Aku berlari dari Cipatujah
meninggalkan debur ombak
membalap air asin, dan lautan pasir
kan kutuju keramaian Legokherang
pesta tali ijuk bersama tandu
berhias tumpeng, hasil bumi, dan
tak lupa perlengkapan gembala.
ijuk, kolotok, dan cambuk
berbaur dengan orang-orang bercaping gunung,
dudukuy cetok anyaman bambu
menari-nari bersama mantra
lenggak-lenggok tayuban, hingga aku kelelahan.
Aku berlalu dan ku tuju Sindangbarang
keramaian Serentaun
mantra mengikuti, ia duduk di punggungku
hingga kepalaku ditanam
menghormat alam.
Kini bukan lagi mantra tapi orang-orang
mengikutiku.
190418-kdp
Pada sebuah penggalan jataka yang ditulis oleh Bhikku Anandajoti (2020) dan bersumber pada kitab jataka berbahasa Pali, Bodhisattwa harus menjalani karma terlahir sebagai kerbau besar yang hidup di hutan. Suatu ketika, selepas ia mencari makan di dekat sebatang pohon yang cantik, seekor turun dari pohon itu dan naik ke punggungnya. Sembari berpegangan pada tanduknya, kera tersebut membuang kotoran, lantas berayun ke bawah dengan berpegangan pada ekornya. Kerbau yang penuh dengan kesabaran, cinta kasih, dan welas asih itu tidak memedulikan semua sikap buruk si monyet. Suatu hari, sesosok makhluk dewata yang hidup di dalam pohon itu, bertanya kepadanya bagimana ia dapat bersabar atas perlakuan buruk si monyet. Kerbau itu menjawab jika dirinya tidak mampu menahan diri atas perlakuan buruk si monyet maka akan menggagalkan upayanya melatih kesabaran dan kebajikan. Kerbau itu juga mengatakan jia ia mampu menahan diri, monyet itu akan melakukan hal yang sama kepada kerbau lainnya. Jika kerbau lain tidak bersabar dan membunuh kera itu maka ia akan terbebas keburukan membunuh. Saat seekor kerbau lain yang liar dan ganas datang ke tempat dimana si monyet kerap mengganggu, si monyet segera naik ke atas punggung kerbau dan melakukan hal yang sama. Kerbau itu menggoyang-goyang tubuhnya hingga si monyet jatuh, si kerbau bersegera menusukkan tanduknya pada ulu hati si kera, lantas menginjaknya hingga si monyet menemui ajalnya[1]. Konon, kisah tersebut diabadikan oleh pemerintah kerajaan Medang (Mataram Kuno) pada relief candi Borobudur.
Selain candi Borobudur, relief ke-18 candi Sojiwan juga menggambarkan kerbau atau banteng[2], Cerita yang dipahatkan pada relief kedua candi tersebut setidaknya menyiratkan dua hal penting, yakni relief dan cerita jataka menggambarkan pengajaran agama dan moral masyarakat Jawa Kunomasa kerajaan Medang dan menunjukkan bahwa nenek moyang orang Jawa telah akrab dengan beragam binatang, salah satunya adalah kerbau yang sering dimanfaatkan tenaganya untuk membajak sawah. Selain membajak sawah, binatang ini akrab di telinga masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah, karena memiliki cerita unik bersama Syeh Jangkung, tokoh pendakwah Islam yang terkenal dalam tradisi masyarakat Jawa tempo dulu selain Wali Songo. Syeh Jangkung memiliki nama lain, yakni Saridin. Nama ini diperkirakan lahir dari lidah “medhok” orang Jawa yang sulit mengucapkan Syarifuddin yang merupakan nama asli Syeh Jangkung. Masyarakat Pati percaya bahwa Syeh Jangkung dimakamkan di Dusun Landoh Desa Kayen Kecamatan Kayen Kabupaten Pati Jawa Tengah[3].
Kisah Syeh Jangkung yang paling mashur adalah kisah “landoh”. Konon, saat Syeh Jangkung mengembara di pesisir Jawa untuk mencari tempat menghabiskan masa tua sambil bertani, ia bertemu tujuh orang yang sedang membangun rumah di Desa Loce. Ia lantas bertanya dimana kediaman orang yang menjual kerbau untuk ia jadikan pembajak sawah. Satu diantara tujuh orang mengajaknya ke rumah untuk diberi satu ekor kerbau besar karena orang itu yakin sang syeh tidak akan mampu membayar. Sesampainya di lokasi, Syeh Jangkung mendapati bangkai kerbau yang baru saja mati. Para warga tertawa karena karena berhasil memperdaya Syeh Jangkung. Namun demikian, Syeh Jangkung tersenyum dan menunaikan salat hajad dan berdoa meminta kerbau dihidupkan lagi oleh Allah SWT. Seketika kerbau tersebut bangkit dari kematian. Kerbau tersebut memiliki tanduk melengkung ke bawah dan dinamai “landoh”. Kata “landoh” dalam bahasa Jawa berarti “landai atau rendah”. Setelah sekian lama dan Syeh Jangkung wafat, kerbau landoh disembelih seperti wasiat Syeh Jangkung sebelum wafat, “lulang”atau ‘kulit’ kerbau tersebut tidak boleh dibuang. Kulit kerbau landoh tersebut, di kemudian hari, menjadi sakral dan digunakan sebagian masyarakat Jawa yang menggunakan sebagai jimat/azimat kekebalan.
