Harveys Brewery
–terkenang Adeline Virginia Woolf
Lihatlah kita di lindung langit indah
dan sejuk tanah mengelilingi
Seperti Lewes yang menelusup di celah South Downs,
mengayun langkah hingga tepian Ouse,
Batang cerlang, di keningnya wajah kita terhampar
disapu angin menuju timur,
hingga menghantam tebing kapur
tinggi menjulang.
Kau tahu, musim terus berganti,
dan benih itu tumbuh
sangat dalam di galih kita
membawa kita ke muasal yang tak kita ketahui
Menyerupai bebutir anggur, meranum di Nassau Valley Vineyards
yang perlahan matang dari kedalaman inti
menjalar ke luar hingga kulit ari.
Terkadang kita seperti meneguk secawan air Harveys Brewery
kita tempuh jarak yang sangat jauh di dalam diri kita,
menuju kedekatan dua hati
Mungkin memang benar tukasmu di hari lalu,
kerinduan selalu mendekap rahasianya sendiri
terkadang acuh kepada kehendak kita
Hingga cukuplah seteguk lagi
dan kita tak sadarkan diri.
230818-kdp
Seorang wanita bertelanjang dada tengah menuangkan minuman dari sebuah wadah, menyerupai porong[1], yang ia pegang dengan kedua tangan ke arah wadah, menyerupai cangkir, yang dipegang oleh seorang pria yang duduk di balai-balai. Sang pria memegang cangkir dan terlihat menunggu tumpahan air dari porong si wanita. Di belakang pria duduk seorang wanita yang turut memerhatikan adegan itu. Duduk di tanah, dua orang tengah menikmati minuman mereka. Di sisi kanan, seorang pria bersimpuh di samping seorang wanita yang terlihat sedang menari, tangan kanan sang pria memegang lutut si wanita dan tangan kirinya seolah tengah menggapai-gapai “sesuatu”.
Gambaran di atas adalah gambaran visual atas salah satu relief yang terdapat pada candi Borobudur yang kemudian ditafsirkan oleh beberapa ahli sebagai adegan minum-minuman keras. Tafsir mengenai persentuhan orang Jawa Kuno dan minuman beralkohol tersebut tentu didasari oleh beberapa temuan pendahulu. Beberapa prasasti kerajaan Medang menyebutkan orang-orang Jawa Kuno mengenal minuman beralkohol seperti sura, waragang, sajeng, arak atau awis, tuak, minu, jatirasa, madya, masawa atau mastawa, tampo. siddhu, pana, sajeng, cinca, duh ni nyu, juruh, brem, budur, badyag atau badeg, dan kinca[2]. Titi Surti Nastiti, putri sastrawan nasional Ajip Rosidi sekaligus arkeolog di Pusat Arkeologi Nasional, menyebutkan minuman beralkohol dan tak beralkohol disajikan dalam prasasti penetapan sima, tanah perdikan atau tanah bebas pajak pada penutup acara, pada acara makan bersama yg menjadi acara pamungkas. Prasasti Watukura (902 M) menyebutkan mastawa, pana, siddhu, cinca, dan tuak. Prasasti Rukam (907 M) Prasasti Lintakan (919 M) dan Prasasti Paradah (943 M) menyebut tuak, cinca, dan siddhu. Prasasti Sanguran (928 M) menyebutkan siddhu dan cinca. Terakhir, prasasti Alasantan (939 M) menyebutkan tuak dan siddhu.[3]
Selain catatan yang diperoleh dari prasasti, Kakawin Ramayana juga menyebutkan konsumsi tuak, siddhu, brem, mastawa, dan pana dalam acara kerajaan Jawa. Kakawin Sutasuma menyebutkan tuak biasa dihidangkan untuk menyambut tamu agung pada masa Majapahit. Selain itu, Serat Pararaton (1478-1486) menyebutkan raja Kertanegara selalu gemar minum sajen atau tuak. Bahkan, sang Raja tengah mabuk-mabukan ketika pasukan Jayakatwang menyerang istana. Ketika diberitahu ada serangan musuh, sang Raja yang masih melayang” tidak percaya dan akhirnya sang raja terbunuh[4]. Namun demikian, catatan tertua mengenai persentuhan masyarakat Jawa dengan minuman memabukkan terdapat pada catatan sejarah lama Dinasti Tang (618-907) yang memuat berita pembuatan minuman memabukkan di kerajaan Ho-Ling yang berada di timur Sumatera dan barat Bali. Beberapa ahli arkeologi seperti Ery Sadeo, meyakini minuman olahan tersebut adalah tuak kelapa yang diolah dari nira kelapa[5]
