Hujan I
Nampaknya hujan segera membasahi malammu
kursi panjang bercengkerama dengan kerlip lampu
jauh di seberang bukit pucuk tusam tengah bernyanyi
seperti biasa bersama anggrek tebu menghibur diri
kursi bambu dan beranda adalah singgasana percintaan
ia pula persinggahan diam, sesekali menggeretak harapan
seperti biasa tepisan angin melaju pelan ke timur bukit
turun membelai lembah, bersama kisah indah teranggit
Cibeunying Kaler dan Cimenyan, aku yakin telah basah
hujan segera datang dan tanda alam tiada mengacah
nafas dan benakku serasa tinggal di berandamu
bersama harum limus di penghujung September lalu
malam ini tetes hujan menyentuh tanah
di sini aku kan slalu rindukan rumah
300917-kdp
Ralph Waldo Emerson sangat mengagumi hujan sebagaimana ia memandang hujan sebagai limpahan keindahan dan cinta bagi manusia. Sebagian besar penghuni bumi sepakat tentang hal ini tetapi kesepakatan ini tak lebih dari dua sisi mata uang yang menghadap ke arah yang berkebalikan. Di satu sisi mereka percaya hujan adalah berkah, di sisi lain mereka juga hujan dengan ketidakpastian. Dalam beberapa budaya, manusia merindukan dan mengusahakan kedatangan hujan sekaligus berupaya menolak atau mengalihkan hujan.
Kemana pun salju akan luruh, atau air akan mengalir, atau burung-burung mengerawang, kapan pun siang dan malam bertemu di senjakala, di mana pun langit biru digelayuti awan, atau ditaburi gemintang, di mana pun wujud-wujud dengan batas-batas yang tak kasat mata, dimana pun terbentang jalan setapak menuju angkasa, di mana pun terdapat marabahaya, dan berkah, juga cinta, di sana ada keindahan, yang berlimpah seperti hujan, yang dicurahkan bagimu[1]
Keberadaan hujan merupakan berkah sekaligus masalah dalam sistem sosial-ekologi manusia di berbagai belahan dunia. Terlampau banyak atau terlalu sedikit hujan pada waktu-waktu tertentu dapat merusak tanaman, memaksa manusia melakukan perpindahan, juga memegaruhi ternak dan populasi satwa liar, meningkatkan potensi kebakaran hutan, penularan penyakit, dan lain-lain[2].
Meski manusia dapat berupaya mengantisipasi dan mengambil tindakan agar terhindar dari ancaman, ketidakpastian senantiasa mengintai. Salah satu tindakan manusia adalah ritual hujan yang menurut kacamata antropologi ekologis dapat dilihat sebagai adaptasi manusia untuk menghadapi ketidakpastian variabilitas curah hujan[3].
Demikian pula masyarakat Jawa, ritual hujan masih kerap dilakukan saat bulan Dulkaidah dan Besar, bulan yang diyakini baik untuk menyelenggarakan hajatan pernikahan atau hajatan mengundang massa yang lain. Ritual hujan ala Jawa menggunakan ritual tertentu, juga sapu lidi dan bawang merah serta cabai. Ritual ini dapat dipandang sebagai adaptasi manusia Jawa terhadap ketidakpastian cuaca. Sapu lidi didirikan terbalik di luar rumah dan ujung sapu lidi tersebut ditusukkan cabai dan bawang merah. Setelah sapu lidi sudah terpasang, seorang tetua melafalkan mantra.
Niat ingsun ora ngadekaké sapu biasa/Nanging sapu jagat kanggo ngresiki mendhung/Udan lan angin saka paran …/Diguwak menyang paran …./Sawetara wektu … ndina/Saking kersaning Allah taala
Niat hamba bukan sekedar mendirikan sapu biasa/Tetapi sapu jagad yang mampu membersihkan mendung/Hujan dan angin di wilayah nama daerah/Dipindahkan ke daerah …/Untuk jangka waktu … hari/Semoga Allah mengabulkan
Kelompok masyarakat yang lain menggunakan sesaji sebagai perantara atau pendorong doa pada saat mantera di ucapkan. Sesaji-sesaji yang digunakan untuk upacara tolak hujan diantaranya adalah, gedhang setangkep, kopi kenthel, gecok bakal, sada lanang, jajan pasar, pala pendhem, kembang setaman dan menyan madu. Sementara kelompok yang berbeda, membaca doa yang berbunyi Allahumma hawalayna wa la ‘alayna, Allahumma alal akami wad thirobi, wa buthunil audiyyati wa manabitis syajari (“Ya Allah turunkanlah hujan di sekitar kami, dan jangan turunkan kepada kami untuk merusak kami. Ya Allah turunkanlah hujan di dataran tinggi, beberapa anak bukit, perut lembah dan beberapa tanah yang menumbuhkan pepohonan’).
Pada kesempatan berbeda, manusia melaksanakan ritual hujan berupa doa agar hujan turun. Masyarakat Dukuh Partopo, Situbondo melantunkan tembang Pamoji, yakni permintaan seorang hamba kepada Tuhannya.
