Liyan

“Kalian kampret, kalian kecebong, kalian termul”, menggambarkan proses tak kasat mata di mana identitas diri (self) dibangun secara relasional dengan mendefinisikan orang lain sebagai “liyan” (other). Meliyankan orang lain (othering) berfungsi sebagai mekanisme kekuasaan dan pengetahuan, mewajarkan perbedaan hierarkis serta mengubah konstruksi sosial menjadi kebenaran ontologis. Sistem dominasi diri atas liyan tersebut melibatkan gender, ras, kelas, dan identitas budaya kompleks lainnya yang berkaitan dengan “dialektika pengakuan” Hegel (Hegel’s dialectic of recognition). Hegel menjelaskan bahwa kesadaran diri muncul hanya ketika sesorang bertemu dengan kesadaran diri liyan dan mereka berebut mencari pengakuan. Oleh karena itu, struktur identitas “diri” bergantung pada perbedaan dengan liyan (other), yakni “Aku seperti ini” berarti: “Aku bukan kamu.” Hal ini didorong oleh kebutuhan dasar manusia, yakni dorongan ontologis, manusia membutuhkan pembeda untuk memahami siapa mereka. Sesosok “diri” tidak dapat bertahan dalam kekosongan, ia hanya dapat mendefinisikan dirinya sendiri terhadap sesuatu yang lain. Namun demikian —pada praktiknya— pembeda dan pembedaan tersebut dengan mudah berubah menjadi hierarki, kita mengangkat diri, dan merendahkan orang lain.

Definisi atas diri (self) juga dikemukakan oleh Simone de Beauvoir, perempuan secara historis telah ditempatkan sebagai “Yang Lain atau Liyan” bagi laki-laki—sebagai pasangan yang tidak esensial bagi subjek diri (self) laki-laki yang mengklaim keuniversalan (Beauvoir 1949). Konsep peliyanan (othering) ini juga muncul dalam ranah pascakolonial. Dalam pandangan orientalisme, Edward Said (1978) menunjukkan bagaimana “timur” diproduksi melalui diskursus “barat” sebagai kelompok berbeda yang tidak rasional, terbelakang, dan eksotis, sehingga melegitimasi dominasi imperial barat. Frantz Fanon (1952) lebih lanjut mengungkap kekerasan psikis dari proses peliyanan ini, yakni subjek yang dijajah menyerap pandangan penjajah, sehingga terasing dari dirinya sendiri. Liyan (the other) tidak hanya dikecualikan; ia dibangun sebagai pantulan dari keunggulan diri (the self). Bagi pemikir seperti Michel Foucault dan Judith Butler, proses peliyanan berlangsung melalui diskursus yang terinstitusionalisasi yang mendefinisikan apa yang “normal,” “sehat,” atau “dapat dimengerti,” sehingga menghasilkan kelompok terpinggirkan sebagai “penyimpang“ atau yang “hina” dalam rezim kebenaran (Foucault 1977; Butler 1990).

Jika Hegel meyakini kebutuhan subjek manusia untuk mendefinisikan dan mengesampingkan liyan demi mengunggulkan diri muncul dari kebutuhan mendapat pengakuan dari orang lain, maka Lacan (1949) berpendapat jika dorongan untuk mengasingkan liyan berasal dari kecemasan dan ketidakpepakan. Ia berpendapat bahwa ego terbentuk melalui citra eksternal—tahap cermin—menunjukkan bahwa subjektivitas selalu dimediasi dan rapuh. Kehadiran liyan berpotensi akan mengukuhkan atau mengguncang diri, mengungkap ilusi otonomi. Sartre (1943) mengungkap pengucilan terhadap liyan berfungsi secara psikologis sebagai mekanisme pertahanan: cara untuk mempertahankan citra diri yang stabil dengan memproyeksikan ketakutan, ambiguitas, atau kekurangan ke pihak lain.

Mekanisme pertahanan ala Sartre ini berkaitan dengan fungsi persatuan dan kontrol sosial. Setiap kelompok sosial membutuhkan batas untuk menciptakan makna, solidaritas, dan ketertiban bersama sehingga mereka menciptakan “kekitaan” yang mengimplikasikan “kemerekaan” yang dapat tercermin dalam agama, bangsa, gender, kelas sosial, dan lain-lain. Dengan menghadirkan liyan sebagai kelompok inferior, masyarakat akan membenarkan otoritas dan hierarki mereka sebagaimana diskursus timur dan barat ala Edward Said (1978). Pada akhirnya, pembeda, perbedaan, dan pembedaan secara berangsur-angsur akan berubah menjadi ketidaksetaraan. Dengan kata lain, liyan diciptakan untuk mendukung ketidaksetaraan dan dominasi.

