Mungkinkah Aku akan memahami kejahatan sebagai kelumrahan. 

Di alir Leine, alir begitu merindukan percakapan antara Aku dan Diriku.

100119-kdp


Usulkan Entri Baru

banal a dangkal, tidak memiliki keaslian atau kebaruan

banalitas n keadaan yg dangkal dan tidak memiliki kualitas baru atau menarik

banalitas kejahatan n kondisi di mana seseorang gagal mengidentifikasi kejahatan akibat ketidakberpikiran sehingga tindakannya menjadi dangkal atau banal

Ref:

Arendt, H. 1978. The Life of Mind. A Harvest Book.

Arendt, H. 2006. Eichmann In Jerusalem: A Report on the Banality of Evil. Penguin Group.

Bergen, Bernard. J. 1998. The Banality of Evil: Hannah Arendt and The Final Solution. USA: Rowman & Littlefield.

Permana dkk. 2019. Sesapa Mesra Selinting Cinta: Pertemuan Penyair Nusantara XI Kudus 2019

Leave a comment