Persentuhan masyarakat Jawa Kuno dengan minuman beralkohol ini berlanjut hingga zaman modern. Minuman congyang, tiga dewa, menjadi kegemaran anak-anak muda Semarang dan sekitarnya, minuman ciu Bekonang melegenda di kalangan anak-anak muda di Solo Raya, brangkal dapat ditemui di wilayah pantai utara Jawa seperti Tegal dan Brebes. Ciu Banyumas yang diproduksi di Wangon menjadi pilihan nak muda di Banyumas Raya karena fermentasi gula merah, tape singkong serta air, berbeda dengan ciu Bekonang. Ciu gedhang klutuk populer di Klaten
Terlepas dari data konsumsi miras di Jawa Tengah yang tercatat dalam Riskesdas 2018, bir 38%, anggur/arak 38,8%, Wiski 4,5%, miras tradisional keruh 4,1%, miras tradisional bening 4,3%, miras oplosan 6,6%, dan lainnya 3,7%[6], persentuhan manusia dan minuman memabukkan ini sebenarnya telah menjadi buah bibir sejak zaman dahulu. Ternyata bukan sekadar bangsa terkoloni Asia Afrika yang meniru budaya bangsa pengoloni Eropa yang terbiasa dengan musim dingin sehingga membutuhkan minuman “penghangat”. Bukan pula sekadar persuaan antarbangsa yang menjadikan budaya konsumsi minuman keras ditiru oleh bangsa lain, seperti pertemuan antara bangsa Mongol dan bangsa Ho-Ling. Seorang filsuf dan penulis Prancis dari abad ke-16, Michel de Montaigne dalam esainya yang berjudul “Of Drunkenness“, menulis tentang efek alkohol pada pikiran dan tubuh manusia yang dapat yang dapat dilihat dari cara pandang filosofis. Ia berpendapat bahwa mabuk dapat membantu seseorang melihat dunia dengan sudut pandang yang berbeda yang memungkinkan eksplorasi yang lebih bebas dan lebih jujur terhadap pikiran dan perasaan seseorang. Tentu saja, pendapat yang disampaikan oleh filsuf yang gemar mabuk atau “filsuf alkohol” ini telah dan dapat diadopsi oleh seseorang atau beberapa orang dalam berpikir, dan juga menulis. Dengan menikmati segelas anggur atau ciu Bekonang, seseorang percaya dapat melucuti batasan pikiran dan memungkinkan pemikiran yang lebih kreatif, kilah mereka.
Michel de Montaigne tidak sendiri, filsuf penyuka alkohol lain, Karl Marx dan Georg Wilhelm Friedrich Hegel, Charles Baudelaire, Walter Benjamin dan Aldous Huxley kerap mengintegrasikan pengalaman mereka dengan minuman keras ke dalam filosofi mereka. Hampir semua dari mereka, termasuk Plato, memandang mabuk tak lebih dari sekadar upaya untuk memperluas batas-batas pikiran yang sadar. Sedang pemikir modern, Friedrich Nietzsche, menambahkan gagasan hubungan manusia dengan potensi kegembiraannya. Nietzsche mengaitkan kemabukan dengan dewa anggur Yunani, kemabukan dengan kegilaan, kegembiraan, keliaran, dan tanpa batasan. Nietzsche menekankan hasrat kuat untuk hidup tanpa kekangan norma-norma sosial yang dikenal sebagai semangat Dionysia[7], semangat kemabukan sebagai sumber inspirasi dan pencerahan.