Definisi peliyanan di dalam kamus kita sementara ini masih diacukan kepada verba meliyankan yang bermakna ‘memperbedakan, mengasingkan, atau memarginalkan seseorang atau kelompok dari diri atau kelompoknya (karena dianggap inferior, lain SARA, bertentangan dengan norma, dan sebagainya), biasanya kerap dijuluki dengan atribut atau stereotipe negatif’. Definisi ini mungkin telah adekuat tetapi jika kita ingin melengkapi dengan kilasan ontologis, etis, dan psikologis maka kita dapat menuliskan definisi baru, ‘memperbedakan, mengasingkan, atau memarginalkan seseorang atau kelompok dari diri atau kelompoknya sebagai upaya memperoleh pengakuan, mekanisme pertahanan, menegakkan fungsi persatuan dan kontrol sosial, dan pengukuh ketidaksetaraan dan dominasi’. Usulan definisi tersebut, setidaknya, telah mencakupi pendapat pengakuan Hegel, mekanisme pertahanan Sartre dan Lacan, persatuan dan kontrol sosial Edward Said, serta ketidaksetaraan dan dominasi Sartre.

me.li.yan.kan   v memperbedakan, mengasingkan, atau memarginalkan seseorang atau kelompok dari diri atau kelompoknya (karena dianggap inferior, lain SARA, bertentangan dengan norma, dan sebagainya), biasanya kerap dijuluki dengan atribut atau stereotipe negatif

me.li.yan.kan   

⇢ usulkan makna baru

memperbedakan, mengasingkan, atau memarginalkan seseorang atau kelompok dari diri atau kelompoknya sebagai upaya memperoleh pengakuan, mekanisme pertahanan, menegakkan fungsi persatuan dan kontrol sosial, dan pengukuh ketidaksetaraan dan dominasi

Rujukan

Beauvoir, S. de. (1949). The Second Sex. Paris: Gallimard.

Hegel, G. W. F. (1807). Phenomenology of Spirit. Oxford: Oxford University Press (trans. A. V. Miller, 1977).

Sartre, J.-P. (1943). Being and Nothingness (trans. H. E. Barnes, 1956). New York: Philosophical Library.

Levinas, E. (1969). Totality and Infinity: An Essay on Exteriority (trans. A. Lingis). Pittsburgh, PA: Duquesne University Press.


Said, E. W. (1978). Orientalism. New York: Pantheon Books.


Foucault, M. (1977). Discipline and Punish: The Birth of the Prison (trans. A. Sheridan). New York: Pantheon Books.
Butler, J. (1990). Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity. New York: Routledge.

Wajah

Di pertengahan malam ia melepaskan wajahnya. Seperti

malam-malam terdahulu, ia basuh wajahnya di aliran air.

Sungai kecil sebelah rumah menghulu di pegunungan.

Melewati jurang dalam dan hutan-hutan sebelum terjatuh dari

ketinggian. Di tebing tinggi itu air jatuh, disaksikan

wajah-wajah yang berbeda setiap harinya. Wajah yang

memberi, wajah yang menghargai, hingga wajah yang tunduk.

Tak semua orang membasuh wajah di bawah tebing. Hanya

beberapa dan sebagian besar pulang. Hanya membawa cerita.

Seperti dirinya. Ia pulang dengan wajah yang tak basah. Wajah

yang sama untuk perjumpaan-perjumpaan. Hingga tengah

malam ia baru melepas dan membasuh wajahnya. Seperti ia

memercikkan pelan air ke wajah kekasihnya. Mengusap

lembut dengan lentik jemarinya. Dari dahi hingga ujung

dagunya. Tengah malam itu ia membayangkan nasib

wajah-wajang telanjang di keramaian. Ketika mereka bertemu

dengan liyan. Wajah-wajah itu kemudian berbincang

mengenai penindasan, penghinaan, pembunuhan, dan lain

sebagainya. Seketika ia terhenyak. Wajah di kedua tangannya

berseru, “Jangan bunuh aku”.

Cimenyan, 190318-kdp