Tak ubahnya masyarakat Jawa, masyarakat Sunda juga akrab dengan binatang kerbau. Tradisi “mikanyaah munding” atau ‘menyayangi kerbau’ yang merupakan tradisi selamatan anak kerbau ketika masih berusia satu sampai dengan tujuh hari merupakan simbolisasi rasa sayang pemilik kerbau terhadap binatang peliharaannya yang dilakukan oleh masyarakat Sunda. Selamatan tersebut juga dilakukan ketika anak kerbau memasuki usia 40 hari. Sebelum usia anak kerbau menginjak 40 hari, warga desa Cikeusal, Tasikmalaya pantang mempekerjakan anak kerbau dan induknya agar induk kerbau bisa tetap bersama anaknya hingga cukup umur[4]. Tradisi ini tidak jauh berbeda dengan tradisi selamatan bagi bayi yang baru lahir. Pada upacara selamatan tersebut, biasanya dibacakan barjanji atau syiiran, yakni lantunan selawat dan sejarah Nabi Muhammad s.a.w. yang diiringi oleh musik terebang (rebana) atau seni terebang. Selawat, puji-pujian dan marhabaan serta syair-syair keagamaan atau pembacaan wawacan “Sekh Abdul Qodir Jaelani”[5] turut dilantunkan dalam acara tersebut.
Selain menyayangi kerbau, masyarakat Sunda juga mengadakan Balap Munding, perlombaan pacuan kerbau yang diiringi oleh beberapa alat musik khas Sunda seperti iringan angklung, dogdog, kendang, serta goong[6] yang diselenggarakan di Desa Cipatujah, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya. Tradisi ini juga menggambarkan kedekatan masyarakat petani dengan binatang kerbau sekaligus merupakan pewarisan tradisi leluhur masyarakat petani di Jawa Barat. Kerbau begitu dihormati, penamaan munding ini, konon, merupakan penghormatan kepada seorang pangeran yang berjasa memperkenalkan cara bertani. Konon, para pangeran dan bangsawan di Sunda zaman dahulu mendapatkan gelar dengan mengacu pada sebutan maesa lalean dan mundingsari.[7]
Usulkan Entri Baru
kebo nusu gudel pb Jw orang tua mengikuti keinginan anak muda
Tantangan Literasi Era Digital dan Peribahasa “Kebo
kerbau bulai n kerbau berkulit putih karena kekurangan pigmen
Jadi saya berkewajiban utk meralat kesalahan itu . 460686
kerbau bule yang 20 ekor yang notabene berbeda warna saja itu , bisa
kerbau merah n …
Rombongan Kerbau Merah dijamu oleh H . Djanalis Djanaid , pengurus Keluarga Minang Sehati
kerbau landoh n Jw jimat berupa kulit kerbau yg konon dapat membuat pemiliknya kebal senjata tajam
kerbau rawa n kerbau domestik yg digembalakan di rawa, memiliki tanduk panjang dan kulit berwarna abu-abu kecokelatan; kerbau air
kerbau darat n kerbau domestik yg dikandangkan di darat tetapi dekat dengan lingkungan berlumpur; kerbau lumpur; Bubalus bubalis
kerbau Afrika n kerbau liar endemik benua Afrika; Syncerus caffer
https://animaldiversity.org/accounts/Syncerus_caffer/
kerbau Sumbawa n …; Bubalus bubalis sumbawa
kerbau Moa n …; Bubalus bubalis moa
kerbau Kalimantan Timur n …; Bubalus bubalis kalimantan timur
kerbau Kalimantan Selatan n …; Bubalus bubalis kalimantan selatan
kerbau Toraya n …; Bubalus bubalis toraya
kerbau Murrah n …; Bubalus bubalis murrah
kerbau Pampangan n …; Bubalus bubalis pampangan
kerbau Simeulue n …; Bubalus bubalis simeulue
kerbau Kuntu n …; Bubalus bubalis kuntu
kerbau Gayo n …; Bubalus bubalis gayo
sumber: https://peraturan.bpk.go.id/Download/155037/Kepmentan%20Nomor%20104%20Tahun%202020.pdf
[1] Bhikku. 2020. Jataka Cerita Kelahiran Lampau Buddha. Jakarta: Ehipassiko Foundation ISBN 9786237449010.
[2] Cahyono, Nugroho Heri dkk. 2023. Kajian Ikonology Relief Pancatantra Candi Sojiwan Sebuah Dimensi Multikultur dalam Jurnal Seni RUpa Warna JSRW Vol. 11 No. 2 (2023): Konvergensi: Seni dan Teknologi DOI: https://doi.org/10.36806/jsrw.v11i2.172
[3] https://aswajanews.isnuponorogo.org/2023/12/07/syeh-jangkung-kebo-landoh-dan-desa-landoh/
[4] Gunardi, Gugun dan Ampera, Taufik. “Budaya Mikanyaah Munding dan Terbang Gebes” dalam Metahumaniora Vol 7 Nomor 1 April 2017 Halaman 111—118
[5] Gunardi, Gugun dan Ampera, Taufik. “Budaya Mikanyaah Munding dan Terbang Gebes” dalam METAHUMANIORA Vol 7 Nomor 1 April 2017 Halaman 111—118
[6] Azmi, Megawati Nurul. 2016. Karawitan dalam pertunjukan Balap Munding di Desa Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya. Skripsi. Bandung: ISBI Bandung
[7] Mawardi, Bandung. 2011. Kerbau dalam peradaban Jawa. Retrieved from https://kolom.solopos.com/kerbau-dalam-peradaban-jawa-100266