Charles Baudelaire berpendapat bahwa mabuk-mabukan adalah cara untuk membawa kesenangan ke dalam hidup dan membawa kegembiraan, keindahan, dan kegembiraan yang dapat menghasilkan cara berpikir, ide-ide, dan kreativitas baru. Dia juga berpendapat bahwa mabuk bisa menjadi cara untuk menjelajahi kedalaman ketidaksadaran dan dapat membantu orang untuk mencapai tingkat spiritualitas yang lebih tinggi. Terakhir ini, menyerupai kisah raja Kertanegara di Jawa.
Pandangan Walter Benjamin tentang kemabukan mirip dengan gagasan Charles Baudelaire meski ia menambahkan gagasan kehati-hatian karena kemabukan dapat memicu satu bentuk pelarian sekaligus perilaku merusak diri. Aldous Huxley berpendapat bahwa kemabukan dapat meningkatkan kreativitas, wawasan, dan kesadaran diri manusia hingga mencapai pemahaman yang lebih besar tentang aspek spiritual kehidupan. Apapun itu, gagasan tentang kebahagiaan dan pelucutan belenggu “gaib dan nyata”, termasuk di dalamnya belenggu norma sosial, mungkin menjadi alasan utama produksi, distribusi, dan konsumsi “ciu-ciuan” di Jawa. Satu hal yang pasti, menurut Slamet Muljana, minuman keras masuk ke dalam “Puncak Kemegahan” menjadi Jina yang dilakukan oleh raja Kertanegara yang diyakini telah menguasai kekuatan gaib sekaligus kerajaan nyata sehingga ia berada pada sebuah tingkatan hidup tak lagi memiliki larangan dan dapat melakukan pancamakara, ma lima, yakni madat, madon, main, minum, dan maling. Para peserta kemabukan boleh jadi telah memiliki jalan pikir seperti sang raja. Wallahu a’lam!
Disclaimer: Jauhilah arak, sebab ia merupakan induk segala hal yang kotor
Usulkan Entri Baru
brangkal n Jw merupakan minuman hasil fermentasi dari bahan tetes tebu
ciu Bekonang n Jw minuman keras hasil penyulingan tetes tebu yang telah difermentasi, memiliki kandungan alkohol 35–90 persen
ciu Banyumas n Jw minuman keras hasil fermentasi gula merah, tape singkong serta air, memiliki kadar alkohol berkisar antara 20–50 persen
ciu gedang klutuk n Jw minuman beralkohol hasil fermentasi pisang klutuk
congyang n Jw minuman keras hasil fermentasi beras dan gula pasir, sepirit, perisa kopi moka, pewarna makanan, yang dilengkapi dengan beberapa kandungan lain dan tergolong dalam alkohol tipe b
miras oplosan n minuman keras hasil campuran beberapa jenis minuman
miras bening n minuman suling
miras keruh n minuman tak suling
porong n Jw wadah minuman; teko
sumber: porong (pOrOG) : I …. II kn: bngs. teko, nyo, kan (dianggo gawe wedang tèh). III kn: klèmbrèhing sampur kang diubêdake ing bangkekan. Sumber: Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939, #75.
[1] wadah air minum seperti teh, kopi, dsb
[2] Titi Surti Nastiti. 1989. “Minuman Pada Masa Jawa Kuno,” Proceedings Pertemuan Ilmiah Arkeologi V, Yogyakarta, 4-7 Juli 1989
[3] Ibid, p 86
[4] Irawati, Dahlia. 2021. “Kisah Panjang Minuman Lokal Nusantara”. dalam kompas.id 3 April 2021
[5] Putri, Risa Herdahita. 2019. “Mabuk Saat Berpesta dan Berdoa”. dalam Historia 24 September 2019
[6] https://dinkesjatengprov.go.id/v2018/storage/2019/12/CETAK-LAPORAN-RISKESDAS-JATENG-2018-ACC-PIMRED.pdf
[7] Istilah ini diadopsi dari surat Nietzsche kepada Dionysus atau “yang Tersalib”