Bismillahirrahmanirrahim/Tembang pamoji kaule/Pamojina socce kalaben ate se pote/Kaangghuy ngadep ajunan Gusti/Moge-moge karadduwe parnyo’onan banpartobeden/Son nak poto abibiden Nabi Adam/Wekasane Nabi Muhammad/Sengkok jenneng Alif,/Alif igu popocogi/Sang pangocap sapa liwepa/Sengko’ makhlukka Allah/Mandhi… mandhi… mandhi…Diye…Tekka… tekka… tekka…[4]
Begitulah manusia, makhluk yang senantiasa beradaptasi dengan lingkungan ekologisnya.
Usulkan Entri Baru
hujan monyet n hujan poyan
hujan tokek n hujan poyan
hujan konvektif n hujan yg terjadi karena adanya perbedaan panas antara lapisan udara dan permukaan tanah, semakin panas atmosfer udara dng suhu tinggi akan berubah menjadi udara dingin dan uap air mengembun, membentuk awan kumulus yg jatuh sebagai hujan
hujan orografis n hujan yg terjadi ketika udara lembap dipaksa naik oleh pegunungan atau dataran tinggi
hujan muson n hujan musiman yg disebabkan oleh angin muson dan mengakibatkan terjadinya musim kemarau
hujan siklon n hujan yg terjadi karena suhu permukaan bumi tidak stabil sehingga menjadi lembap dan diikuti angin yg berputar ke atas
hujan buatan n hujan hasil rekayasa manusia dng cara pembentukan awan air , biasanya dilakukan untuk menanggulangi kekeringan dan kebakaran hutan
hujan tanah n hujan yg terjadi di lautan berupa campuran air dan material tanah yg terbawa angin
beberapa laporan menyebutkan bahwa sebagian penghuni pantai laut mengalami turunnya
hujan tanah , dan kadang-kadang hujan ikan yang diturunkan bersama air hujan .
hujan deras n hujan lebat
hujan deras menembus dengan kecepatan yang tak bisa ditebak manusia
24815 Sudah
hujan lebat n hujan dng intensitas paling rendah lima puluh milimeter per dua puluh empat jam dan atau dua puluh milimeter per jam
https://www.bmkg.go.id/cuaca/probabilistik-curah-hujan.bmkg
hujan sedang n hujan dng intensitas lima puluh sampai dengan seratus milimeter per dua puluh empat jam
https://www.bmkg.go.id/cuaca/probabilistik-curah-hujan.bmkg
hujan ringan n hujan dng intensitas dua puluh hingga lima puluh milimeter per dua puluh empat jam
https://www.bmkg.go.id/cuaca/probabilistik-curah-hujan.bmkg
namun karena wilayahnya lebih rendah dengan sungai hujan ringanpun air masuk kerumahnya
hujan ekstrim n perpaduan hujan lebat dan hujan es
Hujan ekstrem di Kota Semarang yang berlangsung lebih dari empat jam
hujan es n hujan yg berbentuk butiran es yg memiliki garis tengah paling rendah 5 (lima) milimeter (mm) dan berasal dari awan Cumulonimbus
hujan ekuatorial n hujan yg terjadi di wilayah yg memiliki dua puncak musim hujan, biasanya terjadi sekitar bulan Maret dan Oktober.
https://news.detik.com/berita/d-7135642/3-tipe-pola-hujan-di-indonesia-simak-penjelasan-bmkg
hujan durian n ki mendapatkan banyak keberuntungan
sebuah pelajaran bahwa hujan durian di negeri tetangga yang tak seindah hujan air di negeri sendiri
[1] Ralph Waldo Emerson (2003). “Nature and Other Writings”, p.177, Shambhala Publications
[2] Niang, I., O.C. Ruppel, M.A. Abdrabo, A. Essel, C. Lennard, J. Padgham, and P. Urquhart. 2014 “Africa,” in Climate Change 2014: Impacts, adaptation, and vulnerability. Part B: Regional aspects. Contribution of Working Group II to the Fifth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Edited by V.R. Barros, C.B. Field, D.J. Dokken, M.D. Mastrandrea, K.J. Mach, T.E. Bilir, M. Chatterjee, K.L. Ebi, Y.O. Estrada, R.C. Genova, B. Girma, E.S. Kissel, A.N. Levy, S. MacCracken, P.R. Mastrandrea, and L.L. White, pp. 1199-1265. Cambridge, United Kingdom: Cambridge University Press.
[3] Hannaford, M.J., and D.J. Nash 2016 Climate, history, society over the last millennium in southeast Africa. Wiley Interdisciplinary Reviews: Climate Change 7(3):370-392. https://doi.org/10.1002/ wcc.389
[4] Maknuna, Laksari L., et al. “Mantra dalam Tradisi Pemanggil Hujan di Situbondo: Kajian Struktur, Formula, dan Fungsi.” Publika Budaya, vol. 1, no. 1, Nov. 2013.