Lupa Ingat

Sebagian besar orang mempertentangkan dua kata, ingat dan lupa, bahkan mereka yang mempelajari strukturalisme atau pascastrukturalisme menyebutnya sebagai oposisi biner (binary opposition), bertelingkah atau beradu kening. Sebagian besar orang sangat memuja pentingnya ingatan, tetapi mengabaikan makna perihal lupa atau kelupaan . Dalam filsafat barat, posisi ingatan lebih tinggi daripada “kelupaan”. Pun dalam pemikiran Jawa, kita sering mendengar ucapan orang-orang sepuh “sak begja-begjaning kang lali, luwih begja kang eling lan waspada!” yang diambil dari Serat Kalatida karya Raden Ngabehi Rangga Warsita. Di dalam pepatah Kalatida tersebut, lali dan eling diperbandingkan tetapi eling (ingat)lah yang menjadi pemenang. Hampir sama dengan filsafat Konfusianisme yang menekankan pada subjek ingatan. Namun demikian, Taoisme Zhuangzi justru menekankan  “kelupaan” lebih penting dari pada ingatan. Lupa menurut Zhuangzi dapat diringkas dalam empat kategori, yakni melupakan hal-hal material, melupakan pengetahuan, melupakan moralitas, dan melupakan diri sendiri. Melupakan hal-hal materi bermakna menyingkirkan batasan materi; melupakan moralitas bermakna membebaskan diri dari hubungan sosial; melupakan pengetahuan bermakna membuang kecenderungan analitis; dan melupakan diri sendiri bermakna melepaskan diri dari sensasi.

Pada belahan bumi lain, Friedrich Nietzsche (dalam Untimely Meditation) percaya bahwa melupakan secara aktif adalah kekuatan yang membantu orang mendapatkan kebahagiaan dan kejernihan mental, sementara terlalu banyak mengingat dapat melumpuhkan. Ia memandang lupa sebagai penjaga ketertiban mental sekaligus merupakan periode istirahat. Ia juga percaya bahwa melupakan memungkinkan orang untuk memberi ruang bagi ide-ide dan fungsi baru. Maka oposisi atau pertelingkahan antara lupa dan ingat ini menjadi samar karena terkadang manusia melupakan tetapi justeru malah ingat atau mengingat justeru malah lupa. Namun jika ingatan yang terlampau kuat dan malah menjadikan kita lupa maka itu akan melumpuhkan.

MÜrz[1]

tubuhku telentang di licin punggung bebatu, Műrursprung

basah kecipak airmu turun

di lembah terasing

di parit Lungau, ulu hati Salzburg.

di deras arusmu, tubuhku hanyut dalam hangat peluk

bak gadis kecil berhujan ciuman

ia yang kuserahkan kepadamu, sepenuhnya

tubuhku di kedalamanmu,

tubuh yang timbul tenggelam: dalam keindahan

ia yang engkau ajak menari di tepian

romantisme Frohnleiten

berangsur menarikku pelan, nikmati kemegahan Graz

bersanding keagungan: AltStadt

menyeruak di sela deru nafasmu

berangsur memburu tubuh yang kaku, seperti Glockenspiel

dan pelukmu membara di beringas wajah-wajah Schlossberg

meliat seperti bangunan tua: Kunsthaus dan Murinsel.

hingga kita turuni lembut Slovenia

seketika melompat gegas

hingga kita berteriak kuat

di basah Legrad, Croatia.

derumu berangsur melembut di tengah arus: kehangatan

tak jua mampu ku beringsut

dari tubuh berlumpur, penyayang.

Műrz, aku tak lagi berpikir tentang muara

aku tak jua membayang tentang samudera

kemana gerangan tubuh ini engkau bawa

sesungguhnya, terserah dirimu semata.

1200508-kdp


[1] Pernah dimuat di dalam Swarasastra, Suara Merdeka

pas.ca.struk.tu.ral.is.me /pascastrukturalismê/

⇢ Tesaurus

n paham yang beranggapan bahwa tidak semua hal dalam kehidupan manusia memiliki struktur dan dapat dijelaskan unsur-unsurnya

Usulkan definisi baru
n gerakan atau teori (seperti dekonstruksi) yang memandang premis deskriptif strukturalisme sebagai sesuatu yang bertentangan dengan ketergantungan pada konsep-konsep pinjaman atau istilah-istilah dan kategori-kategori diferensial dan melihat inkuiri sebagai sesuatu yang tidak terelakkan yang dibentuk oleh praktik-praktik diskursif dan interpretatif

Leave a comment